Harnas Sekolah Minggu GSJA : Harapan Harus Jadi “Neon” Bangsa

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || “Sebenarnya hari ini kita sementara melaksanakan satu kegiatan keimanan, yaitu reuni tentang sekolah minggu 40–50 tahun lalu. Saya sangat terharu,” ungkap Asisten I Setda Kota Kupang, Jefri Pelt, saat membuka peringatan Hari Nasional Sekolah Minggu (Harnas) GSJA Sinar Kasih Oebobo, Minggu (24/8/2025).

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang berlangsung di Kelurahan Oebobo, Kecamatan Oebobo, itu menjadi ajang refleksi iman sekaligus mengenang peran sekolah minggu dalam membentuk karakter anak sejak dini. Jefri hadir mewakili Penjabat Wali Kota Kupang, Christian Widodo.

Ia menuturkan, momentum tersebut mengingatkannya pada masa kecil ketika ia sendiri aktif di sekolah minggu.

“Begitu dekat rasanya dengan Tuhan Yesus lewat berbagai kegiatan sekolah minggu,” kenangnya.

Menurutnya, jasa para guru sekolah minggu tidak boleh dilupakan. Ia menyebut pengabdian mereka sebagai panggilan pelayanan mulia.

“Anda sedang merubah lilin kecil menjadi neon yang terang bagi nusa dan bangsa ini, bahkan membangun fondasi kuat bagi negara,” ujarnya penuh apresiasi.

Jefri menekankan, ada empat tempat utama pembentuk karakter seseorang: rumah, lingkungan, sekolah, dan gereja. Waktu di gereja memang terbatas, sehingga peran guru sekolah minggu menjadi sangat penting.

“Merekalah yang mengubah lilin kecil ini menjadi neon bagi semua aspek kehidupan,” lanjutnya.

Ia juga menyinggung tantangan generasi digital. Telepon pintar atau smartphone, kata Jefri, kerap lebih menguasai kehidupan anak-anak.

“Alangkah baiknya kita taruh firman Tuhan dalam hati supaya melekat dalam kehidupan kita,” katanya sejalan dengan pesan pendeta jemaat.

Peran orangtua juga tak kalah penting. Kesalahan mendidik anak, menurutnya, sama dengan salah mendidik generasi.

Ia mengingatkan bahwa pendidikan iman di rumah harus berjalan seiring dengan pembinaan di gereja.

Dalam kesempatan itu, Jefri turut bersaksi tentang perjalanan hidupnya. Ia mengaku pernah menjalani masa kelam sebelum dipanggil Tuhan untuk berubah.

“Dulu saya penjahat, tapi Tuhan jadikan saya penjabat. Dari 56 tahun hidup, 26 tahun saya abdikan diri sebagai aparatur negara,” jelasnya.

Baginya, hidup adalah kesempatan untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya demi kemuliaan Tuhan. Karena itu, ia mendukung agar Harnas menjadi momentum bagi gereja dan masyarakat untuk kembali peduli pada generasi muda.

“Renungan tadi menyentuh saya. Jangan racuni anak-anak dengan berita atau informasi yang merusak, tapi beri mereka makanan sehat, yaitu firman Tuhan,” tegasnya.

Jefri yakin, lewat Harnas ini anak-anak sekolah minggu kelak akan tumbuh menjadi neon terang, pemimpin bangsa di berbagai bidang.

“Dulu saya hidup di jalan, tapi kini delapan periode saya dipercaya sebagai presbiter. Artinya, sudah 32 tahun saya ada dalam pelayanan untuk kemuliaan Tuhan,” pungkasnya.

(Dessy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *