JAKARTA, || Meningkatnya jumlah pengguna LRT Jabodebek mendorong PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus mengembangkan layanan pendukung dan memperluas kehadiran tenant di area stasiun. Langkah tersebut dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat urban yang menginginkan layanan transportasi publik yang tidak hanya mengutamakan mobilitas, tetapi juga memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Data KAI menunjukkan tren pertumbuhan pengguna LRT Jabodebek terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2024, layanan ini melayani 21.055.870 pengguna, kemudian meningkat menjadi 28.816.787 pengguna pada 2025. Sementara pada periode Januari hingga Mei 2026, jumlah pengguna telah mencapai 13.211.856 orang, atau naik sekitar 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tidak hanya dari sisi total pengguna, rata-rata jumlah penumpang harian pada hari kerja juga mengalami kenaikan signifikan. Jika pada 2025 rata-rata pengguna harian berada di kisaran 100 ribu orang, maka pada lima bulan pertama 2026 angka tersebut meningkat menjadi sekitar 120 ribu pengguna per hari kerja.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa LRT Jabodebek semakin menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Kondisi itu sekaligus memunculkan kebutuhan baru terhadap layanan pendukung yang mudah diakses di lingkungan stasiun.
Sebagai respons terhadap perkembangan tersebut, KAI mulai mengembangkan berbagai fasilitas pendukung dan menghadirkan tenant yang menyediakan kebutuhan praktis bagi pengguna. Mulai dari makanan dan minuman, layanan ritel, hingga berbagai kebutuhan harian lainnya yang dapat diakses sebelum maupun setelah perjalanan.
Manager Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika, mengatakan pengembangan layanan pendukung dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan pengguna transportasi publik.
“Pertumbuhan jumlah pengguna menunjukkan bahwa LRT Jabodebek semakin menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Karena itu, kami terus menghadirkan layanan pendukung yang dapat membantu pengguna memenuhi kebutuhannya secara lebih praktis selama berada di area stasiun maupun saat menggunakan LRT Jabodebek,” ujarnya.
Menurut Radhitya, konsep pengembangan stasiun saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai titik keberangkatan dan kedatangan penumpang. Stasiun juga diarahkan menjadi ruang publik yang mampu menunjang berbagai aktivitas masyarakat dengan menyediakan layanan yang lebih lengkap dan terintegrasi.
“KAI ingin stasiun tidak hanya berfungsi sebagai titik keberangkatan dan kedatangan, tetapi juga menjadi ruang yang mampu mendukung kebutuhan pengguna selama beraktivitas. Dengan semakin lengkapnya layanan yang tersedia, pengguna dapat merasakan manfaat lebih dari penggunaan transportasi publik,” tambahnya.
Di sisi lain, pengembangan tenant dan fasilitas komersial di area stasiun juga menjadi strategi KAI untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan ruang publik transportasi. Namun, sejumlah pengguna menilai bahwa peningkatan fasilitas komersial perlu tetap diimbangi dengan fokus pada aspek utama layanan transportasi, seperti ketepatan waktu, kenyamanan perjalanan, kebersihan, serta kemudahan akses antarmoda.
Menanggapi kebutuhan tersebut, KAI menegaskan bahwa pengembangan layanan pendukung dilakukan sebagai pelengkap, bukan pengganti fungsi utama transportasi publik. Perusahaan memastikan peningkatan fasilitas komersial tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga kualitas operasional dan pelayanan kepada pengguna.
Ke depan, KAI akan terus membuka peluang kerja sama dengan berbagai mitra usaha untuk membangun ekosistem komersial yang terintegrasi dengan layanan transportasi. Langkah ini diharapkan dapat menjadikan stasiun LRT Jabodebek sebagai ruang publik yang tidak hanya mendukung perpindahan orang, tetapi juga mampu memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat modern secara lebih praktis, nyaman, dan efisien.
(Red)






