ACEH SELATAN, || Takbir dan shalawat menggema hingga larut malam di Desa Kapa Sesak, Kecamatan Trumon Timur. Memasuki malam hari kedua, Kamis 16 Juli 2026, resepsi pernikahan Syahrul dan Zahratul Aulia mencapai puncaknya dengan penampilan Rapa’i Daboh. Seni tradisional Aceh ini menjadi bukti bahwa dakwah bisa disampaikan melalui budaya.
Zahratul Aulia diketahui merupakan putri dari M. Adhar, seorang jurnalis di media siber SERGAP.CO.ID untuk Perwakilan Aceh. Acara yang mengusung adat Aceh dan syariat Islam ini dihadiri ratusan tamu undangan.
Sejak Rabu pagi, orang tua mempelai laki-laki bersama keluarga besar tampak melayani tamu yang berhadir. Dengan penuh keramahan, mereka menyambut tamu di pintu masuk, mengantar ke tempat duduk, hingga memastikan jamuan tersaji dengan baik.
Acara hari pertama dimulai pukul 10.00 WIB dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan dilanjutkan prosesi Peusijuek atau tepung tawar. Seorang teungku memimpin doa dan menaburkan beras kunyit ke kepala kedua mempelai sebagai simbol tolak bala dan permohonan keberkahan.
Puncak kemeriahan terjadi saat grup Rapa’i Daboh tampil di pelaminan. Rapa’i merupakan alat musik gendang khas Aceh, sedangkan Daboh berarti debus atau kekebalan terhadap senjata tajam.
Di bawah pimpinan Khalifah Rapa’i Daboh, para pemain melantunkan zikir dan selawat yang diiringi pukulan gendang. Di bawah sorotan lampu pelaminan, satu per satu pemain menunjukkan atraksi menusuk perut dan tangan dengan benda tajam mirip obeng tanpa mengalami luka.
Atraksi ini disambut takbir, shalawat, dan tepuk tangan riuh dari para tamu yang memadati lokasi. Menurut tokoh adat, Rapa’i Daboh bukan sekadar hiburan, melainkan warisan budaya yang lahir dari tradisi zikir sufi dan menjadi media dakwah Islam di Aceh.
Momen haru juga terjadi saat M. Adhar selaku wali menyerahkan putrinya. “Alhamdulillah, dengan izin Allah hari ini kami titipkan amanah. Ananda Zahratul Aulia kami nikahkan kepada ananda Syahrul. Kami titipkan agama dan akhlak. Jaga dia dengan baik, bimbing dia di jalan Allah. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah,” ujar M. Adhar di kediaman mempelai laka laki.
Menjawab kepercayaan tersebut, Syahrul menyampaikan janji. “Bismillah, hari ini saya menerima amanah ini. Dengan pertolongan Allah, saya berjanji akan menjadi suami yang bertanggung jawab, menjaga, membimbing, dan menyayangi Zahra di jalan yang diridhoi-Nya. Mohon doa dari semua agar rumah tangga kami diberkahi,” ungkapnya.
Kedua mempelai tampil anggun dengan Baju Pengantin Aceh dan Jas Meukasah. Resepsi yang berakhir pada Jum’at 17 Juli 2026 pukul 11.00 WIB ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT menjadikan pernikahan ini awal dari keluarga yang diridhoi dan dikaruniai keturunan yang shalih dan shalihah.
(*)






