KUPANG, ||SMP Negeri 18 Kupang melakukan terobosan dalam pelaksanaan ujian sekolah tahun 2026 dengan meninggalkan metode lama berbasis Google Form dan beralih ke sistem exam yang dinilai lebih aman dari praktik kecurangan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Siti Hainun Resi, S.Pd., menjelaskan bahwa perubahan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan integritas pelaksanaan ujian.
“Tahun ini adalah tahun terakhir kami menggunakan Google Form. Sekarang kami beralih ke metode exam agar siswa tidak bisa menyontek,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (29/4/2026).
Ia menuturkan, pelaksanaan ujian sejak hari pertama hingga hari ketiga berjalan lancar. Meski menggunakan metode baru, para siswa terlihat lebih percaya diri karena sebelumnya telah dibekali dengan pelatihan digital.
“Siswa sudah terlatih. Hanya ada sedikit kendala saat memasukkan password karena ada yang lupa, tetapi itu bisa segera diatasi,” jelasnya.
Sebanyak 51 siswa mengikuti ujian yang dibagi ke dalam tiga ruang, dengan tingkat kehadiran mencapai 100 persen. Ujian Sekolah (US) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dilaksanakan, lanjutnya, bukan menjadi syarat utama kelulusan, melainkan sebagai alat pemetaan mutu pendidikan di tingkat Kota Kupang.
“Kelulusan tetap menjadi kewenangan sekolah dengan tiga indikator utama, yakni kehadiran, sikap, dan penyelesaian kurikulum dari kelas 1 hingga kelas 9,” tegasnya.
Secara umum, ia melihat adanya peningkatan kualitas siswa dari tahun ke tahun. Bahkan, hasil tahun ini diperkirakan lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Ia juga berharap capaian TKA melampaui hasil try out, mengingat tingkat kesulitan soal try out lebih tinggi.
Dengan kondisi tersebut, pihak sekolah optimistis seluruh siswa dapat lulus 100 persen. “Semua siswa sudah memenuhi tiga indikator kelulusan, hanya nilai yang bervariasi,” tambahnya..
Pelaksanaan ujian diawasi secara silang oleh pengawas dari sekolah lain, yakni SMP Negeri Aplikasi dan Ki Hajar Dewantara. Ujian berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.30 WITA, dengan total enam mata pelajaran yang diujikan, masing-masing dua mata pelajaran per hari.
Di akhir keterangannya, Siti berharap para siswa tidak hanya lulus, tetapi juga mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
“Sebagian siswa kami melanjutkan ke perguruan tinggi, sekitar 20 persen. Selebihnya banyak yang memilih mengikuti tes kepolisian dan sekolah kedinasan,” pungkasnya.
(Desy)






