Agrowisata Kopi Mattabulu, Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas Dorong Destinasi Edukatif dan Berkelanjutan

Caption : Proses pengambilan bibit kopi dalam rangka Program Agrowisata Kopi yang dilakukan oleh anggota pelaksana Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas di Desa Mattabulu, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Jum'at (01/08/25).

SERGAP.CO.ID

KAB. SOPPENG, || Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dari Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah Universitas Hasanuddin (UKM KPI Unhas) melaksanakan kegiatan agrowisata kopi di Desa Mattabulu, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Jum’at (01/08/25).

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan “Sipatokkong Ri MinasaE” oleh Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas yang berbentuk pengembangan wisata berbasis pertanian, menggabungkan produksi dengan pengalaman wisata informatif dan partisipatif.

“Kami merancang setiap tahap dari pembibitan dan pemeliharaan sebagai paket wisata edukatif yang tidak hanya menambah nilai ekonomi produk, tetapi juga sebagai daya tarik baru melalui layanan pariwisata.” ungkap Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas, Andi Alif Raihan Analta.

Ia menambahkan, program ini dirancang sebagai upaya peningkatan kapasitas warga untuk memahami konsep agrowisata kopi secara menyeluruh, mulai dari penguatan budidaya hingga perencanaan atraksi wisata.

Caption : Proses pengambilan bibit kopi dalam rangka Program Agrowisata Kopi yang dilakukan oleh anggota pelaksana Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas di Desa Mattabulu, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Jum’at (01/08/25).

“Agrowisata kopi ini diharapkan dapat menjadi bagian dari atraksi wisata desa dan bersinergi dengan petani, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta pelaku usaha lokal untuk menjadikan Desa Mattabulu destinasi mandiri dan berkelanjutan,” tutur Raihan.

Lebih lanjut, perwakilan Pokdarwis, Hendri, menuturkan bahwa di antara ikon wisata baru yang tengah dikembangkan, ada kawasan Lembah Cinta, menggabungkan kopi dan durian sebagai daya tarik utama.

“Namun, menurut saya kopi tetap menjadi magnet paling kuat untuk mendatangkan pengunjung karena keunikan rasa dan proses pengolahan hingga hasilnya yang bisa disaksikan langsung di lokasi,” ucapnya saat diwawancara, Jum’at (01/08/25).

Dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, Kelompok Sadar Wisata Mattabulu mengajukan dua fasilitas utama kepada pemerintah daerah, yakni greenhouse untuk proses penjemuran biji kopi dan mesin sortir.

“Dengan greenhouse, kita bisa mengendalikan kadar air biji kopi saat penjemuran sehingga cita rasanya konsisten. Sementara mesin sortir akan menjamin setiap kopi yang kami pasarkan berstatus Grade A,” jelas Hendri.

Melihat antusiasme pasar dan tren kopi spesialti global, Mattabulu menaruh harapan besar agar kunjungan wisatawan terus meningkat.

“Harapan pertama, tentu jumlah kunjungan yang lebih tinggi. Kedua, nama Mattabulu bisa mendunia berkat kopi unggulan kami. Jika itu tercapai, desa kami akan menjadi magnet baru, dan wisatawan akan mengeksplor lebih jauh potensi wisata lain yang ada,” pungkasnya.

(**)                                      

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *