ACEH, || Kontrol sosial adalah hak setiap warga. Bukan hak satu profesi. Ketika kita menjalankan kontrol sosial, alat
utamanya hanya satu: pertanyaan. Sebab pertanyaan adalah jembatan satu-satunya menuju fakta. Tanpa pertanyaan, yang kita sampaikan hanya kabar. Bukan kebenaran yang sudah diuji.
Hari ini semua orang dibanjiri informasi. Dari media sosial, grup percakapan, hingga portal berita. Semua serba cepat. *Di era modern saat ini, media sosial kerap dipakai untuk membenarkan satu versi dari suatu peristiwa.* Masalahnya, cepat tidak selalu tepat. Informasi yang tersebar dalam lima menit biasanya hanya menjawab “apa yang terjadi”. Jarang menjawab “mengapa itu terjadi”. Padahal jawaban “mengapa” itulah inti dari pemahaman.
Pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” mengajak kita mencari tahu lebih jauh. Membuka data. Membandingkan kejadian hari ini dengan kejadian sebelumnya. Mendengar semua pihak yang terlibat. Proses itu tidak instan. Tapi dari proses itulah fakta didapat. Dan fakta adalah dasar untuk bersikap.
Sebaliknya, informasi yang berhenti pada dugaan akan jatuh ke asumsi. Asumsi muncul ketika “mengapa” diganti “kabarnya”. Ketika “bagaimana” diganti “diduga”. Ketika pengecekan diganti “kata orang”. Asumsi itu cepat, mudah, dan sering dibagikan. Tapi ia tidak membangun jembatan ke fakta. Ia menggali jurang menuju fitnah.
Fitnah bukan sekadar salah informasi. Fitnah dapat merusak nama baik seseorang. Fitnah membuat persoalan jadi lebih rumit dari yang sebenarnya. Fitnah membuat pihak yang tidak tahu apa-apa ikut terkena dampak. Dan dampak paling berat: fitnah menggerus kepercayaan publik pada informasi.
Karena itu penting bagi kita semua untuk tahu cara memilah informasi. Pertama, cek apakah sebuah kabar menjawab “mengapa”. Jika hanya ada “apa, siapa, di mana, kapan”, berarti itu baru pengumuman. Belum penjelasan. Kedua, waspadai kata “diduga, disinyalir, konon”. Jika kata itu tidak diikuti data atau keterangan jelas dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, berarti kita sedang membaca dugaan.
Kita juga boleh bertanya sebelum mempercayai dan menyebarkan. Tanyakan: “Sudah ada datanya?” “Sudah dengar semua pihak?” “Ini fakta atau baru dugaan?” Kebiasaan bertanya sebelum berbagi sama pentingnya dengan kebiasaan mencari tahu. Sebab ruang informasi yang sehat lahir dari penerima yang kritis.
Jadi bedakan dua hal ini. Informasi yang dibangun dengan pertanyaan adalah jembatan. Ia membawa kita dari “katanya” ke “nyatanya”. Informasi yang dibangun dengan asumsi adalah jurang. Ia menyeret kita dari fakta ke fitnah, dari satu masalah ke masalah baru. Pilihan untuk bertanya atau langsung percaya ada pada diri kita.
Kontrol sosial bukan pekerjaan satu pihak. Ia kerja bersama. Dimulai dengan bertanya sampai ke fakta. Dilanjutkan dengan membaca sampai ke “mengapa”. Jika kita berhenti bertanya dan mulai berasumsi, yang runtuh bukan hanya kepercayaan pada satu kabar. Yang runtuh adalah hak kita bersama untuk tahu kebenaran.
(Asmadi BA)






