PANDEGLANG, || Siapa sangka, limbah kulit pucung yang selama ini hanya menumpuk di sudut halaman atau dibuang begitu saja, ternyata bisa menjadi pupuk organik yang subur dan ramah lingkungan. Inovasi inilah yang diperkenalkan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 05 Desa Alaswangi, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, dalam kegiatan Sosialisasi Pemanfaatan Limbah Kulit Pucung menjadi Pupuk Kompos Organik, Kamis (14/08/2025).
Kegiatan ini berlangsung di Posko KKN desa Alaswangi dan dihadiri oleh Ketua BPD Alaswangi, Bapak Jaji, jajaran Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Ketua RT/RW, tokoh masyarakat, hingga warga dari berbagai dusun yang hadir dengan antusias.
Dari Limbah Tak Berguna Menjadi Solusi Pertanian
Ketua Kelompok KKN 05 dalam sambutannya menyampaikan bahwa Desa Alaswangi memiliki potensi besar dari hasil perkebunan pucung yang melimpah. Namun, kulit pucung yang terbuang sering kali hanya menjadi limbah.
“Kami melihat, limbah ini sebenarnya memiliki nilai ekonomi dan manfaat besar untuk tanah. Kalau diolah dengan benar, kulit pucung bisa menjadi pupuk organik yang kaya unsur hara, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia,” jelasnya.
Program ini lahir dari keprihatinan akan dua hal: pertama, banyaknya limbah organik yang belum dikelola dengan baik; kedua, semakin tingginya harga pupuk kimia yang membebani petani.
Belajar Sambil Mempraktekkan
Tak hanya sekadar ceramah, mahasiswa KKN 05 juga mengajak warga untuk melihat langsung demonstrasi pembuatan pupuk kompos dari kulit pucung. Mulai dari proses pemilahan bahan, pencacahan kulit pucung, pencampuran dengan bahan organik lain, hingga proses fermentasi yang memakan waktu beberapa minggu.
Para warga terlihat antusias mencatat langkah-langkahnya, bahkan beberapa langsung bertanya bagaimana proses ini bisa dilakukan dalam skala rumah tangga maupun kelompok tani.
“Ternyata tidak sulit ya. Kalau begini, kami bisa coba sendiri di rumah,” ujar salah satu warga yang mengikuti kegiatan tersebut.
Apresiasi dari Pemerintah Desa
Ketua BPD , Bapak Jaji, mengapresiasi kegiatan ini sebagai langkah nyata untuk pemberdayaan masyarakat desa.
“Kami bangga mahasiswa KKN hadir dengan ide-ide segar yang bermanfaat. Limbah yang dulunya dianggap masalah, kini justru menjadi solusi. Harapan kami, warga bisa mempraktekkan ini agar pertanian kita lebih hemat dan sehat,” ungkapnya.
Beliau juga menegaskan bahwa pemerintah desa siap mendukung program berkelanjutan seperti ini, termasuk memfasilitasi pelatihan lanjutan dan membentuk kelompok pengolah pupuk organik di tingkat dusun.
Manfaat Ganda untuk Lingkungan dan Ekonomi
Dengan memanfaatkan kulit pucung menjadi pupuk organik, masyarakat tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga berpotensi menghemat biaya pertanian dan meningkatkan kesuburan tanah secara alami. Selain itu, jika produksi pupuk kompos ini dikelola secara masal, bisa menjadi produk unggulan desa yang memiliki nilai jual.
“Kami ingin program ini tidak berhenti di sosialisasi, tapi terus berkembang hingga menjadi usaha bersama yang mendukung ekonomi desa,”ujar Eki ketua kkn 05 .
( Kamri S/Embing)






