SERGAP.CO.ID
KAB PESSEL, || Naiknya harga komoditi getah gambir sejak tiga pekan terakhir di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) hingga mencapai Rp 42 ribu per kilogram, merupakan angin segar bagi petani di daerah itu.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi IV DPRD Pessel, Yusli Mardan, kepada Padang Ekspres, Senin (5/6) di Painan.
Dia berharap harga tersebut bisa terus bertahan bahkan lebih meningkatkan lagi hendaknya sebagaimana masa-masa keemasan beberapa tahun lalu, sebab harga komoditi itu sempat menembus hingga Rp 90 per kilogram.
“Sebagai wakil rakyat saya berharap pemerintah daerah melalui perangkat daerah terkait bisa memberikan pendampingan edukasi kepada petani gambir di daerah ini. Tujuannya agar kualitas getah gambir yang sudah diolah menjadi pasta itu benar-benar berkualitas, yang pada akhirnya harga juga bersaing dan sesuai dengan kondisi pasar terkini,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa tanaman gambir merupakan salah satu unggulan yang dikembangkan oleh masyarakat petani pada semua nagari di Pesisir Selatan.
“Ini memang tidak terlepas dari potensi lahan yang luas dan subur, sehingga tidaklah mengherankan komoditi ini menjadi idola petani. Dengan naiknya harga saat ini, maka diyakini akan bisa menggairahkan petani, dan juga menjadikan petani di daerah akan hidup lebih sejahtera lagi,” ungkapnya.
Dia juga mengakui ketika harga komoditi itu anjlok di bawah Rp 15 ribu per kilogram, petani di Pessel lebih memilih membiarkan lahannya terlantar. Sebab bila diolah, tidaklah membuat mereka beruntung, namun malah merugi.
“Dari itu sebagai wakil rakyat saya berharap harga ini bisa tetap bertahan atau lebih meningkat lagi sebagaimana harapan oleh semua petani di daerah ini. Sebab dulunya harga komoditi gambir ini juga sempat menembus Rp 90 ribu per kilogram,” ucapnya.
Lebih jauh dijelaskan bahwa hingga sat ini gambir sebagai salah satu hasil produksi tanaman kebun masyarakat belum masuk dalam salah satu daftar komoditi perdagangan rempah-rempah dunia.
Kondisi ini, termasuk salah satu penyebab jaminan kepastian harga berdasarkan kesepakatan niaga internasional tidak memiliki jaminan pasar yang jelas. Hal yang sama juga terjadi pada jenis lainnya seperti gaharu, minyak nilam, walet dan lainnya.
“Karena berada pada luar niaga rempah-rempah, sehingga standar harga yang bisa dijadikan sebagai jaminan pasar sebagaimana diharapkan masyarakat belum bisa dilakukan. Karena potensi pengembangan berbagai komoditi itu ada di Pessel, maka petani yang melakukan pengembangan atau budidaya berbagai komoditi itu perlu dilakukan pendampingan agar menghasilkan produksi yang berkualitas guna mendapatkan harga yang sesuai dengan pasar terkini,” harapnya.
Hengki 40, toke gambir di Kecamatan Sutera, mengatakan kepada Padang Ekspres Senin (5/6) bahwa harga komoditi getah gambir di tingkat petani di daerah itu memang terus merangkak naik. Kenaikan harga itu membuat masyarakat petani gambir di daerah itu menjadi semakin bergairah.
Dikatakan demikian, sebab saat ini harga getah gambir di tingkat petani dengan kadar air 15 persen telah dihargai Rp 40 ribu hingga Rp 42 ribu per kilogram, dari Rp 18 ribu per kilogram tiga pekan lalu.
“kenaikan harga getah gambir di tingkat petani dengan kadar air 15 persen menjadi Rp 42 ribu dari Rp 18 ribu per kilogram ini merupakan kabar gembira bagi petani gambir di khususnya di daerah ini. Sebab dengan harga di atas Rp 40 ribu itu para petani gambir akan bisa hidup lebih sejahtera,” katanya.
Walau sebagai pedagang atau toke gambir, tapi dia tetap berharap harga getah gambir itu bisa terus bertahan. “Ini saya sampaikan, sebab dengan harga yang pantas dan wajar itu, petani gambir juga bersemangat mengolah lahannya, atau tidak membiarkan tanaman gambirnya terlantar. Sebagai pedagang saya juga lancar membeli getah gambir kepada petani atau tidak terputus sebagaimana ketika harga gambir anjlok,” ujarnya.
Agung 45, petani gambir di Nagari Rawang Gunung Malelo, Kecamatan Sutera, mengakui kepada Padang Ekspres bahwa
(Wempi Hardi)






