KOA, KUPANG || Suasana Jumat pagi, 29 Agustus 2025, di balai Desa Koa berbeda dari biasanya. Puluhan petani berbaur dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik “GENTASKIN” Kelompok 5. Mereka bukan sekadar berkumpul, melainkan belajar langsung cara membuat pupuk bokashi dan pestisida nabati, sebuah pengetahuan praktis yang dijanjikan akan mengubah cara mereka bercocok tanam.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program besar Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan. Mahasiswa dari berbagai universitas di Nusa Tenggara Timur, dengan latar belakang disiplin ilmu yang beragam, bergandeng tangan mewujudkan gagasan: mengurangi kemiskinan dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat lewat inovasi sederhana.
Ketua Divisi Pertanian KKN Tematik GENTASKIN Kelompok 5, Yosep Kalasansius Biku, akrab disapa Yoss, tampil percaya diri saat memandu praktek. Mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Kupang itu menjelaskan tahap demi tahap pembuatan pupuk bokashi.
“Kami ingin berbagi pengetahuan bagaimana membuat pupuk bokashi dan pestisida nabati dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal,” ujarnya sambil memegang ember berisi campuran dedak, kotoran ternak, dan larutan gula.
Lebih jauh, Yoss menekankan, keterampilan ini bukan sekadar teknik bertani. Ia ingin petani Desa Koa mengurangi ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia yang harganya kian melambung. “Harapan kami, keterampilan ini dapat membantu petani menjaga kesuburan tanah sekaligus menghemat biaya,” tambahnya.
Respon petani terasa nyata. Yusuf Banyamin Abani, Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Desa Koa, tak menutupi kegembiraannya.
“Kami sangat senang dengan adanya pelatihan ini. Ilmu yang diberikan mahasiswa sangat bermanfaat, apalagi bahan-bahannya mudah diperoleh di sekitar kita,” kata Yusuf sambil tersenyum lebar.
Ia mengakui, selama ini petani sering terjebak pada pola lama: membeli pupuk kimia meski hasil panen tak selalu sebanding dengan biaya.
“Dengan cara ini kami bisa menghemat biaya sekaligus menjaga kesehatan tanah dan tanaman,” sambungnya, disambut anggukan setuju dari petani lainnya.
Tak hanya divisi pertanian yang turun tangan. Divisi kesehatan turut ambil bagian, menunjukkan kaitan erat antara pertanian organik dan gizi keluarga. Godelianus Papik, salah satu mahasiswa kesehatan, menuturkan, “Pola pertanian sehat akan berdampak langsung pada kesehatan keluarga dan mencegah masalah gizi, termasuk stunting.”
Ia menambahkan, stunting di NTT bukan hanya soal kurang gizi, melainkan juga pola konsumsi rumah tangga yang bergantung pada pangan murah dengan kualitas rendah.
“Dengan pertanian organik, keluarga bisa mengonsumsi hasil yang sehat dan bergizi,” ujar Godelianus.
Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi nilai tambah kegiatan. Para mahasiswa, dengan latar belakang ilmu berbeda, justru memperkaya pendekatan. Dari kesehatan, pertanian, hingga pemberdayaan masyarakat, semuanya berpadu dalam satu tujuan: membangun Desa Koa dari akar rumput.
Warga desa terlihat antusias. Beberapa petani bahkan mencatat dengan teliti takaran campuran bokashi dan resep pestisida nabati yang diberikan. Bagi mereka, ilmu ini bukan sekadar teori kampus, melainkan solusi yang langsung bisa dipraktikkan di kebun mereka.
Pada akhirnya, kegiatan KKN Tematik GENTASKIN Kelompok 5 ini bukan hanya pelatihan teknis. Lebih dari itu, ia menghadirkan harapan baru bagi petani Desa Koa: bahwa masa depan pertanian organik bisa menjadi jalan keluar dari lingkaran kemiskinan sekaligus bagian dari upaya mengentaskan stunting di bumi NTT.
(Dessy)






