Pupuk Kompos: Mengolah Sampah Organik Menuju Lingkungan Bersih

Caption : Tampak sekretaris Naikoten 1 Kupang bersama Tadeus A.L Regaletha, S.Si.,Apt. M.Kes saat sosialissasi

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || Dalam rangka memenuhi kewajiban Tri-Darma Perguruan Tinggi serta menjalankan misi mengurangi volume sampah, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar kegiatan diseminasi informasi kesehatan. Bertemakan

Bacaan Lainnya

“Pengelolaan Sampah Organik melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Kompos”, acara tersebut berlangsung meriah di Aula Kelurahan Naikoten I, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang.

Menyikapi meningkatnya volume sampah di Kota Kupang, Bapak Tadeus A.L Regaletha, S.Si.,Apt. M.Kes dibantu Agus Setyobudi, SKM.,M.Kes, serta melibatkan 3 mahasiswa FKM Undana merancang pelatihan pembuatan pupuk kompos skala rumah tangga. Acara ini juga mendapat dukungan dari Bapak Herman Kaho, Sekretaris Kelurahan Naikoten I, yang mewakili Lurah Naikoten I Kota Kupang.

Dalam sambutannya, Bapak Herman Kaho menjelaskan bahwa pengelolaan sampah adalah prioritas program Pj Walikota Kupang untuk menjadikan kota ini lebih bersih dan sehat. Kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Universitas Nusa Cendana, menjadi kunci dalam merealisasikan tujuan ini. Kelurahan Naikoten I dengan tulus membuka diri bagi semua pihak untuk bersama-sama menjaga kebersihan Kota Kupang.

Kerja sama antara Kelurahan Naikoten I dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana menjadi tonggak penting dalam upaya pengelolaan sampah. Kegiatan ini, yang berfokus pada pelatihan pembuatan pupuk kompos, diharapkan bisa diikuti, dipraktekkan, dan diduplikasi oleh masyarakat yang tidak bisa hadir. Tujuannya adalah agar semakin banyak warga yang terlibat dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Tim FKM Undana melatih masyarakat tentang bagaimana memanfaatkan sampah organik dari dapur dan halaman sebagai bahan pembuatan pupuk kompos. Sampah seperti sisa sayur, nasi, dan dedaunan dapat dimanfaatkan untuk proses ini. Proses pembuatan pupuk kompos pun relatif sederhana, dengan langkah-langkah seperti merajang sampah organik, mencampurkannya dengan pupuk bokashi dan campuran EM4, lalu menempatkannya dalam wadah komposter yang telah disiapkan. Dalam 2-3 minggu, pupuk kompos siap digunakan untuk memupuk tanaman.

Tak hanya berbicara, tetapi juga beraksi, FKM Undana melalui kegiatan ini memberikan alat dan bahan praktek pembuatan pupuk kompos kepada masyarakat. Mesin cacah sampah organik, wadah pembuatan kompos sebanyak 20 unit, pupuk bokashi 4 karung, serta 20 botol EM4 sebagai bioaktivator turut diserahkan kepada warga.

Dengan semangat bersama, kerja sama antara FKM Undana dan Kelurahan Naikoten I mewujudkan langkah nyata dalam mengurangi volume sampah serta memberikan panduan kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah organik yang lebih berkelanjutan. Diharapkan, langkah ini akan menjadi contoh positif untuk kota yang lebih bersih, sehat, dan lestari.

(Desi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *