Sergap.com.id
Bandung, – Kolaborasi antara pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM), Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Bank Indonesia dalam mengangkat potensi produk lokal menjadi salah satu sorotan dalam acara Sunda Karya Fest KARTA KREATIF Jawa Barat 2026 yang digelar di Trans Studio Mall pada 27 Juni 2026.
Dalam kegiatan tersebut, potensi industri Sarung Majalaya kembali mendapat perhatian sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi kreatif berbasis nilai dan karya masyarakat lokal.
Salah satu narasumber utama, Bunda Yanti, hadir sebagai pelaku usaha sekaligus penggerak pemberdayaan masyarakat. Ia mengajak para pelaku UKM untuk tidak hanya melihat sebuah produk dari sisi harga, tetapi juga dari nilai kreativitas dan manfaat yang dapat diberikan.
Jangan pernah melihat nilai harga dulu. Yang paling penting bagaimana keberadaan kita bisa bermanfaat. Sandal yang tadinya Rp15.000, kalau kita sentuh dengan karya, bisa jadi Rp50.000, ujar Bunda Yanti.
Mengubah Keterbatasan Menjadi Potensi
Dalam pemaparannya, Bunda Yanti menyoroti pentingnya perubahan pola pikir masyarakat dalam membangun usaha. Menurutnya, banyak orang masih terjebak pada pemikiran keterbatasan ekonomi sehingga memilih jalan pintas, padahal setiap manusia memiliki potensi yang dapat dikembangkan.
Tuhan menciptakan manusia dengan segala potensi dan kekurangan. Jangan lihat kekurangannya, jadikan itu tantangan. Limbah di tangan kita bisa bernilai jual kalau menghasilkan karya yang indah, tegasnya.
Ia juga berpesan kepada para pelaku UKM agar tidak hanya berorientasi pada apa yang akan diperoleh, tetapi juga memikirkan manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
Kuncinya satu, jangan selalu berpikir apa yang kita dapatkan. Berpikirlah apa yang bisa kita berikan. Usaha kita akan berkelanjutan karena niatnya mulia, tuturnya.
Pemberdayaan ABK hingga Lansia
Selain bergerak di bidang ekonomi kreatif, Bunda Yanti juga memiliki perhatian besar terhadap pemberdayaan kelompok rentan. Saat ini, ia membina 15 anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memiliki keterbatasan dalam berbicara dan mendengar, namun tetap mampu menghasilkan karya melalui keterampilan tangan.
Pemberdayaan ABK merupakan upaya memberikan dukungan, pendidikan, pelatihan keterampilan, serta kesempatan agar anak berkebutuhan khusus dapat tumbuh mandiri, percaya diri, dan berperan di tengah masyarakat sesuai kemampuan mereka.
Tidak hanya itu, Bunda Yanti juga mendampingi anak-anak penderita Thalasemia melalui kolaborasi bersama rumah sakit. Ke depan, ia memiliki cita-cita mempertemukan ABK dengan para lansia yang mengalami kesepian agar dapat saling memberikan dukungan dan kebahagiaan.
Ini mimpi saya. Saya yakin akan terwujud selagi Allah memberi napas untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, ungkapnya.
Filosofi Botol Kosong: Berbagi Sebelum Menerima
Menutup sesi pemaparannya, Bunda Yanti menyampaikan filosofi hidup yang selama ini menjadi pegangannya, yakni prinsip Botol Kosong. Ia mengaku tidak pernah menjadikan honor sebagai tujuan utama ketika diundang untuk berbagi pengalaman.
Saya dibayar saya terima, tidak dibayar saya terima. Karena Allah membayar dengan caranya. Kalau dalam setiap langkah kita lakukan apa yang bisa kita berikan, nilainya tidak akan terukur, katanya.
Ia mengibaratkan manusia seperti sebuah botol. Botol yang sudah penuh tidak akan bisa menerima isi baru, sehingga dirinya memilih menjadi botol kosong agar selalu siap menerima kebaikan setelah berbagi kepada sesama.
Jangan takut untuk berbagi. Takutlah kalau kita tidak bisa berbagi. Maju bersama itu jauh lebih baik daripada maju sendiri, pungkas Bunda Yanti.
(Hms/jka)






