Sinergi Adat dan Ilmiah, Workshop Muro Apamoel Perkuat Perlindungan Laut Lembata

SERGAP.CO.ID

LEMBATA, || Upaya menjaga kelestarian ekosistem laut di Lembata terus diperkuat melalui kolaborasi antara masyarakat adat dan lembaga internasional. Hal ini terlihat dalam workshop “Muro Apamoel” yang digelar oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Barakat, Rabu (15/4/2026).

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang berlangsung di Moting Ema Maria, Sekretariat Barakat Lamahora, Lewoleba Timur, Kecamatan Nubatukan, Nusa Tenggara Timur ini melibatkan komunitas adat Belen Raya Lewohala, Yayasan IDEP Selaras Alam, serta lembaga internasional Adventures Before Dementia dari Italia.

Workshop tersebut menghadirkan peneliti asal Italia, Andreas dan Fransiska, bersama tim IDEP Selaras Alam, serta perwakilan Belen Raya Lewohala, yakni Stefanus Lodan Halimaking, Elias Keluli Soromaking, dan Bernadus Butu Dulimaking. Dari pihak LSM Barakat, kegiatan dipimpin langsung oleh Ketua Benediktus Bedil Pureklolon bersama stafnya.

Ketua LSM Barakat, Benediktus Bedil Pureklolon, menjelaskan bahwa workshop ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pengetahuan lokal dan kajian ilmiah dalam menjaga keberlanjutan laut melalui praktik kearifan lokal Muro.

“Hari ini kita membahas tiga agenda utama, yaitu hasil koordinasi dengan KKP terkait sekolah lapang, presentasi hasil monitoring ekosistem laut oleh peneliti Italia di Apamoel, serta diskusi kelompok terarah bersama IDEP terkait praktik Muro,” ujarnya.

Dalam sesi pemaparan, peneliti Italia menyampaikan hasil pemantauan kondisi ekosistem bawah laut di wilayah Apamoel melalui dokumentasi visual berupa foto dan video. Hasil tersebut menunjukkan kondisi terumbu karang dan biota laut yang masih relatif terjaga, meskipun terdapat beberapa perubahan di titik tertentu.

Perwakilan Belen Raya Lewohala, Stefanus Lodan Halimaking, menegaskan bahwa masyarakat adat telah lama menjaga wilayah laut melalui praktik Muro yang diwariskan secara turun-temurun.

“Sejak dulu kami sudah menjaga wilayah ini. Ada kawasan yang dilindungi bahkan sampai puluhan tahun. Apa yang terlihat sekarang adalah hasil dari komitmen tersebut,” ungkapnya.

Dalam diskusi, muncul gagasan penguatan pengelolaan Muro melalui dua skenario, yakni Zona Inti dan Zona Pemanfaatan Terbatas. Zona Inti ditetapkan sebagai kawasan yang sepenuhnya dilindungi tanpa aktivitas pengambilan hasil laut untuk jangka waktu tertentu, guna memulihkan ekosistem.

Sementara Zona Pemanfaatan Terbatas memberikan ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas secara terbatas dan terkontrol, sesuai kesepakatan adat, termasuk dalam penangkapan ikan.

Konsep ini juga dikaitkan dengan kalender adat setempat. Misalnya, menjelang pesta Kacang yang biasanya berlangsung pada Oktober, wilayah Muro dengan skema pemanfaatan khusus dapat dibuka pada bulan September.

Pendekatan dua zona ini dinilai selaras dengan praktik Muro yang selama ini dijalankan, yaitu menutup dan membuka wilayah laut secara berkala sebagai bentuk keseimbangan antara kebutuhan hidup dan pelestarian alam.

Selain itu, workshop ini juga menjadi bagian dari program dokumentasi bersama antara IDEP dan Barakat yang akan menghasilkan film dokumenter serta modul edukasi tentang praktik Muro. Materi ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal.

Diskusi juga menyoroti struktur adat dalam praktik Muro, termasuk peran penting Belen Raya sebagai pengambil keputusan yang dipilih melalui proses ritual adat yang melibatkan berbagai suku.

Melalui kegiatan ini, para pihak berharap dapat merumuskan langkah strategis berbasis riset dan kearifan lokal guna memastikan keberlanjutan ekosistem laut di Lembata tetap terjaga di masa depan.

(Pewarta: Floni Making)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *