Tragedi Kanjuruhan, Disertai Represif?

Oleh: Widdiya  Permata Sari

(Komunitas Muslimah Perindu Surga)

Bacaan Lainnya

OPINI, || Dibulan  oktober tahun ini negeri kita di kabarkan dengan berita yang menggemparkan negeri ini bahkan sampai seluruh negara di dunia kenapa tidak menggemparkan karena banyak korban meninggal sampai ratusan orang akibat pertandingan bola.

Sedikitnya 129 orang dilaporkan tewas setelah terjadi kerusuhan suporter di Kanjuruhan, Malang pada Sabtu (1/10/2022).

Nyatanya, kerusuhan suporter di stadion sepak bola hanya pernah terjadi di Indonesia.

Stadion di berbagai negara lain juga pernah menjadi saksi bisu tragedi yang menyesakkan dunia olahraga ini.(kompas.com, 02/10/2022)

Awal kejadian ini berawal dari pertandingan arema fc melawan presibaya yang berakhir dengan kelelahan arema fc, sehingga ini menjadi kali pertama presibaya memenangkan pertandingan melawan arema fc setelah berjalan hampir 23 tahun.

Kekalahan itu menyulut amarah suporter yang hadir di Kanjuruhan, berhamburan turun ke area lapangan dan disambutlah dengan gas air mata oleh aparat, dan yang paling miris tembakan gas air mata tersebut tidak hanya ditembakkan ke lapangan untuk mengurai massa tetapi ditembakkan pula kepada suporter yang ada di atas lapangan.

Sehingga tembakan tersebut diduga kuat sebagai pemicu tewasnya ratusan orang. Disisi lain  tragedi ini menunjukan tindakan represif aparat dalam menangani kasus kerusuhan yang terjadi. Hal ini nampak pada penggunaan gas air mata yang sejatinya dilarang penggunaannya dalam pertandingan sepak bola.

Kondisi ini sangat memprihatinkan karena banyak sekali korban jiwa yang melayang begitu saja, parah jelas-jelas mereka tidak bersalah tapi aparat tetap menyiramkan gas air mata kepada penoton yang jelas-jelas berada di kursi penonton.

Inilah wajah pemimpin dalam sistem demokrasi penegasan rejim yang berkomitmen menegakan HAM justru dinodai prilaku rezim sendiri yang represif terhadap masyarakat dengan berdalih menjaga keamanan masyarakat, mereka justru merebut hak hidup rakyat.

Berbeda dengan sistem Islam, kekuasan dalam Islam adalah  institusi yang menerapkan syariat Islam secara praktis sehingga akan terwujud dengannya  rahmat ke seluruh alam.

Khilafah akan merepkan syariat islam yang salah satu fungsinya menjaga jiwa manusia. Menurut islam jangankan pembunuhan, menimpakan bahaya dan kesusahan pada sesama saja diharamkan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa saja yang membahayakan orang lain, Allah akan menimpakan bahaya kepada dirinya. Siapa saja menyusahkan kepada orang lain, Allah akan menimpakan kesusahan kepada dirinya.” (HR al-Hakim)

(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *