SUBULUSSALAM, ACEH, || Ibadah kurban kembali dilaksanakan umat Islam pada 10–13 Dzulhijjah. Bagi yang mampu, kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi memiliki tujuan mulia yang sarat makna spiritual dan sosial.
Ibadah ini selalu hadir setiap Hari Raya Idul Adha tiba. Di balik prosesi penyembelihan, terdapat nilai-nilai mendalam yang menyentuh aspek keagamaan, spiritual, dan kehidupan sehari-hari. Sayangnya, masih banyak yang memaknai kurban hanya sebagai tradisi tahunan tanpa memahami tujuan utamanya.
“Masalahnya, banyak orang berhenti di ritual sembelih saja. Padahal tujuan kurban itu mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan, meneladani Nabi Ibrahim, dan berbagi kepada sesama. Kalau niatnya sudah lurus, insyaallah kurban itu hidup dan memberi dampak,” ujar Tgk Agustari Husni, S.Pd.I., M.Pd pada Sergap.co.id, Rabu (27/05/2026).
Menurut Tgk Agustari, kurban mengajarkan tiga hal besar sekaligus. Pertama ketaatan tanpa syarat kepada Allah SWT. Kedua, melatih jiwa untuk berkorban demi sesuatu yang lebih tinggi. Ketiga, membangun kepedulian sosial agar kebahagiaan Idul Adha dirasakan merata, terutama oleh fakir miskin dan dhuafa.
Secara bahasa, kurban berasal dari kata qaruba yang berarti “dekat”. Dari sini terlihat jelas bahwa ibadah ini adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui penyembelihan hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, atau unta pada waktu yang telah ditentukan.
Selain itu, kurban juga memiliki hikmah praktis bagi kehidupan masyarakat. Ibadah ini mensucikan harta dari sifat kikir, menghidupkan syiar Islam lewat pelaksanaan bersama, menumbuhkan empati, melatih keikhlasan, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan setiap Muslim dapat menjalankan kurban lebih optimal pada Idul Adha 1447 H/2026. Momentum ini menjadi kesempatan untuk berkurban terbaik dan memberi manfaat lebih luas bagi sesama, imbuh Tgk. Agustari Husni.
(M. Adhar)






