KAB. SUMBA BARAT, NTT, || Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Waikabubak kembali menunjukkan hasil positif dari program pembinaan kemandirian melalui panen sayur pakcoy yang dilaksanakan di area asimilasi dan pembinaan pada Senin (27/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan keterampilan warga binaan sekaligus mendukung program ketahanan pangan yang tengah dikembangkan di lingkungan pemasyarakatan.
Panen dipimpin langsung oleh Kepala Lapas Kelas IIB Waikabubak, Lukas Soelistyoadi, didampingi Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak dan Kegiatan Kerja (Binadik dan Giatja), A. Azis, serta Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja, Hendrik Susanto. Seluruh proses budidaya, mulai dari penyemaian benih, penanaman, perawatan hingga panen, dilakukan oleh warga binaan di bawah pendampingan petugas.
Kepala Lapas Kelas IIB Waikabubak, Lukas Soelistyoadi, mengatakan program pembinaan pertanian merupakan salah satu bentuk pembinaan yang tidak hanya menghasilkan produk pertanian, tetapi juga membangun karakter warga binaan.
Menurutnya, melalui kegiatan tersebut warga binaan dilatih untuk memiliki disiplin, rasa tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta etos kerja yang baik. Keterampilan yang diperoleh selama menjalani masa pidana diharapkan menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
“Pembinaan kemandirian seperti ini diharapkan mampu memberikan pengalaman kerja yang bermanfaat sehingga warga binaan memiliki peluang untuk hidup lebih mandiri setelah selesai menjalani masa pidana,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Binadik dan Giatja, A. Azis, menjelaskan bahwa budidaya pakcoy dipilih karena relatif mudah dikembangkan, memiliki masa panen yang singkat, serta memberikan manfaat ekonomi.
Ia menyebut hasil panen tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan di lingkungan Lapas, tetapi juga memiliki potensi untuk dipasarkan sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi program pembinaan.
Di sisi lain, Kepala Sub Seksi Kegiatan Kerja, Hendrik Susanto, menilai keberhasilan panen merupakan hasil kerja sama yang baik antara petugas dan warga binaan dalam mengelola lahan pertanian secara berkelanjutan.
Menurut Hendrik, pengalaman praktik langsung di bidang pertanian menjadi modal penting bagi warga binaan yang ingin bekerja atau berwirausaha setelah bebas. Selain memperoleh keterampilan teknis bercocok tanam, mereka juga dibiasakan memahami proses produksi, perawatan tanaman, hingga masa panen.
Program pembinaan kemandirian melalui sektor pertanian merupakan salah satu bentuk implementasi pembinaan yang menitikberatkan pada peningkatan kompetensi dan produktivitas warga binaan. Melalui kegiatan tersebut, Lapas berupaya menciptakan lingkungan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada pembinaan kepribadian, tetapi juga penguasaan keterampilan yang memiliki manfaat nyata bagi kehidupan mereka di masa mendatang.
Keberhasilan panen pakcoy ini sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan kualitas pembinaan di seluruh lembaga pemasyarakatan.
Melalui program yang berkelanjutan, Lapas Kelas IIB Waikabubak berharap warga binaan dapat kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih produktif, memiliki keterampilan kerja, serta mampu berkontribusi secara positif bagi lingkungan sekitarnya.
Kegiatan panen berlangsung lancar dengan melibatkan petugas dan warga binaan dalam suasana penuh semangat. Ke depan, Lapas Kelas IIB Waikabubak berkomitmen terus mengembangkan berbagai program pembinaan berbasis keterampilan sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem pemasyarakatan yang lebih produktif, humanis, dan berorientasi pada proses reintegrasi sosial.
(Ms)






