DPD JWI Nagan Raya: Kebenaran Berfungsi Integratif, Kebohongan Disintegratif

Captio: Sekretaris DPD JWI Nagan Raya, M. Adhar, saat menyampaikan pandangannya tentang fungsi sosial kebenaran dan kebohongan di era digital, di Sekretariat DPD JWI Nagan Raya, Gampong Kuta Trieng, Darul Makmur, Nagan Raya, Senin pagi (13/10/2025).

SERGAP.CO.ID

KAB. NAGAN RAYA, || Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Jajaran Wartawan Indonesia (DPD JWI) Kabupaten Nagan Raya, M. Adhar, menyatakan tugas masyarakat bukan mengantar kebenaran, melainkan cukup tidak menjadi penghalang bagi kebenaran itu sendiri.

Bacaan Lainnya

Pernyataan tersebut disampaikan M. Adhar dalam keterangannya kepada media di Sekretariat DPD JWI Nagan Raya Gampong Kuta Trieng, Kecamatan Darul Makmur, kabupaten setempat, Senin pagi (12/10/2025).

Menurut Adhar, dalam perspektif sosiologi, kebenaran dan kebohongan memiliki fungsi sosial yang bertolak belakang, terlebih di era digital saat ini.

“Dalam masyarakat, kebenaran memiliki fungsi integrasi. Ia menyatukan. Sedangkan kebohongan memiliki fungsi disintegrasi. Ia memecah belah. Di era digital saat ini, fungsi disintegrasi itu berlipat ganda kecepatannya,” ujar M. Adhar.

Ia menjelaskan, kebohongan di era digital memiliki beban sosial yang jauh lebih berat karena membutuhkan energi kolektif untuk dipertahankan. Satu kebohongan harus ditutup dengan kebohongan lain, sehingga melelahkan secara sosial, apalagi dengan algoritma media sosial yang mempercepat penyebarannya.

“Berbeda dengan kebenaran. Ia sederhana, ringan, dan konsisten. Karena itu ia bertahan dan hemat energi sosial, meskipun di awal kalah cepat dari hoaks,” katanya.

Adhar menyoroti fenomena konflik horizontal yang terjadi di akar rumput akibat banjir informasi digital.

“Kita lihat hari ini, konflik horizontal di akar rumput sering kali bukan karena fakta yang berbeda, tapi karena kabar yang belum pasti kebenarannya ikut disebarkan hanya dengan satu klik share. Di era digital, jari kita bisa menjadi jembatan atau justru menjadi penghalang kebenaran,” ujarnya.

Adhar mengajak seluruh tim anggota DPD JWI Nagan Raya untuk lebih bijak bermedia sosial dan tidak menjadi agen yang memperkeruh ruang sosial digital.

“Tugas kita sebagai bagian dari masyarakat di era digital ini bukan menghakimi siapa yang paling benar, tapi cukup jangan menjadi agen yang memperkeruh ruang sosial dengan menyembunyikan atau memutarbalikkan kebenaran. Cukup verifikasi sebelum share, itu sudah membantu kebenaran pulang,” kata Adhar.

Lebih lanjut, Adhar mengingatkan dampak sistemik jika kebenaran dihalangi pada level elit di tengah keterbukaan informasi saat ini.

“Ketika kebenaran dihalangi di tingkat elit, yang hancur adalah kepercayaan sosial di tingkat bawah. Dan ketika kepercayaan sosial sudah hancur, pembangunan apa pun tidak akan berdiri, se-viral apa pun pencitraannya di media sosial,” pungkas Sekretaris DPD JWI Nagan Raya itu.

Di akhir keterangannya, Adhar berharap nilai kejujuran tetap dijaga sebagai modal sosial masyarakat Nagan Raya yang dikenal religius dan menjunjung tinggi adat istiadat.

“Pada akhirnya kita semua ingin hidup tenang bertetangga. Tidak ada yang ingin hidup dalam curiga. Mari kita jaga ruang sosial kita tetap jernih, karena Nagan Raya yang rukun tidak dibangun dari berita yang paling viral, tapi dari kepercayaan yang paling jujur,” tutupnya. (*)

(Tim: DPD JWI Nagan Raya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *