TIMOR TENGAH SELATAN, || Dalam 10 hari yang padat dan penuh makna, Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur, David Imanuel Boimau, A.Md, menempuh perjalanan panjang ke pelosok-pelosok wilayah Timor Tengah Selatan (TTS).
Ia tidak datang hanya membawa nama sebagai legislator, tetapi juga sebagai pendengar setia aspirasi rakyat. Sebanyak 17 titik desa dan kelurahan ia kunjungi, dari Nualunat hingga Nunumeu, dari bilik sekolah hingga forum pemuda, dalam misi reses yang lebih terasa sebagai ziarah sosial dan pengabdian politik.
Reses kali ini bukan sekadar pelengkap kewajiban konstitusional. Dalam setiap titik yang disinggahi, David diterima dengan sambutan hangat, seringkali dengan upacara adat dan tarian tradisional. Kehadirannya dirayakan, bukan karena popularitas semata, melainkan karena kehadiran yang konsisten dan kepedulian yang terasa nyata. Dari kelompok tani, tokoh adat, pemuda, hingga pelaku UMKM, semua merasa punya ruang untuk berbicara dan didengarkan.
Dalam berbagai dialog terbuka, warga menyampaikan keluhan mendasar tentang kehidupan sehari-hari: akses air bersih yang belum merata, keterbatasan fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta lemahnya dukungan pemerintah terhadap koperasi lokal dan pelaku UMKM.
“Kami butuh bukan hanya janji, tapi aksi nyata. Jangan sampai desa selalu jadi korban pembangunan setengah hati,” ucap seorang ibu rumah tangga di Desa Pollo.
David mencatat semuanya. Dengan buku catatan kecil dan raut wajah serius, ia tak segan bertanya lebih dalam.
“Saya hadir bukan untuk mencatat angka-angka statistik, tapi untuk menyerap denyut kehidupan warga,” ujar David dalam kunjungan di Desa Pene Selatan.
Ia meyakini bahwa tugas seorang wakil rakyat bukan hanya di gedung, tapi di ladang-ladang, dapur petani, dan ruang kelas sekolah-sekolah pelosok.
Salah satu momen penting terjadi di SMA Kristen 2 Soe. Di hadapan para siswa dan guru, David menekankan pentingnya akses pendidikan yang layak dan inklusif. Ia juga berdiskusi dengan para pemuda tentang tantangan generasi muda di daerah, termasuk soal pengangguran dan kurangnya ruang kreasi yang mendukung bakat-bakat lokal.
Bagi masyarakat, kehadiran David bukan hal baru. Tapi yang membuat mereka selalu terkesan adalah konsistensinya.
“Pak David selalu datang dengan hati. Ia tahu nama-nama warga, tahu soal sumur kami yang rusak, tahu tentang ternak kami yang butuh vaksin,” kata seorang tokoh adat dari Desa Kualin.
Sebagai legislator, David meyakini bahwa kebijakan harus lahir dari suara-suara terbawah. Ia berjanji untuk membawa semua masukan ke meja rapat DPRD dan memperjuangkannya bersama mitra kerja pemerintah.
“Reses bukan akhir dari dialog, tapi awal dari perjuangan bersama,” ujarnya.
Dengan berakhirnya masa reses pada 19 Juli 2025, warga TTS tidak hanya merasa didatangi, tapi juga diperhatikan. Mereka berharap, reses tidak hanya menjadi ritus politik lima tahunan, tetapi menjadi tradisi demokrasi yang membumi di mana wakil rakyat tidak hanya hadir di spanduk, tapi di tengah sawah, di serambi rumah, dan di lorong-lorong kampung yang penuh harap.
Reses David Boimau adalah cermin kecil dari demokrasi yang ideal: menyentuh, mendengar, dan kembali ke rakyat. Sebuah langkah kecil menuju perubahan yang lebih besar karena pembangunan sejati, lahir dari pemahaman terhadap denyut dan detak kehidupan masyarakat yang paling sederhana.
(Dessy)






