OVOP dan Panen Harapan dari Selatan: TTS Tancap Gas Lawan Stunting dan Kemiskinan

Caption : Wakil Ketua II DPRD TTS, Arsianus Nenobahan

SERGAP.CO.ID

SOE, || Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan bentangan 566 pulau, 22 kabupaten/kota, dan ribuan desa, tengah menghadapi tantangan besar dalam pembangunan ekonomi yang merata. Karakter geografisnya yang unik sebagai wilayah kepulauan memerlukan pendekatan pembangunan yang berbeda dari wilayah daratan.

Bacaan Lainnya

Melalui program One Village One Product (OVOP) yang resmi diluncurkan pada 27 Mei 2025, NTT mencoba membuka jalan baru dalam menata kemandirian ekonomi desa. Namun, implementasi di daerah seperti Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) memerlukan strategi khusus, terutama karena kondisi geografis, keterbatasan akses, serta potensi lokal yang beragam.

Wakil Ketua II DPRD TTS, Arsianus Nenobahan, menyebut program OVOP harus disinergikan dengan visi ketahanan pangan nasional dan lokal.

Menurutnya, Presiden telah memberi arahan tegas terkait swasembada pangan dan hal itu sejalan dengan dorongan Gubernur NTT agar tiap kabupaten dan kota fokus pada sektor pangan.

“Kalau bicara ketahanan pangan, ini bukan cuma soal pertanian, tapi juga soal masa depan anak muda. TTS harus jadi pelopor karena kita punya masyarakat yang 80–90 persen hidup dari sektor pertanian,” ujar Arsianus saat ditemui di SoE, Sabtu (26/7).

Ia menambahkan, meskipun anggaran daerah terbatas, sektor pertanian justru mengalami peningkatan.

Menurutnya, hal itu harus dijadikan momentum untuk mendorong kemandirian desa lewat program-program pertanian berkelanjutan.

TTS sendiri dikenal sebagai salah satu kabupaten dengan angka stunting yang tinggi di NTT. Untuk itu, berbagai pendekatan sedang dilakukan guna mengintervensi langsung pada akar persoalan: kemiskinan dan akses pangan.

Salah satu langkah konkret adalah rencana peluncuran Panen Raya di kawasan Oe’ekam. Program ini akan menyasar anak-anak muda dan dirancang bukan hanya untuk mengajarkan bertani, tetapi juga keterampilan mengelola keuangan dan potensi lokal.

“Kalau anak muda sudah diajari tanam jagung dan kelola hasilnya, otomatis pengangguran akan berkurang. Kita butuh generasi muda yang bukan hanya kerja, tapi berpikir inovatif,” kata Arsianus.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, komunitas lokal, dan stakeholder lainnya. Menurutnya, kesamaan visi dalam memberdayakan anak muda adalah kunci perubahan.

TTS juga memiliki potensi wisata alam dan budaya yang besar. Namun, infrastruktur dan prasarana yang minim membuat sektor ini belum bisa diandalkan sepenuhnya.

“Kalau pariwisata mau maju, harus ada sarana yang mendukung. Jalan, air, listrik, sinyal semua itu harus dibenahi,” imbuhnya.

Dalam konteks OVOP, wisata desa juga bisa menjadi produk unggulan bila dikelola dengan tepat. Oleh karena itu, pemerintah daerah diminta untuk menyusun program kerja yang terukur dan menjangkau akar rumput.

Arsianus berharap, di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati saat ini, ada gagasan baru yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Jangan hanya program di atas kertas, tapi harus bisa dirasakan langsung oleh petani dan warga desa,” tegasnya.

Ia pun menutup dengan pesan agar pemerintah tak pernah bosan memulai sesuatu yang baik.

“Program yang bagus itu harus disosialisasikan terus-menerus. Kalau bisa jalan, dampaknya luar biasa bagi masyarakat.”

Dengan semangat OVOP dan geliat pertanian yang digerakkan oleh anak muda, TTS kini menatap masa depan dengan lebih optimistis. Jalan panjang masih terbentang, namun benih harapan sudah mulai ditanam dari ladang-ladang jagung Oe’ekam.

(Dessy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *