KUPANG, || Nilai Tukar Petani (NTP) di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan perbaikan pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) NTT mencatat NTP mencapai 101,29, meningkat 1,10 persen dibandingkan Juli 2026 yang berada pada level 100,19.
Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, mengatakan kenaikan tersebut terutama dipengaruhi meningkatnya indeks harga yang diterima petani, sementara indeks harga yang harus dibayar petani justru mengalami penurunan.
“Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 0,99 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani turun 0,10 persen,” kata Matamira di Kupang, Rabu.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan adanya perbaikan posisi nilai tukar hasil produksi pertanian terhadap biaya yang dikeluarkan petani dibandingkan bulan sebelumnya.
Empat Subsektor Menguat
Kenaikan NTP terjadi pada empat dari lima subsektor pertanian.
Subsektor tanaman perkebunan rakyat mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,05 persen, disusul tanaman pangan 1,05 persen, perikanan 1,00 persen, dan peternakan 0,06 persen.
Sementara itu, subsektor hortikultura menjadi satu-satunya yang mengalami penurunan, yakni 0,26 persen. Penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya indeks harga pada kelompok sayur-sayuran dan buah-buahan.
Sejumlah komoditas turut menopang kenaikan NTP NTT pada Agustus, di antaranya gabah, kakao atau biji cokelat, jambu mete, dan jagung.
Pengeluaran Rumah Tangga Petani Turun
Dari sisi pengeluaran, indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun 0,10 persen.
Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh turunnya Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,13 persen. Harga beberapa komoditas seperti bawang merah, sawi hijau, dan tomat sayur tercatat menurun.
Namun, penurunan tersebut tertahan oleh kenaikan harga beras dan tarif angkutan.
Secara tahunan, perkembangan IKRT petani NTT tercatat sebesar 2,6 persen.
NTUP NTT Ikut Menguat
Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) NTT pada Agustus 2026 juga mengalami peningkatan.
BPS mencatat NTUP mencapai 105,92, naik 0,88 persen dibandingkan Juli 2026.
Matamira menjelaskan NTUP membandingkan indeks harga yang diterima petani dengan biaya produksi dan penambahan barang modal, tanpa memasukkan komponen konsumsi rumah tangga.
“Jadi, NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani,” ujarnya.
Peningkatan NTUP terutama ditopang subsektor tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, dan perikanan.
Sementara subsektor hortikultura dan peternakan tercatat mengalami penurunan.
Dengan kenaikan NTP dan NTUP tersebut, perkembangan indikator pertanian NTT pada Agustus 2026 menunjukkan adanya perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya, meski tekanan harga pada sejumlah komoditas hortikultura masih menjadi perhatian.
(Desy)






