PURWAKARTA, || Tradisi Hajat Lembur yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Sunda kembali digelar meriah di Desa Linggamukti, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta. Melalui kegiatan Hajat Bumi dalam rangka Milangkala Desa Linggamukti ke-45, masyarakat setempat menunjukkan semangat kebersamaan sekaligus rasa syukur atas hasil panen dan keberkahan yang diterima selama ini.
Perayaan yang berlangsung meriah tersebut tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi ruang mempererat silaturahmi antarwarga serta menjaga nilai gotong royong yang diwariskan para leluhur.
Sejak pagi, suasana desa dipenuhi antusiasme masyarakat yang membawa dongdang berisi hasil bumi seperti padi, sayuran, dan aneka hasil pertanian lainnya. Dongdang tersebut kemudian diarak keliling desa sebagai simbol rasa syukur masyarakat atas rezeki dan hasil panen yang diperoleh.
Tradisi Hajat Bumi di Desa Linggamukti juga diwarnai doa bersama dan pertunjukan seni tradisional Sunda yang disambut antusias warga. Ribuan masyarakat tampak memadati lokasi kegiatan, termasuk saat hiburan rakyat digelar pada malam hari di Lapangan Linggajati.
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein, memberikan apresiasi terhadap masyarakat Desa Linggamukti yang terus menjaga tradisi leluhur di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, Hajat Bumi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah desa dan perjuangan para pendahulu dalam membangun wilayah tersebut.
“Hajat Bumi menjadi pengingat tentang perjuangan para leluhur yang membuka dan membangun desa ini dengan penuh kerja keras dan semangat gotong royong,” ujar Om Zein, Rabu (20/5/2026).
Ia juga mengajak generasi muda untuk memahami nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut agar budaya lokal tetap terjaga dan tidak tergerus perkembangan zaman.
“Bayangkan bagaimana para pendahulu kita dulu membuka lahan dengan alat sederhana. Ada semangat kebersamaan dan perjuangan yang harus diwariskan kepada generasi sekarang,” katanya.
Di sisi lain, Kepala Desa Linggamukti, Toto Iskandar, menjelaskan bahwa Hajat Bumi merupakan agenda rutin tahunan yang selalu mendapat dukungan masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya desa sekaligus memperkuat persatuan warga.
“Kegiatan ini adalah bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus sarana mempererat silaturahmi antarwarga,” ujar Toto.
Selain menjadi media pelestarian budaya, tradisi Hajat Lembur juga dinilai memiliki potensi wisata budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat luar daerah untuk mengenal lebih dekat adat dan tradisi Sunda.
Meski modernisasi terus berkembang, masyarakat Desa Linggamukti membuktikan bahwa nilai budaya dan tradisi lokal tetap dapat dipertahankan melalui kebersamaan dan keterlibatan generasi muda.
Melalui Hajat Bumi, masyarakat tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga memperkuat ikatan sosial, menjaga warisan leluhur, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya daerah yang terus hidup di tengah masyarakat Purwakarta.
(Dewi)






