Refleksi 71 Tahun KAA di Savoy Homann: Ledia Hanifa, Kemenbud, dan Wali Kota Farhan Tegaskan Diplomasi Budaya Pilar Ketahanan Nasional
*BANDUNG* – Pemerintah Kota Bandung bersama Kementerian Kebudayaan RI dan Komisi X DPR RI menggelar Forum Refleksi 71 Tahun Konferensi Asia Afrika di *Hotel Savoy Homann, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung*, Minggu (19/4/2026).

Forum bertema _“Budaya sebagai Bahasa Universal dan Pilar Ketahanan Nasional” ini menghadirkan tiga narasumber utama:
1. Ledia Hanifa Amaliah – Anggota DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Komisi X yang membidangi Pendidikan, Pemuda, Olahraga, Ekonomi Kreatif, dan Pariwisata
2. Anton – Perwakilan *Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia*, kementerian yang dipimpin Menteri Fadli Zon
3. Muhammad Farhan – Wali Kota Bandung periode 2025-2030, dilantik 20 Februari 2025
Budaya Bukan Sekadar Seremoni
Ledia Hanifa Amaliah menegaskan ketahanan nasional tidak bisa hanya bertumpu pada kekuatan militer dan ekonomi.
“Kekuatan sebuah negara sering diukur dari militer dan ekonomi. Tapi kita lupa, budaya justru menyimpan potensi besar. Ketahanan nasional dibangun bukan hanya oleh kekuatan ekonomi dan militer, tapi juga budaya,” ujar Ledia.
Ia mengkritik penyempitan makna diplomasi budaya. “Budaya bukan hanya tukar menukar makanan, tukar menukar baju. Budaya adalah bahasa universal. Dari budaya lahir ekspresi, jembatan, dan solidaritas. Ini yang harus kita realisasikan dalam politik,” tegasnya.
Ledia menyebut semangat Dasasila Bandung relevan menghadapi konflik global hari ini. “71 tahun lalu negara-negara baru merdeka dengan keragaman budaya datang menunjukkan keberpihakan: tidak memihak blok. Proklamasi Dasasila Bandung penting. Budaya bisa jadi solusi konflik hari ini,” katanya.
*Identitas untuk Bergandengan, Bukan Bersaing*
*Anton* dari *Kementerian Kebudayaan RI* menyoroti munculnya kembali politik kekuatan di panggung global.
“Saat ini mulai muncul lagi sejumlah kekuatan yang merasa lebih daripada negara-negara lain. Ini semestinya tidak terjadi. Kita sudah berhasil dengan KAA dan Dasasila Bandung,” kata Anton.
Menurutnya, identitas sosial harus jadi alat pemersatu. “Setiap negara pasti menunjukkan identitas sosialnya. Identitas itu bukan untuk menunjukkan saya lebih dari yang lain, tapi bagaimana identitas itu kita pergunakan untuk bergandengan tangan membangun dunia yang lebih baik,” ujarnya.
Anton menegaskan posisi Indonesia. “Indonesia bisa jadi jembatan. Budaya sebagai tahun menjadikan lagi. Dibawa ayah bapana yang bagaimana kita realisasikan dalam politik? Itu tugas kita,”pungkasnya.
Bandung: Ibu Kota Diplomasi Budaya
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut Jalan Asia Afrika dan Savoy Homann adalah simbol hidup diplomasi Indonesia.
“Bersama Pak Wali ada beberapa kali kita ngomong tentang budaya. Ini menarik. Kenapa seringkali kita mengukur kekuatan negara pasti dari militer, tapi lupa budaya itu senjata lunak yang besar,” ujar Farhan.
Mantan Anggota DPR RI Fraksi NasDem periode 2019-2024 itu membuka pintu kolaborasi. “Budaya menggabungkan dua hal: harta dan martabat. Ini resep bagaimana suatu negara punya ketahanan di percaturan global. Bandung terbuka. Silakan, Savoy Homann, Balai Kota, kita pakai untuk diskusi seperti ini,” katanya.
“Kegiatan seperti ini harus ditingkatkan. Di mana nanti kumpul, silakan. Bandung selalu terbuka lebar. Jangan perlakukan Bandung cuma seremoni. Ini diplomasi nyata,”tegas Farhan.

*Penutup: Dari Bandung untuk Dunia*
Forum ini menegaskan: 71 tahun pasca KAA 1955, Dasasila Bandung tetap relevan. Tiga narasumber sepakat, di tengah dunia yang kembali terpolarisasi, diplomasi budaya adalah jalan tengah Indonesia.
“Bukan hanya harta yang kita utamakan, tapi bagaimana kiranya budaya jadi solusi. Indonesia bisa menjadi fasilitator,” tutup *Ledia Hanifa Amaliah*.
(Wie) **
*Bandung, 19 April 2026*
*Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung*
Narahubung: [Nama Pejabat Humas]
Telp: (022) XXX-XXXX
Email: diskominfo@bandung.go.id
*Tembusan:*
1. Kementerian Kebudayaan RI
2. Sekretariat Komisi X DPR RI
3. Pimpinan Fraksi PKS DPR RI
*LAMPIRAN DATA ACARA*
1. *Nama Kegiatan*: Forum Refleksi 71 Tahun Konferensi Asia Afrika
2. *Tema*: Budaya sebagai Bahasa Universal dan Pilar Ketahanan Nasional
3. *Waktu*: Minggu, 19 April 2026, Pukul 14.00 WIB
4. *Tempat*: Hotel Savoy Homann, Jl. Asia Afrika No. 112, Bandung
5. *Narasumber*:
– *Ledia Hanifa Amaliah*, Anggota DPR RI Fraksi PKS, Komisi X
– *Anton*, Kementerian Kebudayaan RI
– *Muhammad Farhan*, Wali Kota Bandung
—
*Kutipan Resmi untuk Media:*
1. *Ledia Hanifa Amaliah*: _“Budaya bukan hanya tukar menukar makanan, tukar menukar baju. Budaya adalah bahasa universal.”_
2. *Anton, Kemenbud RI*: _“Identitas sosial bukan untuk menunjukkan saya lebih dari yang lain, tapi untuk bergandengan tangan membangun dunia yang lebih baik.”_
3. *Muhammad Farhan*: _“Budaya senjata lunak yang besar. Bandung selalu terbuka lebar untuk diplomasi nyata.”_






