KOTA BANDUNG, || Perjalanan menuju pasar global tidak selalu dimulai dari ekspor dalam skala besar. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kota Bandung, langkah tersebut dapat tumbuh dari proses panjang membangun produk, menemukan karakter usaha, mengikuti pembinaan, hingga berani membawa karya lokal ke panggung internasional.
Pengalaman itu dirasakan sejumlah UMKM Kota Bandung yang mendapat kesempatan memperkenalkan produknya dalam Mega Halal Bangkok 2026 di Thailand.
Bagi mereka, ajang tersebut bukan sekadar ruang untuk memamerkan produk, tetapi juga menjadi kesempatan menguji kesiapan usaha, membaca respons pasar, dan membangun jejaring dengan calon mitra dari berbagai negara.
Perjalanan Belyanza menuju pasar global berawal jauh sebelum brand fesyen tersebut tampil di Bangkok.
CEO sekaligus Founder Belyanza, Nita Belliani Burhan mulai merintis usaha sejak 2011. Saat itu, ia masih mencari bentuk usaha sekaligus karakter yang tepat untuk brand yang kemudian resmi menggunakan nama Belyanza pada 2013.
Sebelum membangun brand sendiri, Nita sempat menjual pakaian yang diperoleh dari Tanah Abang dan Thamrin City.
Namun, ketertarikannya terhadap fesyen membuatnya mulai bereksperimen dengan pakaian yang digunakan sendiri.
Ia melakukan remake dan mix and match terhadap pakaian thrift hingga menghasilkan tampilan yang justru lebih disukai pelanggan.
“Selama satu tahun saya jualan bajunya orang, akhirnya saya bikin brand sendiri,” ujar Nita.
Perjalanan tersebut kemudian berkembang menjadi proses panjang menemukan DNA Belyanza. Nita yang sebelumnya berkarier di dunia entertainment mulai mempelajari pola, potong, dan jahit secara mandiri hingga akhirnya memiliki konveksi sendiri.
Belyanza kemudian menemukan karakter yang berbeda dari fesyen yang banyak beredar di pasaran.

Nita memilih mengembangkan gaya street style, edgy, dan aktif dengan detail bordir serta sulam, sekaligus menyasar perempuan yang menginginkan busana dengan karakter kuat tanpa terlalu banyak ornamen feminin.
“Saya yang tidak terlalu feminin mewadahi kebutuhan perempuan yang tidak banyak bunga-bunga, tidak banyak polkadot. Itulah Belyanza,” katanya.
Perjalanan tersebut juga tidak selalu berjalan mulus. Salah satu ujian terbesar datang ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat itu Belyanza telah memiliki 16 toko di berbagai daerah dan menyiapkan bahan baku dalam jumlah besar untuk memenuhi permintaan menjelang Lebaran.
Pandemi membuat permintaan berhenti dan stok bahan berubah menjadi deadstock.
Belyanza kemudian harus beradaptasi agar usaha dan tenaga kerja tetap berjalan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memproduksi alat pelindung diri (APD), setelah mendapat masukan dari keluarga Nita yang bekerja di bidang kesehatan.
Langkah tersebut membuat aktivitas para penjahit dan sumber daya manusia Belyanza tetap berjalan di tengah situasi sulit.
Dari masa tersebut, Nita justru melihat pentingnya kemampuan beradaptasi. Belyanza kemudian mengembangkan produk yang lebih dekat dengan gaya hidup aktif dan kebutuhan wellness.
Inovasi juga menjadi bagian dari perjalanan Belyanza. Pada 2024, Nita mulai mempelajari teknologi artificial intelligence (AI) untuk mendukung proses kreatif dan produksi konten.
Ia bahkan mengikuti pembelajaran secara langsung dengan mentor asal Rusia di Bali. Teknologi tersebut kemudian digunakan untuk memvisualisasikan gagasan desain secara lebih detail, termasuk koleksi Whisper of the Sea yang terinspirasi dari ketenangan perempuan di dalam air.
Setelah melalui perjalanan panjang tersebut, Belyanza mulai membuka langkah menuju pasar internasional. Mega Halal Bangkok 2026 menjadi salah satu panggung yang mempertemukan brand tersebut dengan buyer dan calon mitra dari berbagai negara.
Menurut Nita, pengalaman tersebut memberikan dampak bukan hanya dari sisi peluang kerja sama, tetapi juga kepercayaan terhadap brand.

Ia menyebut kehadiran di ajang internasional menjadi salah satu cara menunjukkan bahwa produk UMKM juga mampu memenuhi standar dari sisi kualitas, desain, dan karakter.
Bagi Belyanza, perjalanan menuju pasar global bukan sekadar persoalan membawa produk keluar negeri. Ada proses panjang untuk menemukan identitas, mempertahankan kualitas, membaca perubahan pasar, dan terus belajar.
Dari Riset
Cerita berbeda datang dari Tsurayaa Tea. Brand yang mengusung teh dengan konsep wellness ini lahir dari rasa penasaran Sena Oktavianti terhadap potensi komoditas teh Jawa Barat.
Founder Tsurayaa Tea sekaligus tea educator, Sena Oktavianti, sebelumnya berkarier di Jakarta sebagai konsultan pajak setelah bekerja di perusahaan migas. Ia kemudian pindah ke Bandung pada masa pandemi untuk mengurus keluarga.
Di Kota Bandung, Sena mulai melihat potensi komoditas Jawa Barat yang menurutnya belum banyak diolah menjadi produk bernilai tambah.
Ketertarikannya terhadap teh bermula ketika ia dan suaminya berkunjung ke perkebunan teh.
Saat itu, Sena yang sebenarnya tidak terbiasa minum teh justru mendapatkan pengalaman berbeda ketika mencoba teh yang diberikan petani.
Dari rasa penasaran tersebut, Sena mulai melakukan riset dan mempelajari teh sejak 2020. Ia mengikuti pendidikan dan sertifikasi mengenai teh hingga kemudian semakin memahami bahwa satu tanaman teh dapat menghasilkan berbagai jenis teh dengan karakter yang berbeda.
Pengetahuan tersebut kemudian membawanya mendalami tea blending dengan menggabungkan teh dengan bunga, buah, dan rempah.
Konsep Tsurayaa kemudian diarahkan pada wellness. Sena melihat teh bukan hanya sebagai minuman, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup dan pengalaman menikmati waktu dengan lebih tenang.
Setelah melalui proses riset selama beberapa tahun, Tsurayaa Tea resmi diluncurkan pada 2024.
Sena kemudian mengembangkan berbagai varian dengan karakter dan cerita masing-masing. Dari awalnya sekitar 10 varian, Tsurayaa sempat memiliki hingga 40 varian sebelum akhirnya dikurasi menjadi 22 produk.
Untuk pengembangan bahan baku, Tsurayaa juga bekerja sama dengan petani di Jawa Barat. Produk single origin seperti teh putih, teh hijau, teh merah, dan teh kuning diproses dari bahan yang dikurasi di kebun, sementara proses blending dan pengemasan dilakukan di tempat produksi Tsurayaa.
Salah satu karakter yang ditekankan Tsurayaa adalah penggunaan bahan alami. Untuk produk tea blending, Tsurayaa menggunakan bunga, buah, dan rempah tanpa menggunakan essence.
Perjalanan menuju Mega Halal Bangkok kemudian datang melalui proses pembinaan dan jejaring dengan berbagai pihak. Sena mengatakan dirinya telah mengikuti berbagai pelatihan dan kurasi yang membantu Tsurayaa mempersiapkan diri untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Dalam proses tersebut, pihak yang mengenal produk Tsurayaa kemudian merekomendasikannya untuk mengikuti Mega Halal Bangkok 2026.
Setelah melalui proses kunjungan dan melihat langsung produk serta cara penyajian Tsurayaa, kesempatan mengikuti ajang internasional tersebut akhirnya terbuka.
Bagi Sena, kesempatan tersebut menjadi pengalaman penting untuk memperkenalkan teh Indonesia sekaligus melihat potensi pasar internasional.
Di Bangkok, Tsurayaa membawa sembilan varian produk. Sejumlah produk mendapat perhatian pengunjung, termasuk produk tea blending seperti Hazelnut Dream Tea.
Selain produknya, cara penyajian juga menjadi bagian dari pengalaman Tsurayaa di sana. Tim memperagakan proses penyeduhan secara langsung agar pengunjung dapat memahami cara menikmati teh dengan karakter yang berbeda.
Sena mengatakan pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa produk teh Indonesia memiliki potensi untuk dikenal lebih luas.
Jejaring Global
Pengalaman di Bangkok kemudian memberikan ruang baru bagi UMKM Kota Bandung untuk membangun jejaring internasional. International Business Development Representative Tsurayaa Tea, Astria Nurul Andari, mengatakan keikutsertaan dalam Mega Halal Bangkok mempertemukan Tsurayaa dengan calon mitra dari sejumlah negara.
Menurutnya, sejumlah pengunjung datang bukan hanya untuk mencoba produk, tetapi juga menunjukkan ketertarikan untuk membawa produk Tsurayaa ke bisnis mereka.
Ada calon mitra dari Thailand dan Malaysia yang memiliki bisnis kafe dan tertarik menjajaki kerja sama. Selain itu, jejaring juga berkembang dengan pelaku usaha lain yang hadir dalam ajang tersebut.
“Secara link, jujur sudah dapat banyak,” kata Astria.
Bagi Astria, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya pelaku UMKM membangun relasi dan memahami produknya sendiri sebelum masuk ke pasar yang lebih luas.
Ia juga mendorong pelaku UMKM untuk memanfaatkan berbagai pelatihan dan fasilitas yang tersedia, termasuk program pembinaan dari pemerintah.
Menurutnya, produk yang kuat tetap perlu didukung kemampuan membangun jejaring agar dapat menemukan peluang pasar.
Sementara itu, Sena berharap dukungan terhadap UMKM tidak berhenti pada pembinaan, tetapi juga berlanjut pada promosi dan pembukaan akses pasar internasional.
Ia menilai produk lokal, termasuk teh Indonesia, memiliki potensi besar untuk bersaing apabila mendapatkan dukungan promosi yang konsisten.
Pengalaman Belyanza dan Tsurayaa menunjukkan bahwa jalan menuju pasar global bukanlah perjalanan instan. Ada proses panjang di balik setiap produk, mulai dari menemukan identitas, mengembangkan kualitas, beradaptasi dengan perubahan zaman, hingga membangun jejaring.
Dari Kota Bandung, perjalanan itu kini mulai menemukan panggung yang lebih luas. Mega Halal Bangkok 2026 menjadi salah satu persinggahan penting dalam perjalanan tersebu. Bukan sebagai titik akhir, melainkan bagian dari langkah UMKM Kota Bandung untuk terus memperkenalkan produk lokal ke pasar global.
(Dewi)






