Kolokium AP2TPI XXII Bandung 2026 Bahas Masa Depan Pendidikan Psikologi di Era Generative AI

SERGAP.CO.ID

KOTA BANDUNG, || Ratusan pimpinan Fakultas Psikologi, kepala departemen, dan ketua program studi psikologi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia berkumpul dalam Welcome Dinner Kolokium Khusus AP2TPI XXII Bandung 2026 yang digelar di el Hotel Bandung, Rabu (22/7/2026). Pertemuan tersebut menjadi pembuka rangkaian kolokium yang mengangkat tema “Pendidikan Tinggi Psikologi Berdampak dan Terdampak: Peluang dan Tantangan di Era Generative AI.”

Bacaan Lainnya

Forum yang diikuti perwakilan perguruan tinggi dari Sabang hingga Merauke itu menjadi ruang konsolidasi akademisi psikologi untuk membahas tantangan pendidikan tinggi di tengah perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sekaligus memperkuat kontribusi ilmu psikologi terhadap persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.

Acara dibuka oleh pembawa acara Fauzia Bella dari Universitas Padjadjaran yang mencairkan suasana dengan menyapa ratusan peserta yang hadir.

Ketua Pelaksana Kolokium Khusus AP2TPI XXII, Prof. Dr. Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Si., Psikolog, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momentum memperkuat sinergi antarperguruan tinggi psikologi di Indonesia.

“Alhamdulillah pada malam yang berbahagia ini kita dapat berkumpul. Kita berkumpul di sini bukan sekadar sebagai peserta kolokium, tetapi betul-betul sebagai sebuah keluarga besar pendidikan tinggi psikologi,” ujar Prof. Rahmat dalam sambutannya.

Menurutnya, perkembangan teknologi, khususnya Generative AI, membawa peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu, perguruan tinggi dituntut mampu menjaga kualitas lulusan sekaligus menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan zaman.

Ia menegaskan bahwa AP2TPI memiliki tanggung jawab untuk menjaga mutu pendidikan psikologi agar tetap relevan dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kita bersama-sama menjaga dan terus meningkatkan mutu pendidikan serta pemanfaatannya sebesar-besarnya bagi masyarakat dan bangsa. Tema kolokium kali ini sangat relevan dengan tantangan yang sedang kita hadapi,” katanya.

Prof. Rahmat juga menyampaikan apresiasi kepada 14 perguruan tinggi anggota AP2TPI wilayah Jawa Barat yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan kolokium, di antaranya Universitas Padjadjaran, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Islam Bandung (UNISBA), Universitas Jenderal Achmad Yani, Telkom University, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Islam Nusantara, Universitas Langlangbuana, Universitas Pasundan, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Widyatama, Universitas Nurtanio, Universitas Bhakti Kencana, serta Universitas Kebangsaan Republik Indonesia.

Selain itu, apresiasi diberikan kepada berbagai sponsor dan mitra yang mendukung pelaksanaan kegiatan hingga agenda kolokium berikutnya di Palembang.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Herman Suryatman, M.Si., yang hadir mewakili Gubernur Jawa Barat, menilai peran akademisi psikologi semakin strategis dalam menghadapi berbagai persoalan sosial menjelang Indonesia Emas 2045.

Menurut Herman, terdapat sedikitnya tiga tantangan besar yang saat ini memerlukan perhatian serius, yakni perubahan karakter antar generasi, meningkatnya persoalan kesehatan mental, serta dampak ekonomi yang memicu persoalan psikososial di masyarakat.

Ia mencontohkan meningkatnya angka perceraian dan kasus bunuh diri di kalangan usia muda yang, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari tekanan ekonomi maupun perubahan pola kehidupan masyarakat.

Di samping itu, Herman juga menyoroti fenomena masyarakat yang terjerat pinjaman berbunga tinggi yang dinilai memiliki dampak terhadap kondisi psikologis keluarga.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengajak perguruan tinggi yang tergabung dalam AP2TPI memperkuat kolaborasi melalui pengembangan layanan psikologi yang lebih mudah diakses masyarakat.

“Bagaimana kalau kita bangun klinik psikologi bersama? Akses layanan psikologi tidak harus terpusat di kota. Kita dorong hadir di 27 kabupaten/kota hingga menjangkau 677 kecamatan agar masyarakat lebih mudah memperoleh pendampingan,” kata Herman.

Usulan tersebut mendapat perhatian peserta sebagai salah satu bentuk sinergi antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi dalam memperluas layanan kesehatan mental berbasis keilmuan.

Meski demikian, gagasan tersebut masih berupa ajakan kerja sama dan belum diumumkan sebagai kebijakan resmi yang akan langsung diterapkan. Pelaksanaannya diperkirakan membutuhkan pembahasan lanjutan antara pemerintah daerah, AP2TPI, serta institusi pendidikan tinggi yang terlibat.

Kolokium Khusus AP2TPI XXII Bandung 2026 dijadwalkan berlangsung hingga Jumat (24/7/2026). Sejumlah agenda utama akan membahas penyusunan rekomendasi terkait standar kurikulum, tata kelola pendidikan tinggi psikologi, peningkatan kompetensi lulusan, serta pemanfaatan Generative AI dalam proses pendidikan tanpa mengabaikan aspek etika profesi.

Sebagai organisasi yang menaungi penyelenggara pendidikan tinggi psikologi di Indonesia, AP2TPI diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi acuan pengembangan pendidikan psikologi nasional, sekaligus memperkuat kontribusi disiplin ilmu tersebut dalam menjawab tantangan sosial, kesehatan mental, dan perkembangan teknologi di masa depan.

Acara pembukaan ditutup dengan jamuan makan malam serta pertunjukan seni budaya Jawa Barat sebagai bentuk penyambutan kepada para peserta dari berbagai daerah di Indonesia, sekaligus mempererat silaturahmi antaranggota AP2TPI sebelum memasuki rangkaian sidang dan diskusi selama kolokium berlangsung.

(Dewi)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *