KUPANG, || Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Semuel Haning, SH.,MH.,C.Me.,C.Parb, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada CV. Lodyatama Rotenusa atas kerjasama yang baik sehingga segel pintu ruang kelas di SD Inpres Tesbatan 2, Kabupaten Kupang, dapat dibuka. Keberhasilan ini memungkinkan proses belajar mengajar bagi para siswa kembali berjalan dengan lancar.
Pernyataan tersebut disampaikan Dr. Semuel Haning di Paradox Cafe, Kota Kupang, pada Senin malam, 18 November 2024. Menurutnya, pembukaan segel tersebut sangat penting agar para siswa dapat melanjutkan kegiatan belajar dengan nyaman, aman, dan tanpa hambatan.
“Saya bersama Kepala Sekolah, guru-guru, dan anak-anak di sana, langsung menginstruksikan untuk membuka segel tersebut. Tujuannya agar anak-anak dapat belajar dengan baik, tanpa ada gangguan. Saya sangat mengapresiasi niat baik Ibu Megi Maramis selaku Kuasa Direktur CV. Lodyatama Rotenusa yang turut berperan dalam penyelesaian masalah ini,” ujar Ketua PGRI NTT itu.
Lebih lanjut, Dr. Haning menegaskan pentingnya kerja sama antara semua pihak terkait untuk memastikan proses pendidikan tidak terganggu. Menurutnya, anak-anak adalah masa depan bangsa, sehingga apapun permasalahan yang muncul, mereka tidak boleh menjadi korban.
“Anak-anak sekolah adalah generasi penerus bangsa ini, mereka harus mendapatkan hak pendidikan dengan baik. Saya berharap setiap pihak bisa bekerja sama agar pendidikan mereka tidak terhambat,” tegasnya.
Sebelumnya, proses belajar mengajar di SD Tesbatan 2 sempat terhambat akibat penyegelan ruang kelas yang dilakukan oleh CV. Lodyatama Rotenusa, kontraktor yang mengerjakan proyek pembangunan ruang kelas tersebut. Penyegelan ini terjadi karena ada dugaan masalah pembayaran antara pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Kabupaten Kupang dengan kontraktor.
Sebagai Ketua PGRI NTT, Dr. Semuel Haning merasa berkewajiban untuk memantau langsung perkembangan dunia pendidikan di provinsi tersebut. Menurutnya, tidak ada alasan untuk membiarkan anak-anak kehilangan kesempatan belajar hanya karena masalah administratif.
“Masalah yang berdampak pada terhambatnya proses pendidikan harus segera diselesaikan. Anak-anak tidak boleh dikorbankan dalam situasi seperti ini,” tegas Dr. Haning.
Dr. Haning juga menyampaikan, berdasarkan informasi yang diterimanya, ada keterlambatan pembayaran antara Dinas P&K Kabupaten Kupang dan CV. Lodyatama Rotenusa. Oleh karena itu, ia meminta pihak Dinas Pendidikan untuk segera melunasi pembayaran yang masih tertunda agar masalah ini tidak berlarut-larut.
“Saya sangat berharap agar Dinas P&K Kabupaten Kupang segera menyelesaikan kewajiban pembayaran yang masih tertunda kepada kontraktor. Meskipun pekerjaan sudah selesai dan anak-anak telah bisa kembali belajar, namun masalah ini belum tuntas,” jelasnya.
Ketua PGRI NTT juga menekankan bahwa masalah seperti ini harus diselesaikan dengan segera demi kepentingan pendidikan dan hak-hak pekerja yang telah menyelesaikan tanggung jawabnya. Ia menilai keterlambatan pembayaran yang berlarut-larut sangat merugikan semua pihak, terutama siswa yang haknya untuk belajar terganggu.
“Pekerjaan sudah selesai, anak-anak sudah bisa belajar, tetapi pihak P&K Kabupaten Kupang belum menunjukkan niat baik untuk menyelesaikan pembayaran. Ini sangat disayangkan,” tambah Dr. Haning.
Selain itu, ia juga meminta agar Aparat Penegak Hukum (APH), baik Kepolisian maupun Kejaksaan, segera melakukan penyelidikan terhadap masalah ini. Menurutnya, penyebab keterlambatan pembayaran yang berujung pada penyegelan ruang kelas harus diusut agar tidak ada pihak yang dirugikan lebih lanjut.
“Harus ada kejelasan tentang kenapa pembayaran belum dilakukan. Ini sangat berdampak pada dunia pendidikan, dan saya tidak ingin anak-anak menjadi korban dari persoalan ini,” ujar Ketua PGRI NTT tersebut.
Ia menekankan bahwa penyelesaian masalah ini sangat penting untuk menjaga mutu pendidikan dan memastikan tidak ada lagi hambatan bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang layak. Dengan langkah-langkah yang tepat, Dr. Haning yakin bahwa masalah ini bisa segera diselesaikan dan tidak akan terjadi lagi di masa depan.
Ketua PGRI NTT mengakhiri sambutannya dengan harapan bahwa seluruh elemen terkait dapat berkolaborasi dengan baik, agar dunia pendidikan di NTT bisa terus maju dan berkembang tanpa adanya kendala-kendala yang mengganggu. Pihaknya juga berharap bahwa ke depan, setiap permasalahan pendidikan bisa diselesaikan secara bijaksana dan mengutamakan kepentingan anak-anak.
“Ini adalah langkah awal yang baik. Saya percaya dengan kerjasama yang baik antara pihak-pihak terkait, kita bisa memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak kita,” tutup Dr. Semuel Haning.
(Dessy*)






