SERGAP.CO.ID
KUPANG, || Rektor, pendeta, dan seluruh keluarga besar Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 Kupang merayakan Natal bersama dalam suasana penuh kekhidmatan dan refleksi iman. Perayaan Natal ini menjadi momentum untuk memaknai kembali kehadiran Allah sebagai Imanuel—Allah yang hadir untuk menyelamatkan umat-Nya—sekaligus ajakan membangun persatuan dan pemulihan di tubuh institusi.
Dalam renungan Natal yang merujuk pada Kitab Matius 1:21–24 serta Kisah Para Rasul 2:46–47, ditekankan bahwa kelahiran Yesus membawa pesan keselamatan, pemulihan, dan hidup dalam kesatuan hati, sebagaimana diteladankan oleh jemaat mula-mula. Allah hadir bukan hanya untuk menyelamatkan secara spiritual, tetapi juga memulihkan kehidupan keluarga, yang disebut sebagai gereja kecil pertama.
Pendeta yang memimpin ibadah menegaskan bahwa dalam realitas kehidupan, termasuk di lingkungan organisasi dan institusi, berbagai tekanan dan dinamika perbedaan kerap menguji persatuan.
Karena itu, melalui tema Natal, seluruh civitas akademika UPG 1945 ditantang untuk menjadi agen perubahan, membangun lembaga ini dengan meninggalkan ego pribadi dan berfokus pada tujuan bersama.
“Keselamatan yang telah kita terima seharusnya mendorong tindakan nyata, bukan hanya perkataan. Bersatu hati membangun UPG 1945 dengan komitmen mencerdaskan anak-anak bangsa, khususnya di Nusa Tenggara Timur,” ungkapnya.
Makna Allah hadir sebagai Penyelamat juga dimaknai sebagai panggilan untuk hidup dalam pemulihan tidak lagi diliputi keraguan, fitnah, dan perpecahan, tetapi berjalan dalam kesatuan dan kasih. UPG 1945 diharapkan menjadi keluarga Kristen yang sehat, bersatu, dan menjadi berkat bagi masyarakat luas, sesuai dengan talenta dan panggilan masing-masing.
Sementara itu, Rektor UPG 1945 dalam sambutannya menegaskan bahwa UPG 1945 adalah satu keluarga besar yang memiliki tujuan yang sama. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang pendidikan dan tempat belajar, tetapi juga memiliki fungsi sosial untuk menghadirkan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Tokoh UPG 1945, Sam Haning, dalam refleksinya mengajak seluruh civitas akademika untuk melakukan evaluasi diri.
Ia menyebut tahun 2025 sebagai tahun introspeksi, dan mengajak agar tahun 2026 menjadi momentum kembali ke jalan yang benar dengan semangat kerja nyata.
“Lembaga ini butuh orang-orang yang mau kerja-kerja, bukan malas-malasan. Tahun depan kami akan mengusulkan tiga program doktor sebagai bagian dari penguatan kualitas institusi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar seluruh keluarga besar UPG 1945 menghentikan isu-isu yang merusak persatuan, tidak saling memfitnah, serta tidak memutarbalikkan fakta. Natal, katanya, harus lahir dari hati dan diwujudkan dengan menjadi “lilin kecil” yang menerangi sekitar.
“Marilah kita lakukan restorasi dan perubahan di lembaga UPG 1945. Kembali melayani dengan komitmen bersama, bersatu hati membangun kampus ini,” pungkasnya.
(Dessy)
Perayaan Natal ini menjadi pengingat bahwa dari kehancuran dan tantangan, selalu ada harapan baru ketika iman, persatuan, dan komitmen diwujudkan dalam tindakan nyata.






