KUPANG, || Di sebuah aula yang tenang di jantung Kota Kupang, Rabu (23/7/2025), ratusan hati berkumpul dalam satu irama: harapan.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Dinas Sosial Kota Kupang, OJK NTT, dan PT Bank Rakyat Indonesia Kantor Cabang Kupang bersinergi, bukan sekadar untuk menyosialisasikan program, tetapi menyulam kisah cinta negara kepada rakyatnya melalui Bantuan Sosial Non Tunai (BSNT).
Plt Kepala Dinas Sosial Kota Kupang, Bernadinus Mere, menyambut para peserta dengan senyum hangat. Dalam sambutannya, ia berkata,
“Tujuan sosialisasi dan edukasi ini bukan hanya administrasi belaka, tapi tentang bagaimana dana dari negara ini bisa diolah secara efektif dan menyentuh hati mereka yang membutuhkan.”Ungkapnya.
Bansos, dalam bentuk Program Keluarga Harapan (PKH) dan sembako, kini bukan hanya soal logistik dan angka. Ada cinta yang ingin dipastikan sampai tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat guna. Inilah bukti bahwa negara tak pernah lelah memeluk warganya, terlebih mereka yang selama ini menanti uluran tangan.
Para peserta ibu-ibu dari Kelurahan di Kecamatan Kota Raja, pendamping PKH, TKSK, agen BRILink—tak hanya datang dengan buku catatan dan pulpen. Mereka datang dengan mata berbinar dan semangat yang menyala. Mereka tahu, program ini lebih dari sekadar transaksi. Ini adalah jembatan menuju martabat dan harapan.
Pratyaksa Candraditya, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, menegaskan bahwa dalam era digital ini, cinta negara pun harus melek teknologi.
“Kami ingin para penerima manfaat memahami layanan perbankan dan pembayaran digital, agar mereka bisa menjadi bagian dari masyarakat digital yang mandiri,” ujarnya lembut.
Cinta sejati memang butuh perlindungan. Karena itu, edukasi soal data pribadi menjadi perhatian utama.
“Tak hanya soal kartu ATM atau QR Code, tapi juga soal menjaga informasi pribadi agar tidak jatuh ke tangan yang salah,” lanjut Pratyaksa, menatap para peserta dengan sorot mata meyakinkan.
Program BSNT bukanlah sepotong kebijakan yang kaku. Ia hadir sebagai jalinan kasih untuk para lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak sekolah yang ingin meraih mimpi. Melalui PKH, negara ingin memastikan bahwa tak ada yang tertinggal di tengah laju zaman.
Sementara itu, bantuan sembako hadir dengan kehangatan yang berbeda. Seolah menjadi pelukan yang menenangkan di tengah derasnya harga pasar. Sebungkus beras, sebotol minyak, dan sebongkah harapan itulah rupa cinta dalam bentuk paling sederhana.
BI juga mengemban peran sebagai pengawas dan penjaga konsistensi. Melalui monitoring rutin, BI memastikan cinta ini tak salah arah, tak salah sasaran, dan tetap hangat dalam setiap penyaluran. Semua dijalankan sesuai amanat Perpres No. 63 Tahun 2017.
Bagi peserta, kegiatan ini bukan hanya sosialisasi—melainkan pengalaman batin. Sebuah pengakuan bahwa mereka berharga, bahwa negara hadir dalam keseharian mereka, dalam bentuk yang tak selalu glamor, tapi selalu tulus.
“Kalau dulu kita hanya tahu terima dan habis, sekarang kita diajarkan cara mengelola. Supaya bantuan ini jadi berkah, bukan cuma numpang lewat,” ujar Maria, salah satu penerima manfaat, dengan mata yang berkaca-kaca.
Di tengah deru digitalisasi, ketika dunia makin cepat dan kadang dingin, rupanya masih ada ruang untuk cinta yang lembut dan nyata cinta yang turun dari anggaran negara, hadir di rekening rakyat, dan tumbuh di hati mereka. Cinta yang bernama Bantuan Sosial Non Tunai.
(Dessy)






