TTS, || Syukuran Raja Amanuban, Drs. Jonathan Nubatonis, menjadi momentum memperkuat persatuan antarsuku di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan yang digelar di Sonaf Amanuban, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), pada Selasa (15/9/2026) itu mempertemukan tokoh adat, tokoh agama, perwakilan klan dan masyarakat dari berbagai daerah di NTT.
Kehadiran masyarakat dari Sumba, Flores, Sabu Raijua, Rote Ndao, Timor hingga Belu menunjukkan kuatnya hubungan antarsuku sekaligus dukungan terhadap pelestarian budaya Amanuban.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ungkapan syukur, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antarsuku sekaligus menjaga warisan budaya yang telah diwariskan leluhur.
Dalam kesempatan itu, Jonathan menegaskan komitmennya bersama para amaf dan masyarakat adat untuk menata serta memperkuat budaya Amanuban. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan masyarakat adat Mollo dan Amanatun.
“Kita berada dalam tahap penataan budaya Amanuban. Kita berkolaborasi dengan Mollo dan Amanatun untuk membangun budaya TTS sesuai norma-norma yang diwariskan leluhur,” ujar Jonathan.
Menurut Jonathan, kebersamaan masyarakat adat menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus mendukung pembangunan masyarakat TTS.
Kehadiran tokoh masyarakat dari Sumba, Flores, Sabu Raijua, Rote Ndao, Timor hingga Belu, menurutnya, menunjukkan perhatian terhadap perkembangan budaya Amanuban sekaligus mempererat hubungan antarsuku di NTT.
“Kerajaan Amanuban merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suku-suku yang ada di NTT. Karena itu, kita perlu membangun kebersamaan dan menjaga budaya yang diwariskan leluhur,” katanya.
–Masyarakat Sabu Apresiasi Syukuran Raja Amanuban
Mewakili masyarakat Sabu Raijua, Frits Jubida memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan syukuran Raja Amanuban sekaligus pengukuhan amaf pendukung Kerajaan Amanuban.
Frits mengatakan masyarakat Sabu memiliki hubungan yang luas dengan berbagai daerah di NTT, termasuk dengan TTS dan wilayah Amanuban.
“Kita orang Sabu tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana,” ujar Frits.
Ia berharap keberadaan Raja Amanuban dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dan melestarikan budaya Amanuban kepada masyarakat dari berbagai daerah.
Frits juga mengapresiasi perhatian Jonathan terhadap masyarakat, khususnya dalam bidang sosial, pendidikan dan kesehatan.
“Semoga Raja Nubatonis, Raja Jonathan diberkati,” katanya.
Empat Amaf Pendukung Raja Amanuban
Sementara itu, Yeremias Busi, yang dikukuhkan sebagai salah satu amaf pendukung Kerajaan Amanuban, turut mengungkap sejarah keluarganya yang berkaitan dengan perjalanan Kerajaan Amanuban.
Ia menyebut leluhurnya, Loki Fina, sebagai salah satu tokoh yang mendukung Raja Nuban. Dalam perjalanan sejarah, garis keluarga tersebut kemudian menggunakan marga Busi.
Yeremias mengatakan sejarah tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang keluarganya dalam menelusuri garis keturunan serta pengakuan sejarah keluarga Busi dalam perjalanan Kerajaan Amanuban.
Menurut Yeremias, terdapat empat amaf pendukung Raja Amanuban, yakni Fina, Isu, Sae dan Baok.
Dalam syukuran tersebut, tiga amaf hadir, yakni Fina, Sae dan Baok. Sementara Amaf Isu berhalangan hadir.
Syukuran Raja Amanuban akhirnya tidak hanya menjadi agenda adat, tetapi juga menjadi momentum mempererat hubungan antarsuku dan antardaerah di NTT.
Semangat kebersamaan tersebut diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga adat, budaya dan nilai-nilai warisan leluhur di tengah perkembangan masyarakat.
(Desy)






