Tugas Kita Bukan Mengantar Kebenaran, Cukup Jangan Halangi

SERGAP.CO.ID

OPINI, || Kebenaran tidak pernah berteriak untuk membuktikan dirinya benar. Ia tidak memaksa. Ia hanya berjalan dengan tenang, dengan kakinya sendiri, karena ia tahu kemana ia harus pulang.

Bacaan Lainnya

Dalam pandangan Islam, keyakinan ini memiliki landasan yang kokoh. Al-Haqq, yang berarti Maha Benar, adalah salah satu Asmaul Husna milik Allah SWT. Jika sumber kebenaran itu sendiri adalah Allah, maka tidak ada kekuatan apa pun yang dapat mematikannya untuk selamanya.

Kita sering menyaksikan bagaimana sebuah fakta coba ditutupi. Untuk sehari, dua hari, mungkin upaya itu terlihat berhasil. Namun kebohongan memiliki beban. Ia lelah. Satu dusta harus ditutup dengan dusta yang lain. Lama-kelamaan ia runtuh oleh bebannya sendiri.

Berbeda dengan kebenaran. Ia sederhana, ringan, dan konsisten dari awal hingga akhir. Karena itu ia bertahan.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Wa qul jaa-al haqqu wa zahaqal baathilu, innal baathila kaana zahuuqaa.

Artinya: “Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra: 81)

Ayat ini adalah penenang bagi hati yang resah. Ia menegaskan bahwa kebatilan itu rapuh. Sifatnya adalah zahuqa, pasti lenyap.

Al-Qur’an juga mendidik kita untuk bersikap jujur dalam menyikapi kebenaran:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42)

Lantas, apa peran kita? Peran kita bukanlah menjadi hakim yang merasa paling benar. Peran kita jauh lebih sederhana.

Tugas kita bukan untuk mengantar kebenaran pulang. Ia tahu jalan pulang sendiri. Tugas kita adalah cukup jangan menjadi penghalang di tengah jalannya.

Jangan menjadi penghalang dengan menyembunyikan kebenaran yang kita ketahui. Jangan menjadi penghalang dengan ikut menyebarkan kabar yang belum pasti kebenarannya.

Kebenaran itu punya kaki sendiri. Ia akan menemukan jalan pulang. Pertanyaannya, saat ia pulang nanti, apakah ia akan mendapati kita sebagai orang yang membersihkan jalannya, atau justru yang menghalanginya?

(Penulis: M. Adhar)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *