Produktif Menulis dan Raih Sejumlah Hibah, Prima Trisna Aji Terima Penghargaan Buku ISBN Terproduktif UNIMUS 2026

SERGAP.CO.ID

SEMARANG, || Konsistensi mengubah pengalaman akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi karya pengetahuan membawa dosen spesialis Keperawatan Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Prima Trisna Aji, meraih penghargaan Buku ISBN Terproduktif Tahun 2026 dari Universitas Muhammadiyah Semarang.

Bacaan Lainnya

Penghargaan tersebut diserahkan seusai Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026, di halaman Rektorat UNIMUS, Semarang. Wakil Rektor I UNIMUS, Prof. Budi Santosa, menyerahkan langsung penghargaan kepada Prima bersama sejumlah dosen berprestasi lainnya.

Selain kategori produktivitas buku ber-ISBN, UNIMUS juga memberikan apresiasi kepada dosen dengan berbagai capaian akademik lainnya, antara lain produktivitas publikasi ilmiah terindeks Scopus, perolehan hibah, paten, serta berbagai prestasi akademik dan inovasi.

Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa produktivitas akademik dosen kini tidak hanya dapat dipandang dari aktivitas mengajar di ruang kelas. Penelitian, publikasi ilmiah, buku ber-ISBN, kekayaan intelektual, inovasi, hingga pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan yang saling terhubung.

Dari Riset Menjadi Buku, dari Pengetahuan Menjadi Manfaat

Hal menarik dari produktivitas Prima adalah upayanya menempatkan penulisan buku sebagai bagian dari hilirisasi pengetahuan. Gagasan, pengalaman pembelajaran, penelitian, maupun kegiatan pengabdian tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi diarahkan agar dapat dikembangkan menjadi sumber pengetahuan yang lebih mudah diakses mahasiswa, tenaga kesehatan, maupun masyarakat.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu nilai inovatif dalam produktivitas akademik. Buku tidak ditempatkan semata-mata sebagai luaran administratif dosen, melainkan sebagai medium untuk menjembatani hasil riset dan pengalaman profesional dengan kebutuhan pembelajaran serta praktik di lapangan.

Dengan pola tersebut, aktivitas tridarma dapat membentuk sebuah siklus: persoalan di masyarakat melahirkan gagasan penelitian, penelitian menghasilkan pengetahuan, pengetahuan diterjemahkan melalui pembelajaran dan publikasi, kemudian dikembalikan kepada masyarakat melalui pengabdian dan inovasi.

Prima mengaku bersyukur sekaligus tidak menyangka mendapatkan penghargaan tersebut. Menurutnya, aktivitas menulis yang selama ini dilakukan bukan ditujukan untuk mengejar popularitas.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan tidak menyangka mendapatkan penghargaan ini. Selama ini saya berkarya bukan untuk mengejar popularitas ataupun penghargaan. Saya percaya ilmu tidak seharusnya berhenti di ruang kuliah atau tersimpan dalam laporan penelitian. Ilmu harus ditulis, dibagikan, dikembangkan, dan sebisa mungkin memberikan manfaat bagi orang lain,” ujar Prima.

Menurutnya, tantangan akademisi pada era digital bukan hanya menghasilkan banyak informasi, tetapi bagaimana mengubah informasi dan hasil penelitian menjadi pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan serta digunakan kembali.

“Buku bagi saya bukan sekadar mengejar ISBN atau menambah daftar karya. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana sebuah buku memiliki relevansi, lahir dari proses akademik, dan dapat menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dengan kebutuhan mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat,” katanya.

Bangun Ekosistem Riset-Buku-Pengabdian

Produktivitas Prima juga berjalan beriringan dengan aktivitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam satu tahun terakhir, ia berhasil memperoleh sejumlah pendanaan kegiatan akademik, mulai dari hibah penelitian internal, hibah pengabdian kepada masyarakat internal, hibah penelitian RisetMu tingkat pusat, hingga Hibah Dana Indonesiana dari kementerian.

Capaian tersebut memperlihatkan model produktivitas akademik yang tidak berdiri pada satu jenis luaran. Penelitian dapat menjadi sumber materi pembelajaran dan publikasi, pengalaman pengabdian dapat melahirkan persoalan penelitian baru, sedangkan pengetahuan yang dihasilkan dapat dikembangkan kembali melalui buku dan berbagai bentuk inovasi.

Pola integratif tersebut menjadi penting di tengah tuntutan perguruan tinggi untuk tidak sekadar menghasilkan publikasi, tetapi juga mendorong diseminasi dan hilirisasi pengetahuan sehingga hasil kerja akademik memiliki jangkauan manfaat yang lebih luas.

“Saya ingin penelitian tidak selesai setelah laporan dibuat, pengabdian tidak selesai setelah kegiatan ditutup, dan pembelajaran tidak selesai ketika mahasiswa meninggalkan kelas.

Semuanya harus saling terhubung. Dari satu kegiatan akademik harus terbuka peluang lahirnya pengetahuan, buku, publikasi, inovasi, maupun kegiatan lanjutan yang memberikan dampak,” jelas Prima.

Menurut Prima, semangat tersebut juga perlu ditularkan kepada mahasiswa. Mahasiswa perlu dikenalkan sejak dini bahwa menulis bukan sekadar kewajiban menyelesaikan tugas akademik, tetapi merupakan bagian dari kemampuan membangun dan menyebarluaskan pengetahuan.

Inovasi Akademik di Era Digital

Di tengah derasnya perkembangan kecerdasan artifisial dan sumber informasi digital, Prima menilai buku dan publikasi akademik justru menghadapi tantangan baru. Akademisi dituntut menghasilkan karya yang tidak hanya cepat, tetapi memiliki kedalaman, kredibilitas, konteks, serta nilai manfaat.

Karena itu, inovasi dalam publikasi buku tidak selalu berarti menciptakan format yang sepenuhnya baru. Kebaruan juga dapat muncul dari kemampuan akademisi mengintegrasikan temuan riset, pengalaman profesional, kebutuhan pembelajaran, serta persoalan nyata masyarakat menjadi sumber pengetahuan yang relevan.

Bagi bidang keperawatan, pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena perkembangan ilmu kesehatan berlangsung cepat dan membutuhkan penghubung antara bukti ilmiah, pendidikan, serta praktik pelayanan.

Prima berharap karya-karya akademik yang dihasilkan ke depan semakin bergerak ke arah tersebut.

“Target berikutnya bukan sekadar menambah jumlah buku. Saya ingin kualitas, relevansi, dan dampaknya semakin kuat. Karya akademik idealnya dapat menjadi bagian dari solusi, menjadi referensi pembelajaran, sekaligus membuka ruang lahirnya inovasi baru. Jadi orientasinya bergerak dari sekadar produktif menuju produktif dan berdampak,” ujarnya.

UNIMUS Semarang Dorong Budaya Akademik Produktif

Sementara itu, Wakil Rektor I UNIMUS Prof. Budi Santosa menyampaikan selamat dan apresiasi kepada seluruh penerima penghargaan. Menurutnya, capaian dosen dalam berbagai bidang menjadi bagian penting dalam membangun budaya akademik dan meningkatkan kualitas perguruan tinggi.

“Selamat kepada seluruh dosen penerima penghargaan. Prestasi ini merupakan hasil dari konsistensi, kerja keras, dan komitmen dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi. Kami berharap penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus menghasilkan penelitian, publikasi, buku, inovasi, kekayaan intelektual, serta pengabdian yang semakin memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Prof. Budi.

Pemberian penghargaan dalam momentum peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus membawa pesan bahwa kontribusi akademisi terhadap bangsa dapat diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi.

Kemerdekaan dalam konteks pendidikan tinggi tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan memperoleh pendidikan, tetapi juga keberanian melahirkan gagasan, mengembangkan ilmu, menciptakan inovasi, dan mendiseminasikan pengetahuan agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Bagi Prima, penghargaan Buku ISBN Terproduktif Tahun 2026 bukan menjadi titik akhir.

Penghargaan tersebut justru menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas karya dan memperluas dampaknya.

“Penghargaan adalah bonus dari sebuah proses. Yang paling penting bukan seberapa banyak penghargaan yang kita bawa pulang, tetapi seberapa banyak ilmu yang dapat kita tinggalkan dan seberapa luas manfaat karya tersebut bagi orang lain. Selama masih diberi kesempatan, saya ingin terus belajar, menulis, meneliti, dan berkarya,” pungkas Prima.

Penghargaan tersebut pada akhirnya menghadirkan pesan lebih luas mengenai transformasi peran dosen. Dari sekadar pengajar menjadi pengembang pengetahuan, dari sekadar menulis menjadi mendiseminasikan ilmu, serta dari sekadar produktif menghasilkan luaran menuju produktif menghasilkan dampak.

Di tengah kompetisi perguruan tinggi dan percepatan transformasi digital, budaya akademik semacam inilah yang menjadi salah satu modal penting untuk memastikan ilmu pengetahuan tidak hanya tersimpan di kampus, tetapi hadir dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. terhadap usulan pengelolaan air minum secara mandiri.

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *