Dari Debu ke Harapan: Menutup FSS 2025 dengan Sastra dan Refleksi Bencana

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || “Tahun depan, Komunitas Dusun Flobamora akan merayakan usia yang ke-15 tahun, kami berupaya menghadirkan pameran arsip yang merefleksikan setiap jejak sastra kami yang berguna bagi masyarakat NTT juga Indonesia,” kata Saddam.

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut, ia turut mengucapkan terima kasih kepada setiap pihak yang telah mendukung kelancaran kegiatan FSS V 2025, sebagai tanda kontribusi bersama dalam menghidupkan dan menyebarkan semangat sastra yang berkelanjutan.

“Tema ‘Sastra dan Bencana’ senantiasa mengingatkan kita masyarakat NTT bahwa bencana selalu terjadi dalam kehidupan. Tetapi, kita juga harus tetap menumbuhkan harapan bahwa di balik semua bencana selalu ada harapan. Sastra punya tempat untuk mendokumentasikan sekaligus merefleksikan semua bencana yang terjadi dalam kehidupan kita,” kata Saddam.

Melalui diskusi buku tersebut, FSS mengajak peserta menelusuri pengalaman bencana baik secara personal maupun komunal dari sudut pandang yang beragam dan kontekstual.

Pada diskusi buku kedua, “Tumbuh dari Debu Berkembang dalam Badai” menghadirkan dua narasumber, RD Leonardus Mali dan Pieter Kembo, penulis buku.

Diskusi buku pertama, “Seroja Mekar di Telaga Duka” menghadirkan dua narasumber Mario F. Lawi dan Paoina Bara Pa, editor buku.

Pada hari kedua, FSS menghadirkan sesi “Bencana Sebagai Metafora” yang membahas dua buku puisi terbitan Penerbit Dusun Flobamora.

Ia mengatakan, FSS telah menjadi ruang untuk mengumpulkan peminat sastra dari tingkat SMP dan SMA yang memiliki komunitas literasi di sekolahnya, serta sejumlah komunitas seni yang ada di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya.

“Selama dua hari ini kami mendiskusikan tema ‘Sastra dan Bencana’ serta tindak lanjut nyata maupun dampak sosial yang bisa kita wujudkan dalam kehidupan harian,” kata dia.

Ketua Panitia FSS V 2025, Saddam HP, mengatakan hari kedua tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian kegiatan festival yang berlangsung pada 19-20 September 2025 di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

FSS seri kelima ini, terlaksana atas dukungan Direktorat Pengembangan Budaya Digital, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI.

Komunitas Sastra Dusun Flobamora sukses menggelar hari kedua Festival Sastra Santarang (FSS) dengan rangkaian kegiatan diskusi buku yang semakin memperdalam tema utama kegiatan tahun ini, “Sastra dan Bencana”.

(Dessy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *