Kerinduan Lain Adalah Saya Ingin Air Kran di Setiap Kelas: Cerita Perjuangan untuk Sumur Bor di SMPN 15 Kupang

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || “Kerinduan lain adalah saya ingin air kran di setiap kelas,” ungkap Kepala SMPN 15 Kupang, Blasius Juni dalam sebuah wawancara hangat jelang masa purna tugasnya.

Bacaan Lainnya

Keinginan sederhana itu justru menjadi dorongan kuat bagi dirinya untuk terus berjuang hingga akhirnya sekolah memiliki sumur bor sendiri.

Selama bertahun-tahun, sekolah hanya mengandalkan pasokan air dari PDAM yang tidak menentukadang hanya mengalir seminggu sekali.

Namun, sejak enam bulan terakhir, air mengalir lancar berkat hadirnya sumur bor.

“Ini bukan saja bermanfaat untuk SMPN 15, tetapi juga masyarakat sekitar yang ikut merasakan manfaatnya,” jelasnya.

Ia berharap kepala sekolah yang baru nantinya bisa terus mengembangkan program yang telah berjalan, khususnya dalam implementasi Kurikulum Merdeka.

“Kurikulum Merdeka bukan hanya soal akademik, tapi bagaimana membentuk karakter siswa agar siap di kehidupan nyata,” ujarnya.

Salah satu program unggulan adalah Kebun sayur, hasil karya siswa dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema “Gaya Hidup Berkelanjutan”.

Panen hasil dan gelar karya ekobrik menjadi bukti nyata kolaborasi antara peserta didik dan tenaga pendidik dalam menciptakan solusi kreatif dari sampah plastik dan bahan organik.

Kegiatan ini merupakan bagian dari ekstrakurikuler yang disiapkan selama satu semester.

“Selama 365 jam anak-anak ini dilatih kerja sama, komunikasi, hingga menghasilkan karya seperti meja dan kursi dari plastik, serta pupuk organik,” tambahnya dengan penuh semangat.

Ia menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak sebagai motor penggerak guru, siswa, pegawai, hingga orang tua untuk mendorong kreativitas generasi muda.

“Kami ajarkan bukan saja kemampuan akademik, tapi juga soft skill dan semangat juang sebagai bekal wirausaha,” tegasnya.

Momen pamit purnatugas ini juga ia manfaatkan untuk mempromosikan hasil karya siswa.

“Walaupun saya satu langkah di depan, saya selalu memotivasi mereka untuk tidak patah semangat,” katanya. Ia percaya karya anak bangsa patut dikenal lebih luas, bahkan hingga ke luar Kupang.

Baginya, Kurikulum Merdeka adalah lokomotif sistem pendidikan nasional. Sebagai pemimpin, tantangan terbesarnya adalah memberdayakan potensi semua anggota. Sebelumnya di SMPN 8 Kupang, ia pun telah melatih keterampilan jurnalistik, seni pertunjukan, hingga mengajarkan tiga bahasa untuk menumbuhkan minat belajar siswa.

Inspirasi menciptakan kebun sayur sekolah berawal dari mimpinya menjadikan SMPN 15 lebih hijau dan ramah lingkungan.

“Dulu kami hanya pakai tangki, belum ada sumur bor. Tapi dengan membangun kemitraan luas, termasuk dengan Nindya Karya, akhirnya impian itu terwujud di bulan Desember,” tutupnya dengan senyum puas.

(Desy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *