KUPANG, || Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen (FKIPK) Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya tenaga kependidikan (tendik), sebagai langkah strategis meningkatkan mutu pelayanan akademik, tata kelola kelembagaan, dan reputasi perguruan tinggi.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Peningkatan Mutu SDM Tenaga Kependidikan FKIPK IAKN Kupang bertema “SDM Unggul dengan Rekognisi Nasional dan Internasional” yang dilaksanakan pada Selasa, 14 Juli 2026.
Kegiatan ini menjadi momentum bagi FKIPK untuk mendorong transformasi budaya kerja yang lebih profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta berlandaskan nilai-nilai Kristiani.
Dekan FKIPK IAKN Kupang, Delsylia Tresnawaty Ufi, S.Th., M.Si., menegaskan bahwa tenaga kependidikan memiliki peran penting dalam menentukan kualitas pelayanan dan efektivitas tata kelola perguruan tinggi.
Menurutnya, keberhasilan sebuah fakultas tidak hanya ditentukan oleh kualitas dosen dan mahasiswa, tetapi juga oleh kemampuan tenaga kependidikan dalam memberikan pelayanan administrasi yang cepat, tepat, transparan, dan akuntabel.
Karena itu, peningkatan kompetensi tenaga kependidikan menjadi kebutuhan penting untuk menjawab tantangan pendidikan tinggi yang semakin dinamis.
“Tenaga kependidikan perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memperkuat digitalisasi administrasi, memahami implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan akreditasi, serta memberikan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pengguna layanan,” tegas Delsylia.
–Tiga Pilar Penguatan SDM
Delsylia menjelaskan, pengembangan kualitas tenaga kependidikan tidak cukup hanya melalui peningkatan keterampilan teknis. Penguatan tersebut harus disertai pembentukan mentalitas kerja dan identitas sebagai insan pendidikan Kristen.
Untuk itu, FKIPK IAKN Kupang menitikberatkan pengembangan SDM pada tiga aspek utama, yakni Capacity Building, Mentality Building, dan Identity Building.
Capacity Building diarahkan pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas tenaga kependidikan agar mampu menjalankan tugas secara kompeten.
Sementara itu, Mentality Building berfokus pada pembentukan mentalitas kerja yang disiplin, bertanggung jawab, inovatif, dan berintegritas.
Adapun Identity Building bertujuan memperkuat identitas tenaga kependidikan sebagai bagian dari institusi pendidikan Kristen yang menjunjung tinggi kejujuran, kerendahan hati, kepedulian, serta semangat melayani.
Ketiga aspek tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam membangun budaya kerja yang sehat sekaligus meningkatkan kepercayaan dosen, mahasiswa, pimpinan, dan seluruh pemangku kepentingan terhadap pelayanan fakultas.
Delsylia menekankan, nilai-nilai Kristiani harus tercermin dalam tindakan nyata, bukan sekadar menjadi identitas kelembagaan.
Dengan demikian, profesionalisme tenaga kependidikan tidak hanya diukur dari kemampuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga dari sikap, tanggung jawab, dan kualitas interaksi dalam memberikan pelayanan.
Perubahan Budaya Kerja Jadi Tolok Ukur
Lebih lanjut, Delsylia berharap kegiatan peningkatan mutu SDM tersebut menghasilkan perubahan nyata dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Menurutnya, keberhasilan pengembangan SDM tidak cukup diukur dari terselenggaranya kegiatan atau bertambahnya pengetahuan peserta. Hal yang lebih penting adalah penerapan hasil pembelajaran dalam meningkatkan efektivitas kerja, memperkuat koordinasi, dan membangun pelayanan yang semakin berkualitas.
Karena itu, seluruh peserta didorong untuk berpartisipasi aktif, berbagi pengalaman, serta menyusun langkah tindak lanjut yang dapat diterapkan sesuai bidang tugas masing-masing.
Transformasi budaya kerja ini dinilai penting untuk mendukung penerapan sistem penjaminan mutu, meningkatkan kesiapan menghadapi proses akreditasi, serta memperkuat tata kelola fakultas yang profesional dan akuntabel.
Dukungan tenaga kependidikan yang kompeten juga menjadi salah satu unsur penting dalam menciptakan lingkungan akademik yang kondusif dan mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.
Perpanjangan Kerja Sama dengan STIKOM UYELINDO.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi kelembagaan, kegiatan tersebut juga ditandai dengan penandatanganan perpanjangan Memorandum of Agreement (MoA) antara FKIPK IAKN Kupang dan STIKOM UYELINDO Kupang.
Selain itu, dilakukan penandatanganan Implementation Agreement (IA) antara STIKOM UYELINDO Kupang dan seluruh koordinator program studi di lingkungan FKIPK IAKN Kupang.
Penandatanganan dokumen kerja sama tersebut menjadi bagian dari komitmen kedua institusi dalam memperkuat hubungan kelembagaan dan mendukung pelaksanaan program kerja sama sesuai kesepakatan yang dibangun.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk memperluas peluang pengembangan kapasitas, meningkatkan kualitas pelaksanaan program akademik, serta memperkuat jejaring antarlembaga pendidikan tinggi.
Delsylia menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM harus menjadi komitmen bersama yang dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan.
Ia mengajak seluruh jajaran FKIPK IAKN Kupang untuk membangun fakultas yang tidak hanya unggul dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, tetapi juga memiliki tata kelola yang baik, budaya mutu yang kuat, serta pelayanan yang profesional.
Melalui penguatan kompetensi, integritas, inovasi, dan karakter Kristiani, FKIPK IAKN Kupang optimistis dapat meningkatkan kualitas layanan akademik dan administrasi sekaligus memperkuat daya saing institusi.
Upaya ini diharapkan menjadi bagian dari langkah berkelanjutan FKIPK dalam mendukung peningkatan mutu dan reputasi IAKN Kupang, sehingga semakin mampu memperoleh rekognisi di tingkat nasional maupun internasional.
(*)






