KUPANG, || Dunia olahraga tak melulu soal medali dan tepuk tangan penonton. Di balik semangat kompetisi, ada masa jeda yang menanti: masa pensiun atlet. Tak ingin para pejuang olahraga berakhir dalam keterpurukan ekonomi, KONI Nusa Tenggara Timur (NTT) kini menggiring para atlet, pelatih, wasit, dan pengurusnya menuju lapangan baru: dunia wirausaha.
Menggandeng Wakil Rektor Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Christina Whidya Utami, KONI NTT menggelar pelatihan dan motivasi kewirausahaan di Aula KONI NTT, Kamis (3/7/2025).
Prof. Christina, yang juga mitra pengembangan KONI Jawa Timur, menegaskan pentingnya membekali insan olahraga dengan keterampilan bisnis sebelum peluit akhir karier mereka dibunyikan.
“Atlet punya masa produktif yang pendek, biasanya pensiun di usia 30 sampai 35 tahun. Tapi semangat juangnya itu disiplin, kerja keras, daya tahan mental adalah DNA yang juga dibutuhkan oleh seorang entrepreneur,” kata Prof. Christina di hadapan para peserta pelatihan.
Ia mendorong para atlet memanfaatkan jaringan yang mereka bangun selama bertanding untuk membuka usaha, misalnya menjual perlengkapan olahraga, membuka pelatihan privat, atau bahkan menjadi reseller alat kebugaran.
“Keringat di arena bisa berubah jadi cuan di pasar,” ujarnya bersemangat.
Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) NTT, Boby Liyanto, turut hadir dan menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Menurutnya, Kadin siap menjadi mentor bisnis bagi para atlet yang ingin banting setir menjadi pengusaha.
“Kalau mereka sudah dibekali dengan ilmu dan sertifikasi entrepreneur, mereka bisa akses KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan mulai usaha sendiri,” jelas Boby.
Mewakili Ketua Umum KONI NTT, Sekretaris Lambertus Ara Tukan menambahkan, banyak atlet yang telah menerima penghargaan finansial dari negara tetapi belum mengelolanya secara produktif. Ia berharap pelatihan ini menjadi titik balik agar para insan olahraga mulai berpikir jangka panjang.
“Penghargaan dari negara, apalagi dalam bentuk uang, jangan habis untuk konsumsi. Jadikan itu modal awal menuju kehidupan pasca-pensiun yang sejahtera,” tegas Lambert. Ia berharap ini bisa jadi model bagi daerah lain di Indonesia Timur.
Doktor olahraga dari Unkris Kupang, Johni Lumba, yang juga pengurus KONI NTT, menyayangkan masih banyak atlet dan pelatih yang kehilangan arah setelah gantung sepatu.
“Bonus yang mereka dapatkan seharusnya jadi investasi masa depan, bukan kenangan masa lalu,” katanya.
Kegiatan ini menurut Johni bukan hanya soal ekonomi, tapi juga bagian dari pembinaan berkelanjutan yang selama ini sering dilupakan.
“KONI tak boleh hanya hadir saat pertandingan, tapi juga saat atlet butuh arah setelah lampu arena padam,” tambahnya.
Dengan semangat layaknya pelatih memberi strategi sebelum final, para narasumber mendorong peserta agar melihat dunia usaha sebagai lapangan baru yang bisa dikuasai dengan semangat yang sama seperti di arena olahraga.
“Bukan soal menang atau kalah, tapi soal bertahan dan tumbuh,” ujar Prof. Christina.
KONI NTT berharap, pembinaan ini menjadi program rutin yang tidak berhenti pada seminar belaka.
“Kami ingin atlet-atlet ini mencetak kemenangan kedua, bukan di podium, tapi di dunia bisnis,” pungkas Lambert.






