Beutong Ateuh Banggalang, Antara Sejarah dan Rencana Tambang

Opini oleh: M. Hasanuddin, Wartawan 30 Tahun Berkiprah di Jurnalistik

OPINI

KAB. NAGAN RAYA, ACEH, || Penolakan warga Beutong Ateuh Banggalang terhadap rencana aktivitas pertambangan di wilayahnya tidak muncul secara tiba-tiba. Setelah 30 tahun meliput Aceh, saya menilai sikap ini berakar pada tiga hal: sejarah, trauma kolektif, dan logika ruang hidup.

Bacaan Lainnya

Pertama, soal sejarah. Beutong dikenal dalam catatan sejarah lokal sebagai salah satu tempat bertahan terakhir Cut Nyak Dhien sebelum ditangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa. Mengubah bentang alamnya menjadi kawasan tambang berpotensi menghapus jejak sejarah yang masih hidup dalam ingatan masyarakat.

Kedua, soal trauma. Peristiwa 1999 yang menewaskan ulama Aceh Tgk. Bantaqiah bersama para santri dan warga sipil masih menjadi luka kolektif warga Beutong. Penyelesaian dan pemulihan atas peristiwa tersebut hingga kini terus menjadi harapan masyarakat. Menempatkan industri ekstraktif di atas tanah yang belum pulih secara psikologis berisiko memperpanjang konflik.

Ketiga, soal ruang hidup. Beberapa waktu lalu banjir bandang melanda Beutong dan merusak rumah serta kebun warga. Hingga kini, banyak keluarga masih berjuang memulihkan kehidupan. Di tengah kondisi itu, wacana tambang masuk dengan janji investasi dan lapangan kerja. Pertanyaannya sederhana: pembangunan untuk siapa, dan dengan mengorbankan apa?

Menurut keterangan yang disampaikan Ismail Zed, pemuda setempat, sikap warga sebenarnya jelas. Mereka tidak menolak pembangunan. Yang mereka tolak adalah model pembangunan yang mencabut akar sejarah dan merusak keberlanjutan hidup. Pembangunan yang sehat seharusnya memperkuat identitas, bukan menghapusnya.

Karena itu, permintaan warga agar Kementerian ESDM turun langsung ke Beutong Ateuh Banggalang patut didengar. Dialog terbuka diperlukan sebelum izin diterbitkan, agar wilayah ini tidak menjadi “lahan percobaan” atas nama investasi.

Beutong adalah warisan leluhur, ruang hidup, dan bukti sejarah perjuangan Aceh. Menjaganya adalah tanggung jawab bersama antara warga dan negara.

Jika pembangunan hanya berarti menukar sejarah dengan lubang tambang, maka kita sedang kehilangan arah.

(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *