MALAKA, || Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Malaka, Yanto, mengungkapkan kekecewaannya terhadap tindakan kepolisian dalam menangani konflik di lapangan voli. Ia menyoroti bahwa tindakan kepolisian yang tidak sesuai prosedur telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Masalah pertama itu terjadi di lapangan voli, itu masalah anggota kena pukul dari akamsi umum. Setelah kena pukul dia punya teman-teman polisi mereka datang pukul salah target nah itu yang pada saat melakukan pemukulan juga pas di depan saya,” ungkap Ketua PMKRI cabang Malaka.
Ia juga mengungkapkan bahwa polisi seharusnya memiliki cara penyelesaian masalah yang lebih profesional, bukan dengan cara kekerasan langsung di lapangan.
“Saya duduk bersama dengan korban dan mereka turun langsung serang secara membabi buta, makanya saya punya pernyataan keluar. Seharusnya polisi mereka sebagai keamanan punya cara penyelesaian masalah bukan dengan cara begitu. Dipanggil dulu ke kantor Kapolres lalu kemudian yang menentukan orang benar dan salah adalah hakim bukan polisi,” ujar ketua Yanto dengan geram.
Menurutnya, tindakan kepolisian yang datang dan langsung melakukan kekerasan kepada masyarakat justru memperburuk citra institusi tersebut di mata publik.
“Nah ini polisi datang tidak mengamankan tetapi dia datang untuk melakukan pemukulan terhadap masyarakat, itu yang menjadi persoalan,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa tindakan kepolisian seharusnya sesuai prosedur hukum, bukan tindakan main hakim sendiri yang justru menimbulkan keresahan masyarakat.
“Saya punya maksud itu adalah cara penyelesaian masalah oleh pihak kepolisian, sekarang tidak sesuai dengan prosedur lagi. Mereka datang langsung pukul saja tanpa mereka cari tahu pelaku tersebut, mereka langsung hajar-hajar saja siapa saja pasti emosi dan ini juga menjadi keresahan banyak orang,” ungkapnya.
Yanto juga menyinggung bahwa masyarakat merasa takut untuk berbicara secara langsung kepada polisi, meskipun mereka memiliki banyak keluhan terhadap metode penyelesaian masalah yang dilakukan aparat.
“Memang masyarakat tidak berbicara pada saat berhadapan langsung dengan polisi, mereka tidak ngomong tapi polisi tidak ada mereka ngomong bahwa kepolisian sekarang menyelesaikan masalah dengan cara memukul orang sebenarnya bukan begitu, kalau mengabdi untuk negara dan mati di medan perang itu tidak apa-apa karena mereka itu dibayar,” ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa institusi kepolisian perlu mereformasi cara mereka bertindak, terutama dalam menangani konflik di masyarakat.
“Mereka tidak melakukan investigasi dulu datang langsung pukul masyarakat, institusi kepolisian itu yang menjadi masalah,” tandasnya.
(Ss)






