KAB. OKI, || Harapan baru muncul bagi Ruqhayah Ibnu Khumairah, balita berusia empat tahun asal Desa Ulak Depati, Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), yang lahir dengan kondisi medis langka atresia ani atau tanpa lubang anus. Setelah dikunjungi Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, S.E., Jumat (26/9), Ruqhayah kini siap menjalani operasi di Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang.
Kunjungan Bupati Muchendi ke rumah sederhana Ruqhayah dilakukan untuk memastikan anak tersebut mendapatkan perawatan medis yang layak. Dalam kesempatan penuh haru itu, Bupati menyaksikan langsung kondisi Ruqhayah dan keluarganya yang hidup dalam keterbatasan.
“Yang penting ananda mendapatkan perawatan medis yang optimal hingga pulih sepenuhnya. Kami akan memantau proses pengobatan, termasuk operasi lanjutan, agar ananda tidak lagi mengalami gangguan kesehatan,” tegas Bupati Muchendi.
Keesokan harinya, Sabtu (27/9), tim medis Puskesmas Keman merujuk Ruqhayah ke Rumah Sakit Bunda Palembang. Dari hasil diagnosa, ia kemudian dirujuk ke RSMH untuk menjalani operasi kolostomi, yakni pembuatan lubang di dinding perut sebagai saluran sementara pembuangan kotoran sebelum operasi rekonstruksi pencernaan.
Dinas Kesehatan OKI memastikan pendampingan penuh selama proses pengobatan. Kepala Dinas Kesehatan OKI, H. Iwan Setiawan, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan. “Ruqhayah akan menjalani kolostomi sebagai prosedur awal. Tim pendamping Dinkes akan terus memantau kondisi medis dan membantu keperluan administratif keluarga,” jelasnya.
Selain dukungan medis, Pemkab OKI melalui Dinas Sosial juga menyalurkan bantuan disabilitas 2025 berupa kursi roda anak, sembako, dan perlengkapan tidur. Sang nenek, yang menjadi pengasuh Ruqhayah, tercatat sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH) Lansia.
Rico (27), ayah Ruqhayah yang bekerja serabutan sebagai buruh bangunan, mengaku terharu atas perhatian pemerintah. “Saya tidak tahu harus berkata apa selain terima kasih. Bapak Bupati datang langsung, dan sekarang anak saya bisa dioperasi. Ini pertolongan besar bagi kami,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Meski perjalanan pengobatan Ruqhayah masih panjang, langkah penting sudah diambil. Dukungan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi bukti bahwa kepedulian mampu menyalakan kembali harapan bahkan di tengah keterbatasan.
(Wndriansyah)






