KOTA TASIKMALAYA, || Gerakan Satria Bersarung (GSB) menggelar aksi teatrikal di depan Balai Kota Tasikmalaya, Jumat (15/8/2025), sebagai bentuk kritik terhadap kinerja Pemerintah Kota dalam penanganan isu pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Aksi dimulai pukul 10.05 WIB dengan longmarch dari titik kumpul menuju Balai Kota di Jalan Letnan Harun. Sekitar 10 peserta yang dipimpin Koordinator Lapangan Fahmi membawa sembilan payung hitam, spanduk sindiran, dan pamflet berisi pesan kritis terhadap kebijakan pemerintah daerah.
Salah satu spanduk bertuliskan ajakan kepada Presiden Republik Indonesia untuk berkunjung ke Tasikmalaya, dengan alasan wali kota dinilai sibuk melakukan kegiatan di luar yang dianggap kurang relevan dengan penyelesaian masalah daerah.
Peserta aksi juga membentangkan pamflet bertuliskan “Kesejahteraan Exclude”, “Tasik Gemas Tasik Pintar??”, dan “Pendidikan?? Manawi Walikota Aya?? Lari-lari”. Dalam teatrikalnya, massa berjalan ngesot sambil memegang payung, serta meneriakkan sindiran terkait kondisi fasilitas publik dan pelayanan dasar.
Sekitar pukul 10.40 WIB, Fahmi menyampaikan pernyataan resmi bahwa aksi ini dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi kota yang menurut mereka jauh dari janji politik wali kota. Ia menyoroti masalah lingkungan hidup, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat yang dinilai belum mendapat penyelesaian memadai.
GSB dikenal sebagai kelompok masyarakat sipil yang aktif mengkritisi kebijakan pemerintah. Organisasi ini pertama kali muncul saat menyoroti pengadaan sarung untuk Hari Raya Idul Fitri pada masa pandemi Covid-19 tahun anggaran 2020, dan sejak itu konsisten mengangkat isu-isu publik.
Aksi yang berlangsung sekitar 35 menit ini berjalan aman dan kondusif dengan pengawasan aparat keamanan. Tidak ada insiden berarti selama kegiatan berlangsung.
Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2025, aparat diminta tetap meningkatkan deteksi dan cegah dini terhadap potensi gerakan massa yang dapat memengaruhi stabilitas wilayah.
(Rzl/S)






