JAMBI, || Seperti kata pepatah,sepandai -pandainya menyimpan bangkai pasti tercium juga.Pelan tapi pasti dalam mengungkap kebenaran,begitulah yang terjadi dalam persoalan di pusaran PSR tahun 2023 di jambi belakangan ini yang menjadi sorotan publik.
Akibat tidak Transparannya Pelaksanaan Kegiatan PSR, kini Puluhan Anggota yang tergabung dalam. Kelompok Tani Amanah mengaku Kecewa terhadap Ketua Kelompok Tani tersebut atas Pendanaan, serta Pemeliharaan Peremajaan Sawit rakyat oleh Ketua Gapoktan, Syafrizal Sabila.
Puluhan Petani yang merasa kecewa ini membeberkan persoalan yang dialami mereka kepada Media, Sabtu (02/03/2024).
Kekecewaan bermula pada Pendanaan kegiatan program PSR yang mereka terima.Program yang diharapkan dapat meringankan, Ternyata anggota kelompok tersebut terpaksa harus merogoh kocek pribadi demi terciptanya lahan PSR mereka dengan baik.
Sementara menurut anggota kelompok, awalnya semua Kegiatan yang menyangkut PSR ini telah disepakati bersama dalam forum rapat rapat Kelompok tersebut.
Terkait Pembersihan lahan yang mencakup, Cuci Parit, dan Terasan, Pupuk, dan obat obatan guna menunjang Pertumbuhan benih agar dapat tumbuh dengan maksimal.
Namun belakangan yang terjadi dilapangan sangat berbeda dengan apa yang disepakati semula. Bahkan ,anggota Kelompok, membeberkan ada beberapa item Pekerjaan PSR tidak terlaksana dengan baik.Belum lagi,sebagian besar anggota Petani dari awal program PSR sudah harus merogoh kocek sendiri untuk membiayai Cuci Parit, Terasan, dan lain sebagainya. Dan ini salah satu yang membuat anggota kelompok tersebut mulai merasakan ke kecewaan atas Pelaksanaan PSR Gapoktan Amanah.
Supratno didampingi beberapa anggota kelompok lainnya mengatakan. Hingga saat ini mereka tidak pernah tahu Rencana Anggaran Biaya (RAB) Pelaksanaan PSR, meski kami selaku anggota Gapoktan tersebut.
Namun pernyataan ini dibantah oleh ketua Gapoktan Amanah, Syafrizal.Dengan mengatakan semua anggota kelompok menandatangani RAB tersebut.
Sementara dari kesepakatan sebelumnya,terkait Masa Pemeliharaan Awal, RAB Masa Tanam Belum Menghasilkan, dalam Kegiatan PSR, semua Pendanaannya dari BPDPKS yang dikelola secara Swadaya oleh anggota kelompok tani.
Supratno, dan kawan juga menjelaskan sejauh ini baru menerima Pupuk dasar, obat obatan, Pupuk Interflor, dan Uang sebesar Rp. 540.000 (Lima Ratus empat puluh ribu rupiah) sebagai Upah kerja untuk 2 hektar lahan, atau 1 kapling. Sedangkan untuk masa perawatan selama kurang lebih 9 bulan terahir ini. Menurut kelompok Tani, kalau dana untuk Pemeliharaan Lahan Sawit bakal kedepan sudah tidak ada lagi.
Keluhan kelompok tani juga diungkapkan terkait penggunaan pupuk Interflo,karena pupuk tersebut dinilai tidak memiliki efek yang baik bagi pertumbuhan Kelapa sawit. Dan lagi -lagi terpaksa anggota kelompok ini harus merogoh kocek pribadi guna membeli pupuk jenis lain.
Perbandingan penggunaan pupuk ini dibuktikan langsung oleh Sulaiman, dengan memberikan jenis Pupuk Interflor di beberapa batang sawit serta pupuk merek lain dibatang sawit lainya. Hasilnya, menurut Sulaiman pupuk Interflor tidak memiliki efek pertumbuhan yang baik.
Anehnya lagi, lanjut anggota kelompok Tani. Sebagian besar petani disodori Kwitansi kosong untuk dibubuhi tanda tangan tanpa tertera nominal. Terkait hal ini memang ada anggota kelompok yang menandatangani, dan sebagian anggota kelompok tani tidak mau menandatangani Kwitansi kosong tersebut, dikarenakan belum tahu Nominal atau besaran harga pupuk Interflor dipasaran. Seperti Sulaiman, dirinya tidak mau menandatangani Kwitansi tersebut sebelum dapat memastikan apa yang tertuang didalam Rencana Anggaran Biaya program PSR Gapoktan Amanah tersebut.
Berbeda dengan nasib anggota kelompok tani yang bernama Sarno.Yang membuat hati lebih miris. Sarno membeberkan kepada media, dilokasi lahan sawitnya, sembari menunjukkan lahan yang terlihat dikelilingi semak belukar dan tanaman kelapa sawit yang tampak tidak terawat. Semua ini, sengaja dilakukanya. Dikarenakan kecewa terhadap Ketua Gapoktan tersebut. Sarno mengatakan 1 hektar lahannya baru ditanami tujuh puluhan batang benih sawit, dan masih ada kekurangan sekitar tujuh puluhan batang lagi yang belum ditanam, dikarenakan benih/bibit sudah habis.Bahkan hingga kini belum ada jawaban dari ketua Gapoktan Syafrizal Sabilah terkait pengadaan kekurangan bibitnya.
Banyaknya keluhan yang dialami anggota kelompok tani di balik bantuan program PSR.
Menimbulkan asumsi miring kalau pelaksanaan Program PSR terebut ada yang tidak beres.
Asumsi ini juga diperkuat dengan hasil Monitoring Evaluasi Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Muaro Jambi pada Maret 2023 lalu. Dimana, hasil monev menegaskan, agar menyelesaikan Semua Pekerjaan Sebagaimana diatur dalam Kepmentan 26 Tahun 2021. Namun hal temuan tersebut, terkesan tidak diindahkan oleh Ketua Gapoktan.
Dari temuan awak media dilapangan,serta keluhan -keluhan para anggota kelompok tani,terkait RAB yang tidak mereka miliki, Kwintasi Kosong untuk ditanda tangani, dan lain sebagainya. Terkesan ada yang sengaja ditutup – tutupi oleh Gapoktan Amanah.Yang bermuara kepada Dugaan Korupsi Pelaksanaan Peremajaan Sawit Rakyat Tahun 2023 lalu.
Informasi yang didapat, Terkait Bantuan Kementan dalam Program PSR Tahun 2023 yang menjadi gunjingan.Perihal tudingan dugaan Korupsi, kini sedang ditangani Kejaksaan Tinggi Jambi.
Hingga berita ini ditayangkan, tim awak media masih menelusuri lebih lanjut.
(Maniur/Ranto)






