Ketika Gambar dan Vidio AI Nyaris Sempurna, Kejujuran Jadi Barang Langka

Caption : Caption: M. Adhar Koresponden SERGAP.CO.ID

SERGAP.CO.ID

OPINI, || Revolusi kecerdasan buatan telah mengubah cara kita memproduksi dan mengonsumsi informasi. Dalam hitungan detik, AI mampu menghasilkan teks, gambar, hingga video yang nyaris tidak bisa dibedakan dari karya manusia. Kecepatan ini memang menguntungkan, tetapi di sisi lain ia juga membawa risiko besar: erosi kepercayaan publik.

Bacaan Lainnya

Di tengah derasnya arus konten, kejujuran justru menjadi barang yang paling mudah hanyut. Setiap menit, ribuan unggahan baru membanjiri media sosial. Tidak semuanya lahir dari fakta. Tidak sedikit yang merupakan hasil rekayasa algoritma.

Dampaknya nyata dan terasa dalam tiga ranah utama kehidupan.

Pertama, di bidang ekonomi. Pelaku UMKM yang bekerja jujur dan menampilkan produk apa adanya harus bersaing dengan konten digital yang menggunakan gambar hasil AI. Algoritma platform cenderung memihak pada tampilan yang “sempurna”, bukan pada kebenaran. Akibatnya, pasar menjadi tidak sehat.

Kedua, di bidang sosial. Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 12 melarang kita berprasangka. Namun di ruang digital, prasangka justru dipelihara. Satu konten AI yang provokatif dapat memicu ribuan komentar penuh tuduhan, tanpa ada upaya tabayyun atau klarifikasi terlebih dahulu.

Ketiga, di bidang pendidikan. Relasi guru dan murid yang selama ini dibangun di atas kepercayaan, kini diuji. Muncul kecurigaan: apakah tugas ini asli atau buatan AI? Ketika kepercayaan retak, proses belajar pun kehilangan ruhnya.

Menghadapi tantangan ini, kita tidak bisa hanya mengandalkan regulasi atau teknologi. Diperlukan etika digital yang dihidupi bersama. Setidaknya ada tiga prinsip yang bisa menjadi pegangan: Jeli, Jernih, dan Jujur.

Jeli adalah literasi teknis. Sebelum membagikan informasi, tahan sejenak. Cek sumbernya, tanggal kejadiannya, dan kejanggalan visual yang sering muncul pada gambar AI seperti jumlah jari atau bayangan yang tidak wajar. Jeli bukan berarti paranoid. Jeli berarti menolak menjadi kurir kebohongan.

Jernih adalah tabayyun. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Hujurat ayat 6, kita diperintahkan untuk meneliti kebenaran berita. Di era yang memuja kecepatan, memilih untuk jernih adalah tindakan paling radikal. Karena kecepatan tanpa ketepatan pada akhirnya hanya akan menyesatkan publik.

Jujur adalah integritas. Jika sebuah konten dibuat dengan bantuan AI, maka harus ada keterbukaan. Jika terjadi kesalahan, harus ada keberanian untuk meralat. Memang, kejujuran mungkin kalah dalam pertarungan algoritma hari ini. Namun dalam jangka panjang, hanya kejujuran yang mampu memenangkan kepercayaan.

Seperti kata bijak: “Kecurigaan adalah pelampung. Pakailah agar tidak tenggelam. Kejujuran adalah mercusuar. Nyalakanlah agar orang lain tidak karam.”

Teknologi tidak bisa dihentikan. Tetapi arah penggunaannya ada di tangan kita. Di tengah banjir AI, masyarakat dihadapkan pada dua pilihan: menjadi arus yang menghanyutkan, atau menjadi mercusuar yang memberi arah. Pilihan ada pada kita.

(Asmadi BA)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *