KOTA BANDUNG, || Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menegaskan bahwa integritas, profesionalisme, dan kemampuan verifikasi menjadi modal utama insan pers menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi.
Hal tersebut disampaikan Erwan saat menghadiri rangkaian Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat di Hotel Horison, Kota Bandung, Kamis (13/8/2026).
Menurut Erwan, perkembangan teknologi informasi telah mengubah secara signifikan cara masyarakat mencari dan menerima berita. Jika sebelumnya masyarakat mengandalkan surat kabar, radio, dan televisi, kini informasi dapat diperoleh secara cepat melalui telepon genggam maupun berbagai platform digital, termasuk teknologi AI.
“Dulu kita mencari informasi melalui koran, radio, dan televisi. Sekarang informasi bisa dicari melalui telepon genggam, bahkan melalui kecerdasan buatan,” ujar Erwan.
Perubahan tersebut, kata dia, sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi profesi wartawan. Kecepatan produksi dan penyebaran informasi tidak boleh mengorbankan akurasi serta proses verifikasi.
Erwan menilai wartawan justru harus memperkuat perannya sebagai pihak yang mampu memilah informasi, menguji kebenaran fakta, dan menyajikan pemberitaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Ketika semua orang bisa membuat konten, wartawan harus mampu memverifikasi. Wartawan harus menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap penyebaran informasi,” katanya.
AI Bukan Pengganti Nurani Wartawan
Erwan mengakui kecanggihan AI dapat membantu manusia dalam menghasilkan dan mengolah berbagai bentuk informasi. Namun, menurut dia, teknologi tetap memiliki batas ketika berhadapan dengan aspek moral, tanggung jawab dan kepentingan publik.
Karena itu, ia mengingatkan insan pers agar tidak melihat AI semata-mata sebagai ancaman, tetapi juga sebagai teknologi yang harus dihadapi secara kritis dan bertanggung jawab.
“Mesin bisa menghasilkan tulisan. Tetapi mesin tidak memiliki nurani, tidak memiliki tanggung jawab moral dan tidak memiliki keberpihakan kepada kepentingan publik,” tutur Erwan.
Pernyataan tersebut menempatkan tantangan utama pers bukan semata-mata pada kemampuan teknologi menghasilkan konten, melainkan pada bagaimana wartawan mempertahankan kualitas jurnalistik di tengah banjir informasi.
Dalam situasi ketika masyarakat dapat memproduksi dan menyebarkan konten secara cepat, pembeda antara konten biasa dengan produk jurnalistik profesional, menurut Erwan, berada pada proses verifikasi, independensi, akurasi dan tanggung jawab terhadap publik.
Ia pun mengajak jajaran PWI Jawa Barat memperkuat kolaborasi dan meningkatkan kualitas pers agar tetap dipercaya masyarakat.
“Mari kita bersama-sama bergandengan tangan membesarkan nama PWI Jawa Barat. Berikan informasi yang baik dan akurat kepada masyarakat,” ujarnya.
PWI Jabar Didorong Jadi Rumah Kreatif
Sementara itu, Ketua PWI Jawa Barat Tantan Sulthon Bukhawan menekankan pentingnya persatuan dan kebersamaan dalam memperkuat organisasi profesi wartawan di Jawa Barat.
Menurut Tantan, PWI Jabar tidak cukup hanya menjadi wadah organisasi, tetapi harus mampu memberikan ruang bagi peningkatan kapasitas dan kreativitas para anggotanya.
Ia menggagas agar kantor atau rumah PWI Jabar dapat berkembang menjadi ruang terbuka untuk belajar, berkarya dan mengabdi kepada masyarakat.
“Saya menginginkan ke depan rumah PWI menjadi rumah kreatif, rumah belajar dan rumah mengabdi,” kata Tantan.
Gagasan tersebut, lanjut dia, diarahkan agar PWI Jabar memiliki manfaat yang lebih luas, baik bagi wartawan maupun masyarakat.
“Saya ingin memperlihatkan PWI di Jawa Barat itu punya nilai,” ujarnya.
Tantangan Pers Bukan Hanya Teknologi
Perkembangan AI pada akhirnya menuntut insan pers untuk terus meningkatkan kompetensi. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan jurnalistik, tetapi keputusan mengenai fakta apa yang layak diberitakan, bagaimana melakukan konfirmasi, serta bagaimana menempatkan kepentingan publik tetap membutuhkan tanggung jawab manusia.
Di sisi lain, organisasi profesi seperti PWI memiliki tantangan untuk memastikan anggotanya mampu mengikuti perubahan teknologi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik.
Konferensi PWI Jabar menjadi momentum untuk mempertemukan dua kebutuhan tersebut: penguatan organisasi dan peningkatan kualitas profesi.
Pesan yang mengemuka adalah bahwa masa depan pers tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang paling cepat menggunakan AI, melainkan oleh siapa yang mampu mempertahankan kepercayaan publik melalui integritas, akurasi dan tanggung jawab jurnalistik.
Di tengah derasnya arus informasi digital, wartawan dituntut tetap menjadi rujukan masyarakat untuk memperoleh informasi yang terverifikasi dan dapat dipertanggungjawabkan.
(Dewi)






