Cinta dan Alam Menyatu: Calon Pengantin Tanam Pohon di KUA Bungursari sebagai Simbol Ekoteologi

Cinta dan Alam Menyatu: Calon Pengantin Tanam Pohon di KUA Bungursari sebagai Simbol Ekoteologi

SERGAP.CO.ID

KOTA TASIKMALAYA, || Dua pasangan calon pengantin di Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya menanam pohon sebagai simbol cinta dan komitmen terhadap lingkungan hidup dalam sebuah kegiatan bernuansa ekoteologi, Rabu (16/07/2025). Kegiatan ini digagas oleh Kementerian Agama RI sebagai bagian dari penguatan nilai spiritual dan ekologis dalam kehidupan berumah tangga.

Bacaan Lainnya

Program ini merupakan implementasi dari gagasan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., yang mengusung konsep ekoteologi pemahaman teologis yang menekankan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Penanaman pohon menjadi bentuk ibadah ekologis yang menyatukan cinta pasangan dengan tanggung jawab moral terhadap kelestarian lingkungan.

Calon pengantin yang berpartisipasi, Andri dan Siti Rohiman serta Kadarisman dan Chintia, menanam pohon di halaman Kantor Urusan Agama (KUA) Bungursari. Mereka menanam masing-masing satu pohon sebagai simbol hubungan yang diharapkan tumbuh kokoh, berakar kuat, dan memberi manfaat bagi kehidupan sekitar.

Prosesi dimulai dengan penjelasan makna penanaman pohon oleh petugas KUA. Ditekankan bahwa kegiatan ini bukan hanya simbolis, tetapi juga menyiratkan pesan spiritual tentang pentingnya mencintai bumi sebagai bentuk ibadah, serta membangun rumah tangga dengan keseimbangan antara cinta, tanggung jawab, dan kesadaran ekologis.

Filosofi yang melandasi kegiatan ini adalah “Pohon Kehidupan,” di mana setiap individu diharapkan menjalani perjalanan hidup dengan harmoni antara jiwa dan raga, spiritualitas dan ekosistem. Cinta, sebagaimana pohon, memerlukan perawatan, sinar, air dan komitmen agar tetap tumbuh serta memberi manfaat.

Menurut salah satu peserta, kegiatan ini memberi pengalaman mendalam dan berbeda dalam menyambut pernikahan. “Ternyata cinta juga bisa dirayakan dengan mencintai alam,” ungkapnya haru, menyiratkan keterkaitan erat antara hubungan personal dengan tanggung jawab sosial dan ekologis.

Kepala KUA Bungursari H. Hendra, S. Ag, mengapresiasi semangat para calon pengantin dan berharap kegiatan ini menjadi tradisi baru dalam bimbingan pranikah. “Kami ingin menjadikan cinta tidak hanya sakinah, mawaddah, warahmah, tapi juga ramah lingkungan,” tegasnya.

Secara umum, kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran kolektif bahwa pelestarian lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan dan sosial. Secara khusus, calon pengantin diharapkan menjadi pelopor gerakan cinta lingkungan dalam lingkup rumah tangga dan masyarakat.

Melalui langkah kecil namun bermakna ini, KUA Bungursari menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang holistik dan transformatif di mana cinta, iman, dan alam bersatu dalam keharmonisan yang lestari.

(Rizal)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *