SOREANG, || Di balik beskap hitam bordir emas dan mahkota Sunda yang dikenakannya, terpancar beban sekaligus kebanggaan. Minggu sore, 28 Juni 2026, Rd. H. Piar Pratama,S.SH resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Perguruan Pencak Silat Pager Kancana Indonesia untuk masa bakti 2026-2030.
Acara pelantikan di Gedung Moch Toha, Pemkab Bandung, terasa sakral. Layar LED besar di belakang panggung bertuliskan `Penca Asli Gerak Elmu Rasa` mengingatkan semua hadirin: ini bukan sekadar perguruan silat biasa. Pager Kancana adalah warisan hidup yang jejaknya disebut telah ada sejak 1550-an dan kini menginjak usia 93 tahun.
Bagi Piar, jabatan ini lebih dari sekadar struktural. Ia adalah cucu dari Guru Besar pendiri perguruan.
“Ini sebetulnya beban berat bagi saya… Memikulnya bukan hanya nama perguruan saja, tapi nama daerah, nama provinsi dan juga nama negara,” ucapnya usai pelantikan.

Dari Lapangan Porda Hingga Mimpi Olimpiade
Di era kepemimpinannya, Piar tidak ingin Pager Kancana hanya menjadi museum sejarah. Targetnya konkret dan menantang. Jangka pendek, ia mengincar Porda, Porprov, hingga PON. Jangka panjang, matanya mengarah ke dunia.
Ia menyinggung dukungan terhadap program pemerintah untuk mendunia. “Kebetulan kan Pager Kancana juga sudah punya juara dunia, ada Pak Kusna Jaya,” ujarnya, merujuk pada salah satu capaian terbaik perguruan.
Namun prestasi tanding saja tidak cukup. Piar menekankan keseimbangan. Di satu sisi mengejar medali, di sisi lain ia ingin menguatkan akar. “Seni silat tradisinya itu kan sudah diakui UNESCO. Otomatis ini harus kita jaga,” katanya.
Bagi Pager Kancana, tradisi adalah napas. Tugasnya sekarang adalah memastikan napas itu tetap kuat di tengah gempuran zaman.
Kalender Padat Menanti
Tanpa jeda, Ketum baru langsung tancap gas. Ia meminta seluruh anggota bersiap menghadapi rentetan event nasional dari Agustus hingga Desember 2026. “Kita sedang siapkan atlet-atlet terbaik,” tegasnya.

Pager Kancana juga menegaskan posisinya di ekosistem pencak silat nasional: mendukung penuh IPSI untuk prestasi, dan PPSPI untuk pelestarian tradisi. Harapan akhirnya sederhana tapi besar: mengantarkan pencak silat masuk Olimpiade.
Dengan usia hampir seabad di pundaknya, Pager Kancana di bawah nahkoda baru kini bersiap melangkah lebih jauh. Dari Soreang, menuju panggung dunia.
(Dewi) **






