Dukung Program Walikota : Dari Sampah ke Sekolah Inklusif, SMPN 19 Kupang Bergerak

Dukung Program Walikota : Dari Sampah ke Sekolah Inklusif, SMPN 19 Kupang Bergerak
Capton : Kepala Sekolah SMPN 19 Kupang, Gerson Tamo Ama

SERGAP.CO.ID

KUPANG, || SMP Negeri 19 Kupang mengawali tahun ajaran 2025/2026 dengan semangat baru.

Bacaan Lainnya

Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Nehtry Etivani Marlin Merukh, menyebutkan bahwa sebanyak 106 siswa baru telah diterima melalui jalur zonasi, prestasi, dan afirmasi. Penerimaan dilakukan secara daring dan luring.

“Kami sudah lakukan MPLS tanggal 1 sampai 3 Juli dengan tema lingkungan sekolah, tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, serta penerapan tata krama anak,” ungkapnya.

Mayoritas peserta didik baru berasal dari Kabupaten Kupang, khususnya wilayah Bolok. Tahun ini, sekolah membuka empat rombongan belajar (rombel), dengan rata-rata isi kelas antara 27 hingga 28 siswa. Jumlah ini, menurut Nehtry, sudah ideal untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih kondusif.

Kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi warna dalam proses pendidikan di SMPN 19 Kupang. Program pengelolaan sampah organik dan anorganik telah berjalan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Setiap kelas kini memiliki jadwal piket, disertai dengan kegiatan Jumat Bersih yang dilaksanakan di belakang kelas dan halaman sekolah.

Dukung Program Walikota : Dari Sampah ke Sekolah Inklusif, SMPN 19 Kupang Bergerak

Lebih jauh, pihak sekolah juga mengedukasi masyarakat sekitar untuk memilah dan mengelola sampah secara mandiri.

“Kami ajak warga sekitar untuk menyediakan tempat sampah sendiri dan memungut sampah setelah beraktivitas,” imbuh Nehtry.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Febri Cova Anggreny Situmeang, menjelaskan bahwa kegiatan belajar mengajar (KBM) telah berjalan normal sejak 14 Juli. Selain pelajaran inti, kegiatan ekstrakurikuler dan komunitas belajar guru juga rutin dilakukan, terutama setiap hari Sabtu.

Pendekatan pembelajaran di SMPN 19 kini menggunakan konsep deep learning berbasis tema “Berbagi,” yang mencakup pembelajaran yang joyful (menyenangkan), meaningful (bermakna), dan mindful (sadar).

“Kami sudah kirim satu guru untuk berbagi praktik baik. Meski adaptasi belum mudah, kami terus berproses sesuai arahan Dinas,” kata Febri.

SMPN 19 Kupang juga dikenal sebagai sekolah inklusif. Saat ini, sekolah sedang mempersiapkan tiga guru untuk mengikuti pelatihan khusus pendidikan inklusi.

“Kami akan melakukan pendataan ulang untuk siswa berkebutuhan khusus agar bisa diidentifikasi dan dibimbing dengan tepat,” jelasnya.

Kepala Sekolah SMPN 19 Kupang, Gerson Tamo Ama, mendukung penuh program kebersihan yang dicanangkan Wali Kota Kupang. Ia menginstruksikan agar siswa memungut sampah sebelum KBM dimulai.

“Dulu ada tong-tong sampah di depan kelas, sekarang kita fokus pada pembentukan karakter peduli lingkungan,” ujarnya.

Mendukung program 100 Hari Wali Kota Kupang, sekolah juga mengajak siswa menanam pohon sebagai bagian dari gerakan penghijauan. Tiap siswa diminta membawa bibit tanaman dari rumah dan menanamnya di area sekolah. Menurut Gerson, ini adalah langkah nyata dalam mengajarkan cinta lingkungan sejak dini.

Meski menghadapi kendala seperti keterbatasan air, SMPN 19 tetap berkomitmen menjaga kebersihan dan menghijaukan lingkungan.

“Saya terus ingatkan siswa: jaga kebersihan seolah itu rumahmu sendiri. Belajar akan lebih nyaman bila lingkungan bersih dan sehat,” tutup Gerson dengan penuh keyakinan.

(Dessy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *