Kemarau Tekan Pasokan Air, Babinsa Pahunga Lodu Dorong Pemerataan Irigasi

SERGAP.CO.ID

KAB SUMBA TIMUR, || Musim kemarau mulai menekan ketersediaan air bagi lahan persawahan di sejumlah wilayah Sumba Timur. Di tengah kondisi tersebut, Babinsa Koramil 03/Pahunga Lodu Kodim 1601/Sumba Timur, Serma Daniel Umbu Ndawa, mengajak para petani di Pintu Air Kapaka, Desa Tanamanang, Kecamatan Pahunga Lodu, mengedepankan pembagian air irigasi secara adil.

Bacaan Lainnya

Pesan itu disampaikan Serma Daniel saat melaksanakan komunikasi sosial (Komsos) bersama para petani, Minggu (13/9/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas persoalan kebutuhan air yang semakin penting bagi keberlangsungan tanaman padi selama musim kemarau.

Serma Daniel menekankan agar pembagian jatah air tidak hanya menguntungkan petani yang berada di lokasi tertentu, sementara petani lainnya kesulitan mendapatkan pasokan. Menurutnya, keterbatasan sumber daya air justru membutuhkan pengaturan dan kesepakatan bersama.

“Pembagian air harus dilakukan secara adil agar seluruh petani dapat merasakan manfaatnya. Mari kita saling membantu dan menjaga kebersamaan, sehingga kebutuhan air untuk persawahan dapat terpenuhi secara merata,” imbaunya.

Persoalan air bukan sekadar teknis

Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting bagi petani dalam mempertahankan produksi pertanian ketika curah hujan menurun. Karena itu, persoalan pembagian air tidak hanya berkaitan dengan teknis pengairan, tetapi juga menyangkut komunikasi dan kesepakatan antarpengguna air.

Dalam kondisi seperti ini, potensi persoalan dapat muncul ketika kebutuhan meningkat sementara pasokan terbatas. Karena itu, keterbukaan mengenai jadwal dan jatah pengairan menjadi penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara para petani.

Serma Daniel mendorong para petani untuk saling memahami kondisi lahan masing-masing dan menghindari sikap mementingkan kepentingan pribadi. Pengelolaan air secara teratur diharapkan dapat membantu tanaman padi tetap memperoleh pasokan yang dibutuhkan.

“Musim kemarau membutuhkan kepedulian dan kerja sama seluruh petani dalam mengelola sumber daya air yang tersedia,” ujarnya.

Di sisi lain, keberadaan Babinsa dalam persoalan tersebut menunjukkan bahwa pendampingan terhadap petani tidak hanya berhenti pada kegiatan pertanian di lapangan. Komunikasi dengan masyarakat juga diperlukan untuk mengetahui kendala yang dihadapi petani, termasuk persoalan keterbatasan air.

Kegiatan Komsos ini menjadi bagian dari upaya Babinsa mendukung ketahanan pangan di wilayah binaannya. Namun, keberhasilan menjaga produktivitas pertanian tentu tidak hanya bergantung pada pendampingan aparat. Pengaturan irigasi yang efektif juga membutuhkan koordinasi antara petani, pengelola jaringan irigasi, pemerintah desa, serta pihak terkait lainnya.

Dengan demikian, pesan pemerataan air di Pintu Air Kapaka menjadi penting di tengah tekanan musim kemarau. Bagi petani, air bukan sekadar kebutuhan produksi, melainkan penentu keberlangsungan tanaman dan pendapatan keluarga.

Ke depan, masyarakat tentu berharap koordinasi tersebut tidak berhenti pada imbauan, tetapi diwujudkan melalui pengaturan distribusi air yang jelas, adil, dan dapat dipantau bersama. Dengan pengelolaan yang transparan serta semangat gotong royong, keterbatasan air diharapkan tidak berkembang menjadi persoalan sosial di antara petani.

(Pendim 1601 ST/Ms)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *