KUPANG, || Kabar gembira bagi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tengah gencar-gencarnya mendorong riset yang benar-benar “membumi” dan solving masalah sehari-hari warga. Tak main-main, dalam lima tahun terakhir tercatat ada sekitar 67.000 riset yang digulirkan di seluruh Indonesia, dan sebanyak 1.000 di antaranya khusus dikerjakan di Bumi Flobamora.
Fokusnya jelas: mencari solusi jitu untuk isu strategis seperti ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan yang masih menjadi pekerjaan rumah di NTT.
Hal ini disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman, saat mengisi Rapat Koordinasi Terpadu di Hotel Harper Kupang, Selasa (5/5/2026). Menurutnya, pemerintah kini tidak lagi asal catat jumlah riset, tapi benar-benar memetakan kebutuhan unik setiap daerah.
“Kami tidak hanya mencatat jumlah riset, tetapi juga memetakan kebutuhan daerah. Setiap wilayah memiliki karakteristik dan tantangan berbeda, sehingga riset yang dilakukan harus mampu menjawab kebutuhan tersebut,” ujar Fauzan di hadapan para bupati dan pimpinan kampus se-NTT.
Data sebaran riset ini bahkan sudah bisa diakses siapa saja secara daring. Tujuannya agar transparan dan bisa dilihat fokus penelitian apa saja yang sedang atau sudah berjalan di daerah masing-masing.
Antusiasme dunia akademik pun meningkat drastis. Fauzan membocorkan bahwa tahun ini saja, proposal riset yang masuk tembus 120 ribu, naik dua kali lipat dari tahun lalu yang cuma 60 ribu. Semua proposal itu diarahkan untuk menjawab soal perut rakyat, kesehatan, hingga cara keluar dari jerat kemiskinan.
“Riset kami bagi dua: riset prioritas untuk pemerataan kapasitas dasar, dan riset strategis yang dananya lebih besar untuk menghasilkan solusi konkret yang bisa langsung dipakai masyarakat,” jelasnya.
Yang menarik, masyarakat ternyata sudah melek riset! Berdasarkan survei nasional bersama Litbang Kompas, lebih dari 51 persen warga mengaku familiar dengan konsep riset dan bahkan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari urusan rumah tangga sampai pakai teknologi. Sumber inspirasinya? Mayoritas justru dari media sosial yang memicu inovasi-inovasi sederhana di tengah warga.
Fauzan pun mengajak kepala daerah di NTT untuk tak malu-malu mengajukan masalah. “Ayo usulkan masalah strategis daerah kalian ke pusat, biar jadi prioritas pendanaan riset nasional,” ajaknya.
Acara yang dihadiri para bupati seperti Wakil Bupati Malaka, Kupang, TTU, hingga Bupati Ngada dan Nagekeo ini berharap sinergi antara kampus, pemda, dan industri bisa membuat riset tidak cuma berakhir jadi tumpukan kertas di perpustakaan. Harapannya, hasil riset itu bisa langsung dirasakan dampaknya, terutama dalam menekan angka stunting dan menghapus kemiskinan ekstrem di NTT.
(Desi)





