Krisis Petugas Kesehatan Lingkungan di Puskesmas Penkase Oelata: Hygiene Warung Dipertaruhkan, Solusi Digital Jadi Andalan

Caption : Kepala Puskesmas Penkase Oelata, dr. Yoseph M. Desipung

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || Sebuah celah kritis mengancam kesehatan publik di Kecamatan Alak, Kota Kupang. Puskesmas Penkase Oelata, yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan dasar bagi ribuan warga, saat ini beroperasi tanpa petugas Kesehatan Lingkungan (Kesling) tetap. Posisi vital yang bertanggung jawab memantau kualitas air, udara, dan higiene pangan tersebut kini hanya diisi oleh tenaga pinjaman dari puskesmas lain dan seorang mahasiswa magang.

Bacaan Lainnya

Kepala Puskesmas Penkase Oelata, dr. Yoseph M. Desipung, mengakui kerentanan ini.

“Petugas Kesling kita pinjam dari puskesmas lain, ditemani satu anak magang. Kalau tidak ada mereka, kami akan sangat kesulitan,” ungkapnya.

Ia menyebut ketergantungan pada tenaga pinjaman sebagai solusi darurat yang rapuh, namun terpaksa dilakukan demi menjaga efisiensi pengawasan lingkungan dengan sumber daya yang minim.

Ketiadaan petugas Kesling permanen bukan sekadar isu administratif, melainkan bom waktu bagi kesehatan masyarakat.

Dalam prinsip epidemiologi, pencegahan penyakit seperti diare dan keracunan makanan sangat bergantung pada inspeksi rutin terhadap tempat pengolahan pangan. Tanpa pengawasan profesional yang konsisten, risiko kontaminasi silang di warung-warung makan sekitar pemukiman padat penduduk meningkat drastis.

Menyadari bahaya tersebut, Puskesmas Penkase Oelata gencar mendorong pelaku usaha kuliner untuk memiliki Sertifikat Layak Sehat. Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa sebuah usaha telah memenuhi standar higienis minimal, mulai dari ketersediaan air bersih hingga pengelolaan limbah. Namun, hambatan ekonomi menjadi tembok tebal bagi pedagang kecil.

“Kendalanya adalah keterbatasan biaya pelatihan khusus dari dinas. Bagi pedagang kaki lima, biaya ini sering menjadi beban tambahan di tengah tipisnya margin keuntungan,” jelas dr. Yoseph.

Untuk menembus kebuntuan ini, Puskesmas Penkase Oelata mengambil terobosan inovatif: digitalisasi edukasi. Mereka berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menyediakan akses pelatihan online gratis bagi pemilik usaha yang terkendala biaya.

“Jika ada rumah makan yang terkendala biaya, kita upayakan mereka bisa ikut pelatihan online dan tetap mendapatkan Sertifikat Laik Sehat. Dengan demikian, mereka menjadi lebih waspada terhadap standar kebersihan tanpa harus mengeluarkan biaya besar,” tambah dr. Yoseph.

Langkah adaptif ini menunjukkan ketangguhan Puskesmas Penkase Oelata di tengah keterbatasan. Meski belum berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dan masih berjuang melengkapi infrastruktur dasar seperti Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), strategi preventif melalui teknologi menjadi napas baru dalam pengawasan kesehatan.

Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: seberapa jauh efektivitas pengawasan lingkungan jika hanya mengandalkan satu tenaga pinjaman dan relawan magang? Di tengah lonjakan populasi dan aktivitas ekonomi di wilayah perbatasan kota Kupang, setiap sertifikat laik sehat yang terbit adalah kemenangan kecil. Namun, tanpa rekrutmen petugas Kesling yang permanen dan dukungan anggaran memadai, kemenangan ini mungkin hanya bersifat sementara di tengah gelombang tantangan kesehatan yang terus bergulir.

(Desy)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *