KOTA CIREBON, || Di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner dan pesatnya perkembangan teknologi, Gado-Gado Ampera, salah satu kuliner legendaris di Kota Cirebon, terus menunjukkan eksistensinya. Berdiri sejak 1992, usaha keluarga tersebut kini mulai memperkuat strategi pemasaran digital melalui pendampingan mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon sebagai bagian dari luaran Mata Kuliah Kewirausahaan.
Pendampingan yang berada di bawah bimbingan Dosen Pendamping Lapangan, Eteh Resa Asyifa, S.Pd., M.Pd., serta Mata Kuliah Kewirausahaan yang diampu Lisa Harry Sulistiyowati, S.E., M.M., bertujuan membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen tanpa meninggalkan identitas usaha yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Gado-Gado Ampera yang berlokasi di Jalan Ampera Raya Selatan Nomor 1, Kelurahan Pekiringan, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, dikenal memiliki cita rasa khas yang membedakannya dari gado-gado pada umumnya. Perpaduan bumbu kacang dengan kuah kari menjadi ciri utama yang tetap dipertahankan sejak pertama kali dirintis oleh Ibu Tati lebih dari tiga dekade lalu.
Kini, usaha tersebut dikelola oleh putrinya, Ibu Meli, yang meneruskan usaha keluarga dengan tetap menjaga resep warisan sekaligus menyesuaikan strategi bisnis menghadapi tantangan zaman. Berkat konsistensi dalam menjaga kualitas bahan baku, cita rasa, serta pelayanan kepada pelanggan, Gado-Gado Ampera mampu menjual lebih dari 150 porsi setiap harinya dan tetap memiliki pelanggan loyal.
Menurut Ibu Meli, menjaga kualitas makanan menjadi komitmen utama dalam mempertahankan kepercayaan pelanggan.
“Kami lebih memilih menjaga kualitas makanan daripada mengurangi porsi. Yang penting pelanggan tetap puas dan mau kembali lagi,” ujarnya.
Meski demikian, perjalanan usaha yang telah berlangsung lebih dari 34 tahun itu tidak terlepas dari berbagai tantangan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan tim mahasiswa UGJ, kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi pelaku usaha.
Alih-alih menaikkan harga secara signifikan atau mengurangi kualitas makanan, pemilik memilih menekan margin keuntungan agar cita rasa dan porsi tetap terjaga. Strategi tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen mempertahankan kepercayaan pelanggan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Selain tekanan biaya produksi, hasil observasi juga menunjukkan bahwa promosi usaha masih didominasi melalui rekomendasi pelanggan dari mulut ke mulut (word of mouth). Cara tersebut terbukti efektif menjaga pelanggan lama, namun dinilai belum optimal untuk memperluas pasar, khususnya di kalangan generasi muda yang lebih banyak mencari referensi kuliner melalui media sosial.
Atas dasar itulah, Gado-Gado Ampera dipilih sebagai objek observasi sekaligus pendampingan kewirausahaan oleh mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.
Berdasarkan hasil identifikasi di lapangan, tim mahasiswa menilai kekuatan utama Gado-Gado Ampera terletak pada kualitas produk, cita rasa yang konsisten, serta loyalitas pelanggan. Namun, terdapat sejumlah aspek yang masih dapat dikembangkan, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital sebagai media promosi dan pengelolaan usaha.
Sebagai bentuk kontribusi nyata kepada pelaku UMKM, mahasiswa memberikan edukasi mengenai pentingnya digital marketing sebagai strategi meningkatkan daya saing. Pendampingan diawali melalui diskusi mengenai perubahan perilaku konsumen dan pentingnya membangun kehadiran usaha di platform digital.
Selanjutnya, pemilik usaha memperoleh pendampingan mengenai penggunaan akun Instagram bisnis, mulai dari penyusunan profil usaha, pembuatan foto dan video produk yang menarik, pemanfaatan fitur Feed, Stories, hingga Reels sebagai media promosi. Tim juga memberikan pemahaman mengenai penggunaan hashtag, lokasi usaha (geotag), serta penyusunan konten yang konsisten agar produk lebih mudah ditemukan oleh calon pelanggan.
Tidak hanya berfokus pada aspek pemasaran, mahasiswa juga memberikan masukan mengenai pentingnya pengelolaan administrasi usaha. Salah satunya melalui pencatatan keuangan yang lebih sistematis dengan memisahkan keuangan pribadi dan keuangan usaha sehingga pemilik dapat memantau arus kas, mengevaluasi perkembangan bisnis, serta menyusun strategi pengembangan secara lebih terukur.
Tim mahasiswa berharap pendampingan tersebut menjadi langkah awal bagi Gado-Gado Ampera untuk memperkuat identitas merek (branding) sekaligus memperluas jangkauan pasar melalui media digital tanpa menghilangkan nilai tradisional yang selama ini menjadi kekuatan utama usaha.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi pengalaman belajar bagi mahasiswa dalam memahami praktik kewirausahaan secara langsung. Melalui observasi, wawancara, hingga pendampingan kepada pelaku UMKM, mahasiswa memperoleh kesempatan mengidentifikasi persoalan riil di lapangan sekaligus menawarkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan UMKM dinilai menjadi salah satu bentuk sinergi yang dapat mendorong penguatan ekonomi lokal. Perguruan tinggi berperan menghadirkan inovasi dan transfer pengetahuan, sementara pelaku usaha memperoleh pendampingan untuk meningkatkan daya saing di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.
Ke depan, Gado-Gado Ampera diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan reputasinya sebagai kuliner legendaris Kota Cirebon, tetapi juga berkembang menjadi UMKM yang adaptif terhadap kemajuan teknologi. Dengan memadukan konsistensi kualitas produk, pelayanan yang baik, serta strategi pemasaran digital yang tepat, usaha keluarga tersebut memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan mempertahankan eksistensinya di tengah kompetisi bisnis kuliner yang semakin dinamis.
Kegiatan observasi dan pendampingan ini menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu berarti mengubah identitas sebuah usaha. Sebaliknya, inovasi dapat diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi untuk memperkuat nilai yang telah dimiliki. Bagi Gado-Gado Ampera, menjaga cita rasa warisan keluarga sekaligus membuka diri terhadap perkembangan digital menjadi langkah strategis agar tetap relevan dan dicintai pelanggan, baik generasi lama maupun generasi baru.
(***)






