Jaringan Pipa Perumda Air Minum Soe Berusia 30 Tahun, Kebocoran Hambat Distribusi ke 5.400 Pelanggan

SERGAP.CO.ID

SOE, || Jaringan perpipaan Perumda Air Minum di Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, yang telah berusia lebih dari 30 tahun menjadi salah satu kendala utama dalam optimalisasi pelayanan air bersih kepada pelanggan.

Bacaan Lainnya

Kondisi jaringan yang sudah tua menyebabkan kebocoran sulit dideteksi, sehingga air yang seharusnya diterima pelanggan justru hilang selama proses distribusi.

Direktur Perumda Air Minum Kabupaten TTS, Frans Steven Tafui, S.P., mengatakan pembaruan jaringan perpipaan di dalam Kota Soe menjadi kebutuhan mendesak agar distribusi air lebih optimal dan pelanggan dapat menikmati layanan secara rutin.

“Kalau seluruh jaringan pipa di dalam kota diganti, pelayanan air kepada pelanggan bisa lebih maksimal. Saat ini, kehilangan air terjadi ketika distribusi berlangsung karena banyak pipa yang sudah tidak layak,” kata Frans.

Pipa yang tertanam hingga kedalaman sekitar dua meter membuat kebocoran sulit diketahui. Bahkan, pada sejumlah lokasi, bangunan rumah sudah berdiri di atas jalur pipa sehingga menyulitkan proses pemeriksaan dan perbaikan.

Akibatnya, distribusi air kepada pelanggan belum berjalan optimal. Sebagian pelanggan menerima air setiap dua hari sekali, sementara lainnya harus menunggu hingga empat atau lima hari.

Padahal, berdasarkan perhitungan kapasitas sumber air yang tersedia, pelayanan kepada sekitar 5.400 pelanggan di Kota Soe dinilai berpotensi ditingkatkan.

Kapasitas Sumber Air Dinilai Mencukupi

Frans menjelaskan, terdapat sejumlah sumber air yang selama ini menopang pelayanan di Kota Soe dan sekitarnya.

Sumber Oenasi memiliki kapasitas sekitar delapan liter per detik yang diperkirakan dapat melayani 800 sambungan rumah (SR). Sumur bor Nitboki I juga memiliki kapasitas delapan liter per detik untuk sekitar 800 pelanggan.

Sementara itu, sumber dengan kapasitas enam liter per detik diperkirakan mampu melayani 600 pelanggan. Sumber Nitboki lainnya dengan kapasitas dua liter per detik disebut dapat melayani sekitar 600 pelanggan.

Adapun sumber Bonleu memiliki kapasitas 20 liter per detik untuk sekitar 2.000 pelanggan.

Sumber lainnya meliputi sumur bor Kesetnana, Civic Center, dan SMKN 1, masing-masing dengan kapasitas sekitar dua liter per detik dan proyeksi pelayanan sekitar 200 sambungan rumah.

Menurut Frans, kapasitas tersebut perlu dioptimalkan melalui penataan ulang jaringan distribusi agar air dari setiap sumber dapat disalurkan sesuai kemampuan dan wilayah pelayanan masing-masing.

“Dengan kapasitas sumber yang ada, pelanggan di Kota Soe seharusnya bisa mendapatkan air lebih rutin. Namun, persoalannya saat ini jaringan sudah tidak layak sehingga banyak air yang tidak sampai ke pelanggan,” jelasnya.

Pemkab TTS Didorong Anggarkan Pembaruan Pipa

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Frans berharap Pemerintah Kabupaten TTS dapat memprioritaskan anggaran pembaruan jaringan perpipaan melalui APBD maupun dukungan APBN.

Menurut dia, penggantian jaringan dapat dilakukan secara bertahap selama dua tahun berturut-turut agar penanganannya lebih terarah dan berkelanjutan.

Selain dukungan anggaran pemerintah, alternatif kerja sama dengan pihak ketiga atau investor juga tengah dijajaki.

Skema tersebut diharapkan dapat membantu penyediaan material dan pembangunan jaringan baru, dengan mekanisme pembayaran secara bertahap setelah melalui kajian kelayakan.

“Pemerintah dan Perumda bisa bekerja sama dengan pihak ketiga untuk menyiapkan bahan, kemudian pembayarannya dilakukan secara mencicil. Namun, perlu studi kelayakan untuk mengetahui kemampuan keuangan agar tidak menimbulkan masalah dalam pembayaran,” ungkap Frans.

Ia berharap rencana tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah daerah dan DPRD TTS, mengingat pembaruan jaringan merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi kehilangan air sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan.

Jajaki Investasi dan Pembangunan Reservoir

Selain pembaruan pipa, Perumda juga tengah membangun komunikasi dengan sejumlah calon investor untuk mendukung perbaikan sistem distribusi air bersih.

Frans mengatakan, tim investor telah mengunjungi sejumlah sumber mata air guna melihat kondisi lapangan dan mempelajari potensi pengembangan jaringan.

Salah satu rencana yang sedang dikaji adalah mengalirkan air dari sejumlah sumber menuju reservoir berkapasitas besar di belakang Kantor Bupati TTS.

Pembangunan reservoir tersebut diharapkan dapat membantu pengelolaan dan distribusi air kepada pelanggan. Pelaksanaannya tetap memerlukan kajian teknis serta pemenuhan persyaratan kesehatan agar kualitas air yang disalurkan aman bagi masyarakat.

Perumda saat ini juga menghitung kebutuhan biaya untuk menyusun usulan yang akan disampaikan kepada pemerintah daerah dan DPRD.

Target Pelayanan Meningkat pada 2027

Saat ini, pelayanan air bersih Perumda di Kabupaten TTS masih menjangkau Kota Soe dan sejumlah wilayah di sekitar enam kecamatan. Beberapa wilayah lainnya belum beroperasi optimal karena kendala teknis.

Pada 2027, Perumda menargetkan peningkatan pelayanan agar pelanggan dapat memperoleh air lebih rutin dibandingkan kondisi saat ini.

Frans menegaskan, penambahan kapasitas sumber air saja tidak cukup apabila jaringan distribusi masih mengalami kebocoran. Karena itu, pembaruan pipa menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan efektivitas pelayanan.

Dengan dukungan anggaran pemerintah, kerja sama investasi, dan pembenahan jaringan secara menyeluruh, Perumda berharap distribusi air bersih di Kota Soe dapat menjadi lebih efektif dan menjangkau pelanggan secara lebih merata.

(Desy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *