KUPANG, || Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Abraham Paul Liyanto, memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan Jalan Sehat Merakyat yang digelar oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Presidium Persatuan Nusantara Indonesia (PNI) NTT, Sabtu (11/10/2025) di arena Car Free Day Kota Kupang. Kegiatan ini menjadi simbol semangat baru bagi masyarakat NTT dalam membangun kebersamaan dan kontrol sosial yang sehat.
Menurut Paul Liyanto, kehadiran Presidium PNI di NTT merupakan energi positif yang mampu memperkuat sinergi antara masyarakat dan pemerintah daerah. Ia menilai organisasi seperti PNI dapat menjadi mitra strategis dalam mengawal pelaksanaan program pembangunan agar benar-benar berpihak kepada rakyat.
“Saya melihat kehadiran Presidium PNI ini sangat positif. Di bawah komando pimpinan yang berpengalaman, organisasi seperti ini bisa menjadi mitra pemerintah dan masyarakat untuk saling mengawasi dan memperbaiki kebijakan yang belum tepat. Ini bagian dari upaya memperkuat check and balance,” ujarnya.
Senator yang dikenal vokal memperjuangkan kepentingan daerah ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas elemen bangsa—mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga lembaga sosial—untuk memastikan program-program pemerintah berjalan efektif dan tepat sasaran.
“Program pemerintah harus dikawal bersama. Kalau ada yang tidak sesuai, harus diingatkan dan dilaporkan. Masyarakat juga harus aktif melihat, menyuarakan, dan menuliskan agar pelaksanaannya bisa diawasi bersama,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Paul Liyanto juga menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi perhatian nasional. Ia menilai program tersebut baik, namun pelaksanaannya masih perlu dievaluasi agar manfaatnya benar-benar dirasakan hingga ke pelosok daerah.
“Program MBG ini bagus, tapi masih banyak anak-anak di desa yang belum menikmati manfaatnya. Mestinya dimulai dari desa dan daerah 3T karena di sanalah anak-anak paling membutuhkan gizi tambahan,” ujarnya memberi catatan kritis.
Paul juga menekankan pentingnya perencanaan teknis dalam pelaksanaan program, terutama soal kapasitas dan lokasi dapur penyedia makanan. Menurutnya, dapur yang melayani ribuan siswa tanpa pengawasan ketat berisiko menurunkan kualitas makanan.
“Satu dapur yang melayani tiga ribu siswa itu tidak realistis. Makanan bisa basi dan menimbulkan masalah kesehatan. Sebaiknya dapur diperkecil dan ditempatkan dekat sekolah, bahkan bisa bekerja sama dengan kantin sekolah agar anak-anak makan makanan segar setiap hari,” jelasnya.
Lebih jauh, Paul menegaskan bahwa keberhasilan program pemerintah tidak hanya bergantung pada kebijakan pusat, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat dalam mengawasi pelaksanaannya di lapangan.
“Kita semua harus ikut mengawasi. Kalau ada sekolah yang belum dapat program makan bergizi gratis, masyarakat bisa langsung melapor. Ini cara sederhana tapi efektif agar setiap kebijakan pemerintah benar-benar sampai ke rakyat,” tandasnya.
Ia menilai, kegiatan Jalan Sehat Merakyat yang digagas Presidium PNI NTT menjadi contoh nyata gerakan sosial yang mengedepankan kebersamaan dan kesadaran publik terhadap tanggung jawab sosial.
“Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat diajak untuk sehat, kompak, dan peduli. Semangatnya bukan sekadar olahraga, tapi juga membangun solidaritas dan gotong royong,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Paul Liyanto menyampaikan dukungan penuh terhadap kehadiran Presidium PNI NTT sebagai mitra masyarakat dan pemerintah dalam memperjuangkan kesejahteraan bersama.
“Presidium PNI hadir bukan untuk bersaing dengan pemerintah, tetapi untuk bersinergi dan membantu memastikan setiap program berjalan demi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya dengan nada optimistis.
(Dessy)






