Dilema Antara Tanggung Jawab dan Kewajiban Agsa Bocah 13 Tahun Mendapatkan Perawatan Medis

Dilema Antara Tanggung Jawab dan Kewajiban Agsa Bocah 13 Tahun Mendapatkan Perawatan Medis
Lisda Hendrajoni "kita obat ya. Insha Allah Aqsa sembuh,” ujar Lisda sembari mengolesi kaki Aqsa yang terbakar

SERGAP.CO.ID

PESISIR SELATAN, || Muhamad Aqsa (13) tahun terdengar merintih kesakitan di sudut ruangan rumah, dengan kondisi luka bakar yang memenuhi hampir 70% di sekujur tubuhnya. Disisi kiri Aqsa, Ibunya sibuk mengipasi dengan karton berkas kardus air mineral, sesekali terdengar ia menenangkan Aqsa untuk sekedar menghalau rasa sakit yang diderita putra keduanya tersebut.

Bacaan Lainnya

Melihat kondisi ini, Lisda Hendrajoni Anggota DPR RI yang saat itu dalam kunjungan dapilnya ke Pesisir Selatan, seketika terdiam. Lisda yang mendapat Informasi tentang kondisi Aqsa, langsung datang membezuk dan menunda salah satu agenda kegiatannya pada Minggu (27/12) tersebut.

“ Sabar ya nak, kita obat ya. Insha Allah Aqsa sembuh,” ujar Lisda sembari mengolesi kaki Aqsa yang terbakar, dengan obat yang biasa ia pakai jika terkena luka bakar.

“Telpon Bapak, minta tolong kirimkan obat yang ini lagi. Besok kita jemput di Padang,” Katanya Lisda lagi.

Suasana semakin haru, saat mengetahui Aqsa sudah 3 hari berada dirumah, dan hanya ditangani oleh obat tradisional seperti daun pisang untuk sekedar menghilangkan rasa sakitnya.

“Kami tak punya biaya Bunda. Dengan apa akan berobat. Kami orang tak mampu Bunda,” Imbuhnya Warti (39) Ibu Aqsa mengadu kepada anggota Komisi VIII yang akrab disapa Bunda Lisda tersebut.

Selang memasang obat oles pada bagian tubuh Aqsa, Bunda Lisda meminta agar dihubungi Ambulance dan datang ke lokasi rumah Aqsa.

“Jangan ditunda lagi ya buk. Kita bawa Aqsa berobat sekarang ya. Biar dapat penanganan medis, karena kondisi lukanya cukup memprihatinkan. Ibu jangan mikir biaya dulu, nanti kita sama-sama bantu upayakan,” Ujar Lisda membujuk orang tua Aqsa agar bersedia dibawa kerumah sakit.

Bunda Lisda langsung meminta kepada rombongannya, agar menunda seluruh agenda kunjungan dapil hari itu. Jika memungkinkan, agenda akan dilanjutkan setelah menghantarkan Aqsa ke Puskesmas, atau rumah sakit.

“Re-Schedule semua jadwalnya. Kita lanjut setelah (kepastian) Aqsa. Kalau ndak memungkinkan, kita sambung besok. Jadi kita nginap,” perintah Lisda kepada Koordinator Tim.

Ambulance bertuliskan BPKH sampai di depan gang menuju rumah Aqsa. Namun putra kedua dari pasangan Syahrial dan Soti Warti ini masih menangis, dan tidak tega jika harus kerumah sakit, mengingat kondisi keuangan orang tuanya. Selain itu, Aqsa juga memiliki trauma jarum suntik.

“Kesehatan Aqsa jauh lebih penting. Jadi jangan pikir-pikir yang lain dulu. Percaya sama bunda. Nanti sampai dirumah sakit, Bunda belikan HP. Yang penting Aqsa mau berobat dulu ya nak ya,” Tuturnya Bunda.

Antara tangis haru, bercampur tangis karena sakit, ditambah sedikit rasa bahagia karena akan mendapatkan HP baru, aqsa pun menyetujui untuk berobat. “Baik bunda,” jawab Aqsa masih dengan sedu sedannya.

Kondisi gang yang sempit memaksa Aqsa harus diangkat menggunakan tandu, untuk bisa sampai ke Ambulance. Dengan sangat hati-hati, mengingat luka bakar yang hampir 70% disekujur tubuhnya, Aqsa pun diangkut dengan bantuan masyarakat sekitar rumah dan keluarga.

“Bismillah. Do’a ya nak. Semangat,” ujar Lisda melepas Aqsa yang sudah didalam Ambulance, dan di ikuti oleh rombongan tim Lisda Hendrajoni menuju Puskesmas Lengayang.

Untung saja, Puskesmas Lengayang memiliki Fasilitas IGD yang memang melayani 24 Jam dan tetap buka di hari libur. Mengingat hari itu merupakan hari Minggu dan jam sudah berada pada pukul. 16.06 WIB. “Kami periksa ya buk,” Ucapnya petugas medis yang saat itu sedang melayani pasien IGD.

Bunda Lisda masih setia berdiri di samping Aqsa, bersama kedua orang tua Aqsa. Setelah menyampaikan sejumlah pertanyaan untuk observasi, petugas tersebut menyampaikan hasil yang membuat suasana kembali ke keheningan.

“Ini harus dioperasi buk. Karena ada beberapa luka yang sudah infeksi karena terlambatnya penanganan, sehingga harus dibersihkan, agar jaringan kulit barunya bisa kembali tumbuh. Jika tidak segera, ini akan lama dan susah sambuhnya, bahkan kemungkinan terburuk bisa saja terjadi,” Jelasnya.

“Tapi ini hanya operasi ringan. Ndak usah cemas, pasien kami rujuk ke RSUD M. Zein di Painan ya buk, karena peralatan kami disini belum memenuhi untuk operasi semacam ini,” Paparnya.

Pasangan Suami istri pun saling bertatapan. Di benak mereka saat ini terbayang biaya rumah sakit, biaya penginapan, biaya selama dirumah sakit, pekerjaan yang harus dan akan terbengkalai, beribu pikiran buruk pun mulai merasuki.

“Kita sudah sepakat ya pak, buk. Kita bawa anak kita untuk mendapatkan penanganan medis. Sekarang hasil pemeriksaannya sudah kita ketahui. Kita serahkan kepada ahlinya, sembari berdoa kepada Allah. Persoalan yang lain kita pikirkan bersama, Insha Allah semua nya ada jalan,” Tuturnya Bunda Lisda memecah keheningan.

Wali Nagari Kambang Utara Ulsabri yang juga ikut mendampingi Aqsa ke Puskesmas pun ikut memberikan semangat dan dukungan kepada keluarga Aqsa. “Kami dari Pemerintah Nagari nanti juga akan upayakan biaya pengobatan Aqsa. Secara administrasi akan kami bantu, sehingga kepengurusan nanti bisa lebih mudah dan cepat. Yang penting anak kita sembuh dulu,” Terangnya pejabat nagari (desa) tempat Aqsa tinggal tersebut.

Mendengar ucapan Bunda Lisda dan Wali Nagari tersebut kedua orang tua Aqsa pun sepakat, putranya dirujuk ke RSUD M.Zein Painan, yang berjarak lebih kurang 50 Kilometer dari tempat tinggalnya. “Tolong dibantu ya. Anak kita ini. Nanti KK dan KTPnya dikirimkan ke WA ya. Terima kasih banyak sebelumnya,” Imbuhnya Bunda Lisda saat mengakhiri pembicaraan menggunakan telpon selulernya

Entah siapa yang dihubungi Bunda Lisda. namun beberapa saat setelah itu, salah seorang petugas puskesmas yang sedang tugas jaga mendatangi Bunda. Petugas tersebut menyampaikan pesan bahwa ialah yang akan mengantarkan pasien ke RSUD M. Zein Painan.

“Kami yang akan dampingi buk. Akan kami pastikan mendapatkan pelayanan yang baik di RSUD nantinya. Percayakan kepada kami buk. Ibuk bisa melanjutkan aktivitas,” ucap petugas yang enggan disebutkan namanya tersebut.

Bunda Lisda tak langsung mengiyakan tawaran tersebut. Beliau pun menjawab, akan kembali melanjutkan agendanya hari itu, jika status Aqsa sudah “Jaleh” (Jelas).

Selang hampir 1 Jam waktu observasi dan pemasangan peralatan medis serta pengurusan Administrasi di Puskesmas. Aqsa siap untuk dirujuk ke RSUD M. Zein Painan. “Sudah buk. Aqsa sudah bisa dirujuk,” Pungkasnya petugas yang tadi.

Bunda Lisda terlihat termenung sesaat. Dalam hati ingin sekali mengantarkan Aqsa sampai sampai ke RSUD Painan, disisi lain puluhan masyarakat juga menunggu bantuan rumah tidak layak huni, pada beberapa titik yang akan dikunjungi. Belasan madrasah serta pondok pesantren juga telah menunggu kedatangan Bunda Lisda, juga untuk menerima Bantuan bahkan dengan sejumlah persiapan acara penyambutan. “Bunda Lanjutkan saja agendanya. Kami akan dampingi Aqsa dan keluarganya. Nanti kita saling koordinasi saja Bunda,” Serunya Damra salah seorang Tokoh Masyarakat di Nagari Kambang Utara.

Pada kesempatan tersebut, Bunda Lisda kembali membelai kepala Aqsa dengan sangat lembut. Beliau kembali memberi semangat untuk Bocah 13 tahun tersebut. “Aqsa harus sembuh ya. Jangan nangis lagi ya,” Bunda pun berjalan menaiki mobil yang ditompanginya.

Sesaat beliau kembali turun dari mobil, sembari menenteng Kantong Plastik bertuliskan merek salah satu Toko Ponsel di Kecamatan Lengayang. “Ini janji Bunda. Aqsa semangat ya. Nanti bisa dipake buat belajar juga. Kalau main game jangan lama-lama harus ingat waktu. Yang paling penting Aqsa harus sehat,” Pesan Bunda.

Secuil senyum terpancar dari wajahnya. Aqsa yang tidak sengaja terbakar, saat bermain bensin yang seharusnya belum menjadi mainan nya, terlihat kembali bersemangat. “Ini juga ada kipas angin, untuk dirumah sakit kalau capek ngipas pake Kerta karton nya ya buk. Sama perlengkapan buat Aqsa dan kue-kue,” Sambung Bunda.

Bunda Lisda pun menyerahkan seluruh barang tersebut kepada Ibu Ascha yang sedari tadi terlihat sudah memperlihatkan wajah harunya.

“Bunda. Bunda jalan saja. Gak apa-apa bunda. Biar kami saja yang bawa Aqsa ke Rumah Sakit. Terima kasih banyak Bunda atas bantuannya. Kalau tidak ada Bunda, entah bagaimana nasib anak kami. Semoga Bunda mendapatkan pahala dan balasan yang berlimpah dari Allah SWT,” ujar Warti sembari menerima pelukan hangat dari Bunda Lisda.

Keduanya pun haru dalam tangisan. Tentunya juga dengan mereka yang berada di lokasi puskesmas saat itu. “Saya akan bertanggung jawab penuh bunda, percayakan kepada kami. Nanti Bunda juga bisa pantau,” ucap petugas Puskesmas yang tadi.

Aqsa sudah berada didalam Ambulance, seluruh pendamping pun mulai duduk di kursi yang tersedia. Lagi Bunda Lisda mendekati Aqsa, ia pun meminta Handphone Android Baru Aqsa tadi, kemudian menyalakannya.

“Bunda lupa bilang. Ini sudah ada paket data Internetnya. Nanti kita Video Call ya. Simpen nomor Bunda, Kita Selfie dulu berdua buat jadi wallpaper, sambung mantan pramugari presidenan tersebut.

Selanjutnya petugas pun menutup pintu bagasi Ambulance dan sirine diatasnya mulai menyala. Tak lama mobil Ambulance tersebut berlalu, meninggalkan halaman puskesmas. “Semangat ya, Aqsa pasti sembuh,” Teriak Bunda Lisda sembari melambaikan tangannya.

Setelah mobil Ambulance Hilang dari Pandangan, Bunda Lisda pun pamit kepada masyarakat yang masih berada di Lokasi Puskesmas serta ucapan terima kasih atas respon petugas puskesmas Lengayang. “Terima kasih semuanya ya. Kami jalan dulu,” ucap Bunda.

Bunda Lisda beserta Rombongan pun telah berada di dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan. Jam ditanganinya menunjukkan pukul 17.15 WIB.

“Mana yang masih sempat bisa kita laksanakan,” tanya bunda kepada Koordinator Kundapil hari itu. Sembari melihat Rundown kegiatan dan konfirmasi dari beberapa titik yang akan akan dikunjungi.

“Ponpes Khairatul Hasanah MTsM Lakitan masih menunggu kedatangan Bunda disekolahnya, dari jam 8 Pagi, sampai sekarang. Terus TK Lakitan di Kecamatan Lengayang ini, juga masih siap untuk dikunjungi. Kalau Bunda masih sanggup, STAI Balai Selasa di Kecamatan Ranah Pesisir bahkan bersedia walaupun kita sampai disana malam hari,” rinci Koordinator terbaik tersebut.

Tanpa pikir panjang, Bunda pun Lisda menjawab, “Bungkus yang itu semuanya, sisanya kita lanjut besok ya,” Ucapnya Bunda dan perjalanan hari itu dilanjutkan.

(WH)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *